Be My Home

Be My Home
Sepi



"Sebaiknya kalian menikah." ucap nenek Rahmi memulai pembicaraan.


"Kalian semua salah paham." sanggah Adam. Lelaki itu meremas kasar rambutnya.


Marisa tidak bersuara dia hanya diam dengan kedua bola mata bermain melirik Adam dan juga Lia.


Kakek dan nenek memasang wajah serius. Hal ini tidak baik jika diteruskan. Marisa sesungguhnya khawatir jika hipertensi nenek akan kumat. Namun, Adam memang keras kepala.


"Kalian harus menikah." tegas Kakek Abdul.


"Aku tidak mau." Adam bersikeras menolak. Dia masih bersedekap dan menggelengkan kepalanya.


Lia tertunduk menahan malu. Setelah yang terjadi, apa maksud Adam dengan tidak mau menikahinya? Lia merasa seperti ini wanita yang tertindas dan tidak diakui. Ada rasa nyeri di dada Lia. Apa Marisa berfikir Lia wanita murahan?


Setelah perdebatan yang panjang Marisa membuka suara.


"Kalau begitu kalian harus berpisah." perkataan Marisa membuat dua sejoli membelalakkan matanya. Lia tercengang dan tak bisa berucap apapun. Namun, ucapan Marisa benar. Dia dan Adam tak punya hubungan. Tidak ada alasan yang jelas untuk bersama.


Dengan wajah datar Adam tetap kaget mendengar respon Marisa. Apa yang diinginkan wanita jahat itu? Berpisah? Apa Marisa bisa memisahkan mereka? Apa yang akan wanita licik itu lakukan?


"Lia, tidak akan pergi dari sini. Dia akan tetap tinggal disini." cegah Adam.


Lia merasa bingung dengan sikap Adam. Tidak mau menikahi Lia tapi juga tidak mau melepaskan. Apa tujuan Adam?


Adam menggenggam tangan Lia dengan erat. Lia balas menatap Adam mencari penjelasan dibalik sikapnya.


"Kenapa tidak kau tanyakan saja apa keinginan Lia?" Marisa melontarkan pertanyaan yang membuat Lia menoleh ke arah Marisa.


"Lia, Apa kau ingin pergi bersama mereka?" tanya Adam dengan wajah serius.


Lia mengarahkan pandangannya pada Marisa dan kemudian pada Adam. Tatapan Adam mengisyaratkan dia untuk jangan pergi.


"Saya tidak bisa...."


************


"Syukurlah kau memilih pilihan yang tepat. Sebagai wanita kita harus punya sikap menghadapi lelaki." ujar Marisa membenarkan pilihan Lia. Dia merasa menang terlebih dari Adam. Ada rasa lega membuat Adam tak bisa berkutik. Rasanya sangat puas dan luar biasa.


"Bu Marisa, boleh saya bertanya?" Dengan ragu gadis itu menanyakan apa yang membuat hatinya heran


Marisa menggangguk dengan senyum manisnya.


"Apa ibu ada hubungan dengan pak Adam?"


"Ada."jawab Marisa singkat.


"Hubungan seperti apa?"


"Sebuah hubungan yang sulit kau bayangkan." Marisa membuat Lia tak mampu mengajukan pertanyaan lagi. Jawaban Marisa yang mengambang tidak bisa menuntaskan rasa penasaran Lia.


"Istirahatlah! Ini kamarmu. Apa kakimu sudah diperiksa?"


"Tadi sudah diurut. Ibu Marisa boleh.... maaf tidak jadi."


"Jangan sungkan! Anggap saya aku temanmu!"


"Handphoneku rusak. Saya ingin menghubungi orang tua. Saya takut mereka akan khawatir."


"Ini." Marisa menyodorkan handphonenya. Lia ragu menerima Handphone mahal Marisa. Apa wanita ini orang yang baik?


"Ambil dan telepon keluargamu!"


"Trima kasih." Lia mengambil handphone itu dan menekan sebuah nomor. Setelah selesai Liapun mengembalikan handphone tersebut.


"Maaf Bu Marisa! Apa yang harus saya lakukan di sini. Saya tidak bisa tinggal gratis. Apa tidak lebih baik saya mengontrak rumah di luar saja? Saya tidak mau merepotkan Ibu." ucap Lia sungkan.


"Kita bahas ini saat kondisi kakimu mulai membaik." Marisa melangkah keluar dari kamar Lia. Sesampai di depan pintu Marisa berbalik dan tersenyum ke arah Lia. Gadis itu masih samar dengan maksud senyuman Marisa.


"Jangan salah sangka tapi kau tawananku mulai sekarang."


Apa ini yang dimaksud peribahasa gajah dengan gajah bertengkar pelanduk mati di tengah-tengah?


Gadis itu meremas kasar rambutnya. Dia sungguh tak tahu apa yang terbaik. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu orang ke orang yang lain. Miris sekali hidupnya.


Meskipun apartemen Marisa sangat mewah, gadis itu merasa lebih nyaman tinggal bersama Adam. Bos Adam yang galak tetap punya pesona tersendiri di hati Lia. Entah mengapa hati Lia sedikit perih saat Adam menolak menikahinya. Sebetulnya Lia juga tidak tertarik menikahi Adam hanya saja setelah malam ini dan setelah ciuman tadi rasanya berbeda.


Lia merasa sangat memerlukan Adam. Belaian dan dekapan Adam memang beda. Robert saja tidak bisa membuat Lia menginginkan seperti yang dilakukan Adam.


"Bos, Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Gadis itu mendesah panjang dan akhirnya pergi ke alam mimpi.


********


Adam duduk termenung di tepi kolam renang. Dia juga sulit menceritakan isi hatinya dalam bentuk kata-kata. Ada sesuatu yang hilang lebih tepatnya seseorang yang hilang. Setelah kepergian mbok Yem yang menemani anaknya yang akan melahirkan. Kini, Adam harus dihadapkan pada masa sulit karena kepergian Lia.


Flashback On


"Lia, Apa kau ingin pergi bersama mereka?" tanya Adam dengan wajah serius.


Lia mengarahkan pandangannya pada Marisa dan kemudian pada Adam. Tatapan Adam mengisyaratkan dia untuk jangan pergi.


"Saya tidak bisa...."


"Dengarlah! Lia tidak ingin pergi." ucap Adam sombong.


"Bos, saya tidak bisa tinggal di sini. Mungkin sebaiknya saya pergi." sambar Lia mematahkan harapan Adam.


"Sekarang dengarlah Adam perkataan Lia." ejek Marisa.


Adam mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap tajam pada Lia. Tatapan mengintimidasi yang sulit di ungkapkan Lia. Adam terlihat sangat marah dengan kilatan sorot mata yang siap menerkam.


"Apa maksud ucapanmu Lia?" tekan Adam dengan mata memincing.


"Sebaiknya saya pergi. mengingat kita tidak punya hubungan apapun." Gadis itu tertunduk dan tidak berani menatap Adam. Aura kemarahan Adam sangat kuat. Lia tidak akan mampu mengimbanginya.


"Apa kau lupa? Aku sudah menolongku dari berbagai hal." ungkit Adam mengingatkan Lia.


Dari berbagai hal yang terjadi pada Lia, Adamlah yang sudah menolongnya. Lia tidak lupa hanya tidak sanggup jika berada di sisi Adam tanpa status yang jelas.


Apa yang harus dia pilih? Hati Lia masih condong untuk bersama Adam tapi melihat orang tua renta dihadapannya Lia teringat Almarhum kakek dan neneknya yang telah mengajarkan etika. Pun Uwa Aryan yang sudah memberi banyak wejangan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hati Lia sendiri berperang di dalam.


"Tapi... Bu Marisa benar pak Adam. Kita memang sebaiknya berpisah." jelas Lia dengan sorot mata sendu.


"Adam kalau kalian belum menikah dan berada satu rumah seperti ini, itu tidak baik. Bisa timbul banyak fitnah. Ke depannya akan ada kemalangan." nasehat Kakek Abdul. Orang tua itu punya banyak nasehat untuk pasangan muda-mudi. Bagaimanapun jiwa muda memang bergelora dan harus diarahkan pada hal yang positif.


Marisa tertunduk matanya berkaca menahan bulir bening.


Kemalangan.


Kata itu memiliki banyak arti bagi Marisa.


Seperti apa yang telah dan sedang dia rasakan. Kemalangan yang panjang dan tanpa akhir.


Adam tanpa sengaja melirik Marisa. Kesedihan di wajah Marisa membuatnya juga ikut merasakan sakit.


"Baiklah Lia. Kau boleh pergi." ucap Adam tanpa melihat Lia.


Menahan Lia ataupun melepas Lia masih terasa samar di hati Adam. Jujur Lia sudah memberi warna yang sedikit berbeda pada hari-harinya. Namun, Adam masih sangsi untuk berkomitmen menikah. Apakah kehidupan setelah menikah akan menjadi lebih baik?


"Itu lebih baik Adam. Kakek dan nenek berharap kelak kau mau menikah setelah menemukan orang yang tepat."


Adam tersenyum memandang Lia. Kini rumah ini akan sepi lagi sama seperti hati Adam yang juga sepi.


**********


Hai...


Thank You for reading!