Be My Home

Be My Home
Ziarah



"Ayo bos, kita ziarah dulu." ajak Lia. Terlihat semburat kesal yang menaungi wajah Adam.


"Hmm..." Lelaki itu berdehem memastikan Lia tahu dia sedang kesal. Gadis itu mengalihkan pandangan menjauhi Adam. Dia tahu alasan kekesalan Bosnya. Adam kesal karena Lia sudah mengingkari janji. Janji yang menurut Adam sebenarnya tidak penting. Namun, ini jadi penting karena Lia selalu menghindar jika ditagih.


"Pakai kemeja Bos! Kita harus menghargai leluhur di kampung ini." pesan Lia menasehati. Dia berpikir Adam tidak akan berani menggangunya selama dia masih di desa. Keluarga Lia kan banyak di sini.


"Ini buku Yasin. Nanti kita Yasinan sebentar di pemakaman." Lia memberikan sebuah buku kecil pada Adam.


Tatapan mata Adam beradu dengan Lia. Kini, tatapan itu tampak mengintimidasi dan sangat kuat menekan Lia. Gadis itu seperti tertindih batu besar hanya dengan melihat bola mata Adam. Sesak napas Lia kumat setiap melihat tatapan mata itu.


"Bos, tidak apa-apa kan?"


"Kau sudah janji tadi. Apa kau lupa?"


"Bukan begitu. Nanti saja ya, Bos!" Adam memejamkan mata jengah karena gadis itu selalu menghindar.


"Ini sudah lebih dari dua jam dan sudah 10 kali kau bilang nanti. Jadi kapan?" lanjut Adam tidak sabaran. Niat Adam hanya ingin menggoda Lia. Dia ingin membuat gadis itu terpojok. Raut wajah ketakutan yang Lia tampakkan selalu membuat Adam rindu.


"Tadi aku mbantuin bunda nyiapin kenduri buat nanti." alasan Lia. Banyak Alasan pokoknya yang penting keinginan Adam gagal.


"Hmm...."


"Ayo bos, ini aku siapkan kemeja dan celananya. Aku tunggu di luar." Lia mengeluarkan baju dan celana yang formal untuk dikenakan Adam.


"Di sini saja!" goda Adam berbisik di telinga Lia. Lia meremang karena hembusan napas Adam bisa membuat seluruh tubuhnya merinding. Gadis itu segera pergi keluar meninggalkan Adam yang tertawa terkekeh. Adam menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dia bisa sangat usil pada gadis seperti Lia.


Lia tidak cantik. Dia hanya sedikit imut dan polos. Wajahnya kadang tanpa make up atau mungkin dia hanya memoles bedak dan lipstik warna natural. Sebenarnya, dia cukup cantik jika tidak ada pembanding seperti Park Shin He.


Adam keluar dari kamar kemudian bergabung dengan Uwa Aryan dan Lia. Uwa jauh-jauh datang mengantar April pulang dan sekaligus mengantar Lia berziarah nanti.


Uwa sering datang ke rumah untuk berbincang bersama ayahnya Lia. Gadis yang pulang bersama Adam tersenyum lebar saat bertemu adiknya. April masih SMA kelas 1. Dia lebih tinggi dari Lia dan badannya juga lebih gemuk dari Lia.


"Hari ini kamu pulang cepat?" tanya Lia dengan senyum mengembang pada adik satu-satunya.


"Iya kak."


Adam duduk di sebelah Uwa Aryan dan berbincang dengan beliau. April mengkode agar memberi tahu siapa lelaki yang baru saja keluar.


"April ini bos... eh... Mas Adam. Dia teman kakak kerja."


April hanya mengganggukkan kepala. Gadis itu masih ragu untuk mengulurkan tangan karena wajah jutek Adam.


"Sudah Siap? Kita berangkat sebelum sore." ajak uwa Aryan sambil membawa air berisi bunga.


Mereka berempat pergi untuk berziarah. April ingin ikut berziarah. Gadis itu juga ingin berkunjung.


Lia berjalan bersama April dan Adam berjalan di samping uwa Aryan.


"Dulu di sini banyak sekali babi hutan. Hutan- hutan kemudian ditebangi dan diganti pohon pinus." tutur uwa memberi tahu Adam.


"Kenapa paman?"


"Agar masyarakat juga mendapat manfaat dari hutan. Mereka bisa mengambil getah Pinus dan menjualnya ke koperasi."


" Di sini jarang sekali ada pemuda."


"Mereka merantau ke kota. Mencari pekerjaan yang bisa meningkatkan kehidupan mereka. Kalau di desa mereka hanya bisa bertani dan beternak."


"Bukannya bertani dan berternak juga sudah bagus."


"Pertanian di sini tidak bisa berkembang dengan baik. Kadang saat musih panen harga padi atau ketela pohon anjlok. Kami juga punya sapi dan kambing tapi kami hanya bisa menjual sesuai harga yang diinginkan pengepul." miris ucapan uwa Aryan.


"Jadi itulah mengapa penduduk perdesaan sulit berkembang." simpul Adam pada uwa. Uwa hanya mengangguk membenarkan semua ucapan Adam.


"Sejak banyak pemuda yang kembali ke kota mereka jadi punya pengetahuan untuk berternak dan bertani yang baik."


"Jadi setelah sukses mereka kembali ke desanya?" tanya Adam ingin tahu.


"Tidak semua. Ada juga yang membangun desa dengan uang yang di dapat di kota. Mereka yang tidak bisa berkontribusi langsung memberikan sebagian uangnya untuk membangun jalan, sarana ibadah atau insfratruktur lainnya." tutur uwa panjang lebar.


"Itu bangunan apa paman?" Adam menunjuk babguna mirip rumah yang kecil berjajar rapi di atas bukit.


"Itu perumahan masa depan."


"Di sini ada perumahan?"


"Ada."


Lia dan April cekikikan mendengar apa yang di ucapkan uwa Aryan. Adam tidak tahu apa itu perumahan masa depan.


"Alhamdulillah kita sampai." Semua orang mengucapkan salam sebelum memasuki tempat yang dituju. Mereka berjalan tanpa alas kaki karena tidak diperbolehkan memasuki tempat ini dengan alas kaki.


"Bos harus senyum tidak boleh cemberut." goda Lia menampakkan deretan gigi putihnya.


Adam mendengus kesal. Perumahan masa depan yang di maksud uwa Aryan adalah tempat mereka sekarang berada. Mereka menuju bangunan yang berisi keluarga Lia. Nenek dan kakek Lia dikebumikan di sini juga beberapa kerabat yang telah meninggal.


"Kita baca Yasin dulu." ajak uwa Aryan. mereka berjongkok di depan bangunan yang berisi kayu nisan.


Uwa Aryan memimpin doa. Semua orang membawa buku Yasin masing-masing kecuali Uwa. Beliau sudah hafal surat Yasin. Uwa Aryan adalah ustad di kampung. Saat sore hari Uwa mengajar Al Qur'an untuk anak-anak. Orang kampung yang ingin merantau tidak akan diijinkan uwa jika belum khatam Al Qur'an.


Semua terlarut dalam suasana penuh hikmat. Lia bersedih saat mengingat almarhum neneknya yang sangat menyayanginya. Beliau selalu menantikan kepulangan Lia. Gadis itu merasa dia sangat dimanjakan oleh neneknya.


Lia menitipkan air mata begitu pula April. Adam terlihat kesulitan membaca huruf Al Qur'an. Dia berusaha mendengarkan dan mengikuti bacaan saat ketiga orang itu membaca.


Mata Adam menelisik tempat yang di sebut perumahan masa depan. Jujur ini memang perumahan masa depan. Tempat semua akan berakhir saat mereka menutup mata. Tempat terakhir dari perjalanan kehidupan manusia.


Pemakaman


Adam melihat papan kayu yang kecil berada di ditiap bangunan kecil. Setiap bangunan dilengkapi dengan papan kecil yang berisi nama anggota keluarga.


"Paman, bangunan kecil ini apa muat untuk menguburkan jenazah?" tanya Adam tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya.


"Sebenarnya bangunan ini hanya formalitas. Bangunan ini menyatakan bahwa semua yang ada di situ adalah satu keluarga. Mereka yang telah meninggal di kebumikan tepat di tempat kita berpijak." Adam terhenyak ingin menghindar tapi tidak mungkin.


Adam bergidik ngeri mendengar penjelasan uwa Aryan yang datar. Sepertinya Uwanya Lia tidak punya rasa takut sedikitpun.


Uwa Aryan juga menjelaskan makam pendiri kampung di sini. Beliau pernah melawan penjajah Belanda.


Pendiri kampung ini dulu bisa mengalihkan hujan. Saat beliau lewat hujan akan bergeser dan hanya awan mendung yang menaungi. Semua yang pernah datang ke kampung ini wajib mengunjunginya dan mendoakannya sebagai bentuk terima kasih.


"Jadi kapan nak Adam akan pulang?"uwa membuka pembicaraan dengan Adam.


"Nanti paman."


Lia terhenyak dengan penuturan Adam yang spontan. Dia merasa sangat bahagia bisa bersama Adam di kampung ini. Namun, sebentar lagi bosnya akan pergi.


"Cepat sekali. Tidak mau main dulu di tempat ini."


"Adam harus bekerja. Tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan." kilah Adam.


"Iya paman tahu."


"Kak, cowok itu pacar kakak?" bisik April ditelinga Lia. April penasaran dengan lelaki tampan yang diajak Lia pulang.


"Ish, bukan. Dia teman. Jangan bicara sembarangan April." sangkal Lia.


April tertawa terkekeh melihat Lia salah tingkah. Kakaknya sepertinya naksir dengan pria itu. Adam bertubuh tinggi besar. Dia juga tampan wajar jika Adam menarik di mata wanita.


"Assalamualaikum!" ucap uwa Aryan saat sampai di rumah


"Sudah pulang. Cuci kaki dan tangan! Kita akan makan bersama."Ajak Ayah Burhan.


"Apalagi ini Lia?" bisik Adam di telinga Lia. Dia mulai bisa. dengan semua peraturan dan adat istiadat di desa Lia.


"Setelah pulang ziarah. Kita akan makan bersama nasi kenduri bos. Nanti dihabiskan ya!" ledek Lia pada Adam. Dia tersenyum simpul medapati Adam yang mulai kesal.


"Apa ada adat yang mewajibkan seseorang harus menghabiskan makanan?" guman Adam dalam hati.


******


Lia membantu Adam merapikan pakaian.


"Pakaianmu yang tadi kucuci belum kering, bos."


"Hmm."


Lia tahu maksud dari deheman Adam. Lelaki itu sedang kesal. Karena dari tadi Lia selalu menghindar saat Adam meminta ciuman.


Mencium Adam adalah hal yang sulit Lia kabulkan. Mereka tidak punya hubungan khusus. Mereka bukan sepasang kekasih atau suami istri. Kenapa Lia harus menurutinya?


Adam Sibuk bermain dengan gawainya. Apa yang Adam bisa lakukan dengan gawainya kalau sinyal saja tidak ada. Beruntung desa ini sudah ada listrik walaupun setiap KK hanya mendapat berapa Watt.


Lebih baik sedikit daripada tidak ada sama sekali.


"Kopermu sudah siap bos. Em Bos..." Lia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Hati-hati!" keluar saja dari mulut Lia. Dia sedikit takut jika bosnya harus pulang sendirian. Perjalanan pulang sangat jauh. Dia tidak tega jika Adam akan pulang sendirian.


"Kau tidak pulang bersamaku?" ucap Adam penuh harap. Manik matanya menaut pada Lia.


"Jaga dirimu bos!"


Adam menundukkan pandangan dan berfokus pada gawainya. Ada rasa sedih bergelayut di hatinya. Beberapa hari bersama Lia bisa membuatnya merasa berbeda.


Cup


Ciuman di pipi kanan Adam membuat lelaki itu terkejut. Adam menatap Lia yang berdiri di depannya. Adam duduk di tepi ranjang merasa waktu berhenti beberapa saat.


Dia meraih pinggang Lia dan mendudukkan gadis itu di satu pahanya.


"Lepas! April atau bunda bisa ke sini." ronta gadis itu.


"Hutangmu belum lunas. Kau salah membayarnya." Adam menunjuk bibirnya sebagai tanda di situ seharusnya Lia menciumnya.


"Tidak bisa."


"Kau sudah janji. Kalau begitu pulang lah bersamaku." ajak Adam penuh harap.


"Itu juga tidak bisa." tolak Lia.


"Aku bisa memberimu pinjaman kalau begitu." Adam berniat mencium Lia di bibirnya.


Tak...tak..tak..


Suara langkah kaki membuat Lia buru-buru bangkit dan keluar dari kamar Adam.


"Bunda dan Ayah mencarimu. Ada orang mencarimu." Lia menautkan dua alisnya saat April berucap.


Siapa orang yang tahu kepulangan Lia dan siapa yang mencarinya?


Adam mendengar perkataan April dan masa bodoh dengan urusan Lia. Lelaki itu berganti pakaian.


*******


Di Ruang Tamu


"Jadi maksud kedatangan saya untuk melamar Lia."


Lia tertegun. Paman Budi adalah tetangga Lia di kota. Dia dan ayah bersahabat. Memang paman Budi adalah duda. Apa benar dia ingin melamar Lia.


******


Hai.. Hai...


Tinggalkan jejak ya!


Berikan semangatmu!