
"Bos yang benar saja? Aku tidak mau latihan denganmu. Aku akan latihan dengan pak Wo saja." ucap Lia protes.
"Dia sedang sibuk."
"Aku tidak mau latihan di kamar." Adam bersedekap. Sepertinya Lia waspada kerena kejadian kemarin.
"Kita latihan di ruang keluarga. Bawa matrass!" titah Adam dengan wajah datar.
Lia mendengus.
"Sekarang pelajaran teknik bertahan diri." jelas Adam selayaknya instruktur.
"Aku sudah bertahan dari kemarin. Bertahan dari sikapmu yang menyebalkan." dengus Lia lirih.
"Apa kau bilang?"
"Tidak, aku hanya membaca doa." bohong Lia. Rasanya sangat ogah kalau harus latihan seperti kemarin.
Adam benar-benar menggoda iman. Apa iya dia ikhlas ingin mengajari Lia teknik mempertahankan diri? Menurut Lia Adam hanya mengkamufkase seperti bunglon. Dia pasti hanya ingin berdekatan dengan Lia dan mengambil kesempatan.
"Kau harus berusaha lebih keras. Mempertahankan diri sangat penting terutama disaat terdesak."
"Tersedak?" canda Lia dengan terkekeh. Adam menatap tajam pada kekehan Lia. Bisa-bisanya gadis itu bercanda di saat serius.
"Terdesak. Sekarang bersiap!" ralat Adam dengan intonasi yang jelas.
Adam mencekal tangan Lia, gadis itu memekik.
"Jangan teriak!" bentak Adam.
"Harusnya kau mengajariku caranya dulu baru praktek. Mana ada instruktur langsung eksekusi tanpa memberi penjelasan yang memadai." protes Lia tidak terima.
Lia terus bicara nerocos yang membuat Adam memalingkan muka. Kepalanya terasa pening mendengar ocehan Lia.
"Baiklah."
Lelaki itu menyambungkan YouTube ke televisi melalui bluetooth. Gadis disampingi Adam merasa sangat malas harus menonton TV terlebih saluran pilihan Adam. Pria pasti hanya suka adegan perang dan kekerasan.
"Sekarang lihat, amati dan pahami dengan betul! Kalau kau kurang paham videonya bisa diulang." jelas Adam panjang lebar.
Di video ada seorang instruktur yang menjelaskan cara mempertahankan diri dari orang jahat. Lia merasa tidak perlu menonton video semacam itu. Sangat membosankan.
Dia lebih suka Drakor. Ceritanya lebih menarik.
"Lihat Videonya! sebentar lagi kita praktik!" tekan Adam karena Lia malah asyik bermain game di Handphonenya.
"Aku sudah paham." kata Lia cuek. Adam memandang Lia yang menunduk memainkan jarinya di layar.
"Iyakah?"
Lia menggangguk. Gadis itu merasa sangat lelah hari ini. Selesaikan lebih cepat dan tidur lebih cepat. Lia meletakkan handphonenya yang berdiri bersiap mempelajari teknik dengan lelaki di hadapannya.
"Ayo bos! Aku sudah siap." Lia memasang kuda-kuda seperti yang Adam ajarkan kemarin.
"Kau yakin sudah paham tanpa menonton videonya."
"Sudah!" jawab Lia mantap dengan senyum cengengesannya.
"Aku mulai. Kau harus tangkis semua serangan ku." Lia mengangguk. Adam merasa ada sesuatu yang aneh dengan Lia. Gadis itu biasanya protes tapi kenapa bisa jadi penurut seperti itu.
Adam bersiap menyerang Lia. Gadis itu memasang kuda-kuda dengan wajah serius. Dia mencoba menerka arah serangan Adam.
"Arrrgg... Kabur!" Lia berlari menjauhi Adam saat Adam ingin menyerangnya. Dia tidak mau terkena rayuan Adam seperti tempo hari. Laki-laki paling mudah berkata manis. Semanis permen. Semakin dikunyah membikin sakit gigi.
Gadis itu berlari dengan ceroboh. Saat menuruni anak tangga dia berlari dengan cepat takut Adam akan mengejarnya. Dia tersenyum puas mendapati Adam berdiri dan tak mengejarnya.
Lia terkikik sambil berlari menuruni tangga.
"Arrrrgg..." pekik Lia.
"Lia!" Adam melihat Lia dari ruang keluarga yang ada di lantai dua. Gadis itu jatuh terkulai di lantai. Secepatnya Adam menghampiri Lia dengan perasaan khawatir. Apa yang terjadi dengan Lia? Kenapa dia tidak bergerak?
*********
"Kakek, Nenek. Bagaimana kalau kita menginap di rumah Adam?" ajak Marisa dengan wajah semringah.
"Apa Adam memperbolehkan?" tanya kakek ragu.
"Adam membeli rumah baru. Kita harus mengunjunginya. Sebagai orang yang lebih tua bukannya sebaiknya kita memberi selamat." saran Marisa dengan suara lembutnya.
"Iya, Marisa benar." ucap kakek dengan senyum riangnya.
"Apa satya pernah menghubungimu?" Nenek memandang nanar pada wajah cantik Marisa. Terpaan badai kehidupan yang terlalu berat untuk wanita yang ringkih.
Marisa menggeleng lemah.
"Kalau sudah selama ini dia pergi. Kau bisa mengajukan perpisahan. Pasangan yang ditinggalkan lebih dari dua tahun boleh menuntut perpisahan." tutur nenek Rahmi dengan senyum pelik.
"Nenek tenang saja aku sudah mengaturnya." Marisa menenangkan. Kedua orang yang renta tersebut belum tahu kalau Satya sudah menalaknya tiga tahun yang lalu. Dia bahkan sudah menikah dengan wanita yang diinginkannya.
Anehnya kenapa Satya ingin kembali. Bukankah kehidupan pernikahan mereka lancar. Apa yang terjadi?
"Satya memang tidak tahu diri. Dia meninggalkan wanita berhati mulia hanya untuk wanita jahat." sarkas nenek dengan tangan terkepal.
"Jaga emosi nenek! Jangan sampai hipertensi nenek kumat. Itu pilihan Satya. Aku berusaha untuk menerimanya." Marisa tersenyum pelik.
"Walaupun kau disakiti tapi kau masih mengurusi kami." Kakek menyentuh pundak Marisa menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Kelak menikahlah dan hidup bahagia!" Doa nenek dengan tulus.
"Pasti nenek."
"Segera urus perpisahanmu dan carilah lelaki yang baik." pinta kakek seraya menggenggam tangan Marisa.
*******
"Au.... Sakit."
"Apa yang akan kau lakukan."
"Jangan macam-macam!"
"Kau itu berisik sekali. Aku susah payah membantumu." ketus Adam yang berusaha menolong Lia.
"Jangan dipegang. Sakit." rengek Lia menahan sakit.
"Memang apa yang sudah kuakukan? Diam saja sakit apalagi bergerak. Salah sendiri lari-lari seperti anak kecil." guman Adam
"Panggilkan seseorang untuk membantuku." pinta Lia. Sekarang dia mulai berani protes dan membantah Adam.
"Aku bisa menolongku. Jangan kuatir aku ahli mengobati orang keseleo. Tinggal membetulkan uratnya dan selesai." jawab Adam dengan senyum menyeringai.
"Tidak mau. Bos tidak punya keahlian apapun. Bos tidak tersertifikasi." Gadis itu berusaha menepis tangan Adam yang ingin memijatnya.
"Ini gampang. Biarkan aku mengurutnya." desak Adam masih dengan wajah penuh goda.
"Bawa saja ke dokter. Aku akan bayar."
"Tidak usah. Aku bisa. Tenang saja. Kalau gagal kita pilih opsi kedua."
"Jangan... Au..." Lia merebahkan tubuhnya dengan kasar karena kesakitan.
"Kalau kau menolak cara halus aku bisa dengan cara kasar. Turuti saja aku!" Mata Lia memejam menahan sakit. Seandainya Adam tahu bagaimana sakitnya. Tak terasa bulir bening jatuh di sudut kelopak matanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Adam tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.
Lia diam seraya mengigit bibir bawahnya. Dia terisak menahan sakit tapi tak mampu bersuara. Adam juga tak akan mengindahkan perkataannya.
Rasanya sangat menyakitkan. Walau ini hanya terkilir karena hal sepele.
"Hiks...Hiks..." Isak Lia.
Lelaki itu beranjak meninggalkan Lia yang masih terisak. Mau diapakan juga gadis itu akan terus menangis. Sudah tidak bisa diajak bercanda. Lebih baik meninggalkannya sendirian.
Setelah kepergian Adam, Lia tak mampu menahan gejolak rasa kesal di dadanya. Bisa-bisanya Adam meninggalkannya di saat Lia sangat membutuhkan bantuan. Apa yang lelaki pikirkan saat wanita menangis? Mereka seharusnya menemani atau menghibur. Syukur-syukur kalau bisa menolong seorang gadis lemah keluar dari masalah.
Bukan seperti ini. Pergi meninggalkan wanita yang sedang sedih tanpa pamit.
Rasanya sesak di dada.
Cukup lama gadis itu terisak hingga tertidur.
"Ugh..." lenguh Lia. Dia menyadari terjadi sesuatu dengan kakinya.
Betapa kagetnya saat dia membuka mata ada seseorang yang tengah memijat kakinya.
Sepertinya orang tersebut cukup profesional karena dia memijat sebelah kaki Lia yang tidak sakit terlebih dahulu baru kali yang sakit sehingga Lia tidak terlalu kesakitan.
"Uratnya terkilir. Saya sudah mengurutnya. Beberapa hari lagi sudah bisa normal. Tolong jangan dipakai untuk aktivitas berlebihan."
"Saya sudah boleh jalan?" tanya Lia terlihat lebih segar karena kakinya tidak terlalu sakit.
"Bisa jalan tapi jangan lari-lari." Lia merasa tersinggung karena ucapan si pemijat. Dia seperti menyindir Lia. Melihat Adam yang hanya bersedekap dan tidak menunjukkan ekspresi apapun juga membuat Lia semakin kesal.
"Coba tepakkan kakimu dan mulailah berjalan!"
Lia mengikuti instruksi si pemijat. Awalnya agak sakit saat Lia menepakkan kakinya tapi lama-lama dia mulai terbiasa. Dia juga mencoba berjalan walaupun terpincang.
"Tidak bisa langsung sembuh jadi harus bersabar." Lia tersenyum dan berterima kasih. Adam mengantar orang yang mengurut Lia keluar.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik. Terima Kasih." jawab Lia cepat.
"Seharusnya ucapanmu lebih tulus."
Gadis itu menarik napas panjangnya.
"Terima kasih, Pak Adam." dengan suara yang dibuat mendayu. Adam hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan terima kasih Lia yang dibuat-buat.
Lia mendaratkan tubuhnya di sofa. Seperti masih sulit berjalan untuk pergi ke kamar. Dia butuh usaha dan tenaga ekstra. Mungkin lebih baik dia di sini. Tidur semalam di sofa tidak akan masalah. Menyimpan tenaga untuk aktivitas besuk.
Gadis itu memejamkan mata. Tubuhnya sangat letih belum lagi rasa nyeri yang dia rasakan di kakinya.
Beberapa saat kemudian, Lia merasa tubuhnya melayang. Ketika membuka mata betapa terkejutnya dirinya mendapati Adam mengendongnya ala bridal.
"Bos, apa yang kau lakukan?"
"Mengendongmu. Apa kau akan tidur di sofa?"
"Kakiku sakit biarkan aku istirahat di sini. Nanti kalau agak mendingan, aku akan pindah." ucap Lia asal. Adam mengacuhkan Lia.
Beberapa saat kemudian, Adam menajamkan pandangannya. Lia tahu maksud Adam. Tangan Lia terkulai dan tidak memegang Adam. Tentu Adam akan kesusahan dan menjadi berat. Tangan Lia kemudian mengalung pada leher Adam. Posisi kepala Lia juga menempel di dada bidang Adam.
Detak jantung Adam terdengar jelas ditelinga Lia. Gadis itu juga dimabukkan dengan aroma parfum Adam yang menggoda indra penciumannya. Dekapan Adam terasa hangat dan nyaman.
"Sudah sampai. Apa kau sudah tidur?" ucap Adam saat merebahkan tubuh Lia di kasur.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Nikmatnya tidur di ranjang sendiri.
"Pengantar juga butuh bayaran." ucap Adam berbisik di telinga Lia. Gadis itu meremang merasakan sengatan listrik di tubuhnya.
Lia membuka matanya setelah mendapat bisikan dari Adam.
"Bayaran seperti apa?" ucap gadis itu lirih.
Lelaki itu memajukan wajahnya mendekat pada wajah Lia. Tampak jelas garis wajah Adam pahatan dari yang sang maha Pencipta.
"Hutangmu harus dibayar dulu baru aku menagih biaya antar."
"Hutang?"
Adam menunjuk bibirnya dengan senyum liciknya. Dia ingin melihat apa respon Lia.
Lia menelan salivanya dengan kasar.
Gadis itu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman sekilas di bibir Adam.
"Baru satu. Masih satu lagi." ucap Adam mengingatkan.
Lia menyentuh lagi bibir Adam dengan bibirnya.
"Sudah." ucap Lia malu-malu.
Adam tersenyum, kali ini terasa lebih mencekam bagi Lia. Wajah Adam mengikis jarak dan kembali mencium Lia dengan lembut. Tangan Lia masih melingkar di leher Adam. Tanpa sadar gadis itu mengeratkan pelukannya.
"Satu, dua, tiga, empat dan lima." Adam mengecup Lia sesuai hitungan. Gadis itu sudah tak mampu menopang dirinya karena godaan Adam. Tatapan Mata Lia ikut berkabut memandang Adam.
"Hutangmu tambah. Kau bisa mencicilnya setiap malam denganku." sambung Adam seduktif.
Gadis itu tak bisa berkata apapun. Mau bagaimanapun selama Lia bersama Adam dia akan tetap kalah. Bosnya memang pintar. Pintar dalam segala hal termasuk memainkan emosi dan juga hasrat Lia.
lelaki yang masih memeluk Lia tersenyum miring. Lia tahu maksud Adam.
"Aku beri bonus." ucap Adam seraya mengecup leher Lia. Dia juga menghirup aroma tubuh Lia yang tidak bisa Lia pungkiri ini menghanyutkan.
"Ehem....Ehem..." kedua sejoli itu terperanjat dengan deheman seseorang. Siapa yang datang tiba-tiba.
******
Hai...Hai...
Maaf telat up. Saya menjaga kesehatan dulu. Selamat membaca semoga suka.
Maaf kalau belum bisa feedback segera karena saya berusaha menyempatkan waktu untuk membaca cerita kakak sekalian. Semoga selalu di beri kesehatan dan kelancaran.
Sekarang saya ingin lebih santai menikmati bacaan karya Author.
Semangat