Be My Home

Be My Home
Pulang



"Bagaimana para investor?"


"Masih aman. Penundaan kemarin tidak berimbas pada penanaman modal mereka di perusahaan kita." jelas pak Wo tanpa ragu.


Ada perusahaan yang ingin mengundang Bos secara pribadi."


"Maksudnya?" Adam mengernyitkan dahi bingung dengan maksud pengawalnya.


"Pak Alex ingin anda makan malam di rumahnya dan membicarakan hal yang pribadi."


"Pribadi seperti apa?"


"Sepertinya dia ingin mengenalkan putrinya pada anda."


"Putrinya? Apa ada keuntungan untukku?" Adam belum paham dengan arah pembicaraan ini.


"Kelihatannya mereka memiliki masalah finansial."


"Lalu kenapa aku harus terlibat?"


"Karena perusahaan pak Alex sangat strategis. Kita merupakan perusahaan baru di bidang ini. Perusahaannya bisa memberikan akses mudah untuk ekspansi ke berbagai sektor."


"Atur saja bagaimana menurutmu. Siapa nama putrinya?"


"Namanya Amelina. Dia satu kampus dengan nona Lia. Mereka pernah bersahabat." sahut pak Wo menjelaskan.


"Mantan pacar nona Lia sekarang bersamanya. Nona Lia pernah berpacaran dengan pria itu selama 2 tahun. Banyak yang bilang mereka pasangan yang serasi. Tuan Alex sepertinya tidak menyukai pacar nona Amel karena perusahaan keluarganya tidak sebesar punya bos." sambung pak Wo.


"Matrealistis." ucap Adam meremehkan.


"Kenapa bisa putus?" sambung Adam penasaran.


"Keluarga nona Lia jatuh bangkrut. Keluarga pria itu tidak suka. Nona Lia memutuskan mengakhiri hubungan mereka karena tekanan dari keluarga pacarnya."


"Kau menjelaskan panjang lebar. Apa keuntunganku mengetahui itu semua?" ucap Adam malas.


"Pria itu, Robert, mungkin bisa membantu kita memulihkan kondisi nona Lia. Mereka dulu dekat dan kemungkinan mereka masih saling cinta. Kita bisa memanfaatkannya." jelas pak Wo dengan wajah serius.


Adam berfikir keras mengenai ucapan pak Wo yang masuk akal.


"Apa kau bisa mengaturnya?" ucap Adam penuh harap.


"Tentu."


*******


"Tuan Adam! Selamat datang di rumah saya. silahkan duduk. Kita makan dulu. Istriku dan anak perempuanku yang menyiapkan semuanya." ucap tuan rumah beramah-tamah.


"Trima kasih atas undangannya Tuan Alex. Tidak mungkin saya melewatkan kesempatan yang berharga ini." balas Adam memuji.


"Saya tersanjung atas pujian pak Adam. Amelina akan menemani bapak berkeliling rumah." Adam mengganggukkan kepala dan membalas senyum Alex. Sebenarnya dia malas jika harus menampilkan muka palsu seperti ini.


Adam berkeliling rumah ditemani Amelina. Mereka bercakap-cakap seputar rumah.


Amelina terpana melihat Adam. Amelina berusaha menarik perhatian Adam. Dia menyentuh Adam beberapa kali. Adam membiarkannya dan tak merespon. Dia merasa jengah berlama-lama dengan gadis agresif dan naif seperti Amelina.


Di sisi yang lain, Pak Wo menemui Albert dan mengajak Albert bertemu Lia. Dia menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Lia yang tidak mau bicara. Pak Wo masih menutupi kejadian sebenarnya. Bagaimanapun dia harus melindungi bosnya.


Saat Albert bertemu dengan Lia. Albert sangat bahagia hatinya berbunga-bunga. Lelaki itu merindukan pujaan hatinya.


"Lia, Liliputku. Kenapa kau bisa begini?" Robert terus memandang Lia. Dia terkejut melihat Lia yang diam tak bersuara. Saat Robert menggenggam tangannya, Lia tidak menoleh padanya. Robert sedih dengan keadaan Lia.


Laki-laki itu meminta ijin pada pak Wo untuk mengajak Lia berkeliling rumah.


Robert mengandeng tangan Lia. Dia merindukan hari-hari bersama Lia. Rasanya tidak percaya jika saat ini dia bisa berdekatan lagi dengan Lia.


Saat Lia memutuskan hubungan mereka. Hati Robert hancur. Dunianya terasa hampa. Lia tidak ingin pacaran backstreet sedangkan Robert tidak bisa melawan kehendak orang tuanya. Mereka pun sepakat berpisah. Walau begitu Robert masih memendam cintanya hanya pada Lia.


Tak berapa lama Amel hadir mengisi kekosongan hati Robert. Tak dapat dia pungkiri, Amel juga membawa warna baru bagi harinya. Sayangnya hati tak dapat berbohong, hanya Lia yang bisa menghiasi harinya. Amel hanya kerlip kecil yang suatu saat akan pudar.


"Liliput, aku senang kau bisa kembali ke rumahmu." ucap Robert penuh kerinduan.


Mereka duduk di kursi dekat kolam renang. Robert tak ada hentinya tersenyum memandang Lia. Dia mengelus rambut gadis itu seperti waktu dulu.


"Apa kita bisa bersama lagi?" Tatapan Lia masih kosong. Dia tetap tak mengindahkan ucapan Robert.


********


Drtt.... Drtt...


"Boleh saya mengangkat telepon sebentar?" ijin Adam di sela-sela jamuan makan malam.


"Silahkan Tuan Adam. Jangan sungkan kita sudah seperti keluarga." Adam tersenyum kecut menanggapi ucapan Alex yang terlalu berharap.


Adam menjauh meninggalkan keluarga tersebut untuk menerima panggilan.


"Apa saja kerja kalian? Menjaga satu orang saja tidak bisa. Cari dia bagaimanapun caranya!" Adam mengeraskan rahangnya. Dia geram sekaligus gelisah.


Adam berjalan dengan malas menuju keluarga tersebut.


"Apa ada masalah tuan Adam? Anda kelihatan kurang bersemangat." seloroh pak Alex berusaha ramah.


"Ada hal yang harus saya selesaikan. Maaf, jika makan malam ini sedikit terganggu." ucap Adam berbasa-basi.


"Jangan kuatir kita bisa membuat rencana lagi!" Alex mengode Amel agar mengantarkan Adam ke depan.


Adam berlenggang pergi meninggalkan Amel yang mencoba mengejarnya.


"Maaf, Ayah! Aku tidak bisa mengikuti jalannya!"


"Sudahlah! Pastikan kau memiliki cara untuk mendekatinya!"


" Aku akan berusaha." janji Amel.


"Berusaha saja tidak cukup. Kau harus bisa melakukannya." ucap Alex sangat serius.


"Tapi yah Amel kan sudah punya Robert. Untuk apa mengejar tuan Adam?"


"Hanya dia yang bisa membantu kita." ucap Alex lemah. Alex menerawang ke langit-langit rumahnya.


********


"Lia, Apa kau tahu? Kamu cantik sayang." rayu seorang pria.


"Tidak apa-apa kalau kau hanya diam. Kita akan bersama malam ini. Aku sangat merindukanmu." goda Robert tak kuasa menahan hasrat.


Robert mulai mengelus pipi Lia. Pelan-pelan dia mengecup pipi Lia. Lia tersentak. Dia merubah raut wajahnya.


Lia memandang tajam laki-laki di sebelahnya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Tak ada suara yang terucap. Lia beringsut menjauh. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan berteriak histeris.


Lia meronta-ronta dengan tangis terisak. Robert berdiri. Dia kebingungan dengan sikap Lia yang tiba-tiba histeris. Apa yang terjadi dengannya? Saat mereka bersama dulu, Lia sangat bahagia. Kenapa sekarang berubah?


"Lia ada apa denganmu?" Lia masih tetap meronta. Robert berusaha menutup mulut Lia dengan tangannya. Robert kehabisan tenaga menutup mulut Lia. Robert merasa Lia saat ini bukan Lia yang dia kenal. Tenaga Lia sangat kuat. Robert kalah kekuatan mengimbangi tubuh Lia yang terus meronta.


Plakk...


Lelaki itu menampar Pujaan hatinya. Dia merasa kehilangan kontrol emosinya. Robert menyesal tapi sudah terjadi. Pipi Lia berbekas merah. Lelaki itu berusaha mendekati Lia. Tapi Lia semakin terlihat ketakutan.


"Lia, aku Robert. Ada apa denganmu? Aku mencintaimu." ucap Robert berusaha membuat Lia tenang.


"Lia, jangan menangis. Diamlah!" Robert menjadi panik melihat Lia tak mau diam.


Tok...Tok...


Suara ketukan pintu membuat Robert cemas. Dia takut suara Lia terdengar di luar kamar. Dia takut petugas keamanan hotel mendatangi kamarnya. Bagaimana jika polisi juga ikut datang?


Ceklek


Lelaki itu membuka pintu dengan pelan. Dia bermaksud mengintip. Seseorang dari luar mendorong pintu itu dengan kuat. Robert terpental ke belakang. Dia meringis kesakitan.


"Di mana Lia?" tanya seorang pria dengan tegas.


"Aku tidak bersamanya." bohong Robert.


Adam mengkode para bodyguardnya untuk memaksa Robert mengaku.


Kedua bodyguardnya memegang pergelangan tangan Robert sementara yang lain bersiap memukul.


Beberapa pukulan sudah dilayangkan bodyguardnya. Pipi dan pelipis Robert sudah kemerahan. Bibir Robert juga mengeluarkan darah sedikit. Lelaki itu tampak kewalahan. Dia kehabisan tenaga dan tidak mampu melawan.


"Katakan!"


"Dia di kamar mandi." jawab Robert ketakutan.


Adam membuka pintu kamar mandi. Dia panik dan khawatir. Lia tergolek lemah tak sadarkan diri di bathtub.


"Apa yang sudah kau lakukan?" ucap Adam emosi mengendong Lia ala Bridal Style.


"Aku tidak sengaja memukulnya."


"Pukuli dia!" titah Adam.


*****


"Lia, Bangun!"


Lia membuka kedua matanya. Dia terbelalak dan spontan berteriak histeris.


"Aaa.... Menjauh!" teriak Lia.


"Lia, Aku Adam. Jangan takut! Aku di sini."


"Pergi! Pergi!"


"Lia!"


Adam tidak tahu apa yang terjadi. Dia memeluk Lia yang terus meronta. Ada rasa bersalah karena tidak bisa menjaga gadis itu. Bukannya membaik setelah bertemu Robert tapi keadaan Lia semakin memburuk. Dia merasa kecolongan.


Robert ternyata mengambil kesempatan dengan kondisi Lia. Dia malah membawa Lia ke hotel. Adam tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya menyadari pipi Lia merah seperti bekas tamparan. Saat menemukan gadis itu, dia pingsan dengan tubuh yang lemah.


Bagaimana bisa seorang lelaki memukul wanita? Tak terasa hati Adam menjadi tersentuh. Mata Adam tergenang. Rasanya seperti sesak di dada. Dia tidak terima ada orang yang menganiaya wanita lemah.


Bagaimana bisa Adam tergetar? Lia bahkan baru dia kenal. Dia tidak tega melihat gadis yang sedang dipeluknya menderita. Terlebih saat ini Lia ada di bawah pengawasannya.


Waktu Lia di culik Adam tidak merasa bersalah. Entah mengapa mendengar Robert menculik Lia, dia menjadi sangat marah. Apalagi setelah melihat Robert menganiaya gadis itu Adam merasa tidak rela.


Tenaga Lia semakin melemah. Dia tidak meronta-ronta seperti tadi. Napasnya sekarang lebih teratur walau terdengar jelas detak jantungnya yang memompa dengan cepat. Itu wajar. Lia ketakutan.


"Apa kau sudah tenang? Kita bisa jadi teman. Aku akan menjadi temanmu." ucap Adam menenangkan Lia. Terasa samar tapi Adam meyakini Lia mengangguk.


Adam mengurai pelukannya. Mereka saling menjauhkan tubuh mereka. Adam memandang Lia memastikan gadis itu baik-baik saja.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Adam penuh perhatian.


"Aku ingin pulang." Adam tersentak dengan kata "pulang". Ini rumah Lia. Ini pernah jadi rumah Lia. Kenapa gadis itu ingin pulang? Apakah dia ingin bertemu keluarganya?


"Apa ada yang lain? Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita juga bisa pergi ke berbagai tempat atau membeli barang yang kau inginkan." tawar Adam mencoba memberi alternatif.


"Aku hanya ingin pulang." jawab Lia menatap Adam penuh permohonan.


"Baiklah!" Adam mengganggukkan kepalanya. Kedua pasang manik mata mereka saling bertaut. Dia memegang kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


"Aku akan mengantarmu pulang." ucapnya pasti.


*****


"Kapan kau akan mengantarku pulang?" Lia mengunyah makanan yang disuapi Adam.


Adam berusaha cuek dengan pertanyaan Lia.


"Nanti." jawabnya asal.


"Nanti kapan? Apa kau bohong?"


"Aku tidak bohong."


"Lalu?"


"Lihat kondisimu yang tidak memungkinkan. Kau masih lemah dan belum cukup kuat untuk melakukan perjalanan jauh." jelas Adam sambil menyuapi Lia. Gadis itu menolak makan setelah Adam terlalu banyak beralasan.


"Apalagi rumahmu tidak di lewati tol. Kita akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan kondisi seperti ini bagaimana kau bisa pulang. Apa kau yakin kau akan selamat sampai rumah?" sambung Adam terlihat tidak sabar dengan tingkah Lia.


"Kalau begitu biarkan aku pulang sendiri. Aku bisa pulang sendiri. Antarkan saja aku ke terminal." Pinta gadis itu tidak sabar.


"Lia sudah cukup hentikan rengekanmu. Saat ini kau belum sehat dan kau juga masih magang. Bosmu selalu meneleponku menanyakan kapan kau masuk kerja?" ucap Adam sedikit meninggi.


" Kau kenal bosku?" tanya Lia heran.


"Itu tidak penting. Kita akan berkonsultasi dengan dokter Sherly tentang kondisimu. Kalau dia mengijinkanmu ...." Adam ragu melanjutkan ucapannya.


"Kau akan segera pulang." sambungnya sedikit Khawatir.


*******


"Bagaimana? Apa ada kabar terbaru?" tanya seorang wanita yang mengamati kuku-kukunya.


"Nona Lia sudah membaik. Dia ingin pulang ke rumahnya di desa." jawab pak Wo.


"Itu bagus. Lalu ada kabar lain?"


"Tidak ada."


"Pak Wo kau bisa membohongi Adam tapi tidak denganku. Katakan!" tekan Marisa.


"Nona Davina akan kembali ke Indonesia." jawab pak Wo dengan nada lemah.


"Kenapa?"


"Tuan.." Pak Wo takut melanjutkan perkataannya yang mungkin akan menyinggung Marisa.


"Tuan Satya kenapa?" sambung Marisa paham siapa yang dimaksud pak Wo.


"Dia jatuh bangkrut. Sepertinya mereka akan mengakhiri hubungannya."


"Wow... Hubungan terlarang memang tidak bisa langgeng. Akhirnya, Tuhan menjawab doa-doaku." ucap Marisa sarkas. Dia mengepalkan tangannya. Dia merasa jengkel. Marisa mendongakkan kepala mensejajarkan wajahnya dengan pak Wo.


"Pak Wo, aku ingin Adam segera menikah sebelum Davina pulang." sambungnya.


"Dengan siapa nona?" tanya pak Wo keheranan.


Marisa tersenyum melihat raut wajah pak Wo yang kebingungan. Adam tidak punya kekasih jadi siapa yang akan menikah dengannya.


*****


Tinggalkan jejak!


Thank you!