
"Apa Bos Adam akan pulang hari ini?" tanya Lia panik.
"Saya tidak tahu nona. Hari ini pak Adam ke luar kota." jelas pak Wo.
"Dia akan pulang tidak?" Lia menekankan pertanyaannya agar mendapat jawaban pasti.
"Saya tidak tahu nona."
Gadis itu Lia teringat pak Budi tetangganya dulu. Pak Budi pasti kenal beberapa orang yang bisa membetulkan laptop. Dia juga ingin tahu siapa orang yang melamarnya.
"Aku ke tempat pak Budi sebentar. Rumahnya dekat sini." pamit Lia pada pak Wo.
"Perlu saya temani nona?"
"Tidak usah. Hanya dua gang dari sini."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Dimana Lia?" tanya Adam dengan pakaian kantornya.
"Dia ke tempat pak Budi. Tetangga di sini." terang pak Wo menjelaskan
"Sudah berapa lama?"
"Dua jam yang lalu."
Adam melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Dia bergegas menuju kamarnya untuk mandi tanpa bertanya lebih jauh.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Jadi mas Lukman satu kantor denganku." tanya Lia terkejut.
"Iya. Kita pernah bertemu sekali di kantor. Waktu itu kamu sedang fotokopi." jelas Lukman. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah Adam.
"Aku lupa. Apa mas Lukman juga tahu kejadian di kantor?" Lia mendelik takut jika Lukman akan berfikir buruk tentangnya. Lukman adalah sosok lelaki yang ramah Dia berusia 25 tahun. Dia adalah orang yang ingin melamar Lia. Lia tertarik dengan kepribadian Lukman yang sederhana dan rendah hati.
"Banyak desas-desus yang menyebar tapi aku yakin kamu tidak bersalah." jelas Lukman menenangkan hati Lia.
"Dari mana mas Lukman tahu?"
"Kejadian itu bukan rahasia umum. Masalah ini sudah menyebar beberapa bulan terakhir. Ini semua dilakukan secara sistematis." ungkap Lukman hati-hati.
"Apa mas Lukman tahu sesuatu?"
Lukman menggeleng menandakan dia tidak tahu apa-apa.
"Trima kasih mas Lukman sudah mengantarku pulang." Lia memberi senyum dan melambaikan tangannya setelah sampai di depan gerbang rumah Adam.
"Ini dulu rumahmu kan?" Lukman mendongak mengabsen rumah Lia dari depan gerbang.
"Sekarang tidak. Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga." jelas Lia singkat.
"Kau masih kuliah dan jadi ART di sini?" Lia menggangguk. Dia tersenyum pelik.
"Prihatin dulu Mas."
"Aku bisa membuka hardisknya tapi aku tidak punya alat untuk memindah data."
"Aku tahu mas. Trima kasih atas bantuannya. Besuk aku akan ke toko komputer membeli Enclosure yang mas maksud."
Lukman melirik jendela di lantai dua. Ada seseorang yang melihat ke arah mereka berdua.
"Sepertinya majikanmu memperhatikanmu." Lia kaget dengan ucapan Lukman. Gadis itu mendongak mengamati jendela dengan lampu yang menyala. Terlihat seseorang berdiri di dekat jendela.
"Aku pamit dulu mas." Lukman tersenyum dengan tingkah polos Lia. Gadis itu terlihat kikuk. Lelaki itu melambaikan tangan yang juga dibalas lambaian tangan oleh Lia. Gadis itu mengulas senyum melihat kepergian Lukman.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Bos ini makan malamnya. Selamat makan!"
Adam menyendok nasi goreng buatan Lia. Raut wajah Adam terlihat tidak bersahabat. Pasti terjadi sesuatu dengan pekerjaannya. Entah karena sebab apa Adam tidak banyak berkomentar. Dia menyendok nasi goreng dan menghabiskannya tanpa berbicara. Lia juga ikut terdiam tidak mau membuka pembicaraan.
"Apa bos bisa membantuku?"
" Hm."
"Laptop ku rusak. Ada data yang sangat penting yang harus aku ambil." sahut Lia.
"Lalu?"
"Maaf." Gadis itu menunduk. Ini bukan waktu yang tepat menggangu Adam. Menyadari perubahan wajah Lia yang terlihat putus asa, Adam menggeleng.
"Bisakah kau lebih tegar sedikit. Jangan terlalu payah jadi orang! Entah kenapa kalau melihatmu putus asa, aku jadi merasa tertekan." ungkap Adam frustasi.
"Tertekan?" Lia menelisik wajah Adam yang dibilang tertekan. Oleh sebab apa dia tertekan hanya karena melihat Lia yang putus asa.
"Aku selalu merasa menganiayanya orang lemah yang tak berdaya." jelas Adam.
"Maaf." Adam menggeleng mendengar ucapan Lia.
"Sudahlah apa yang bisa aku lakukan?" tawar Adam membantu Lia.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Pelan-pelan bos!"
"Hati-hati!" sambung Lia panik.
"Kau diamlah. Aku sedang berkonsentrasi."
"Apa menurutmu ini akan baik-baik saja?" Lia makin panik saat Adam kesusahan.
"Lebih baik mencoba dari pada berdiam diri."
"Bukanya pelan-pelan!" Gadis itu mulai cemas memikirkan benda miliknya yang diotak -atik Adam.
"Kau minggir saja dan diam di luar." Nada Adam naik karena cukup jengah dengan suara Lia.
"Bos!" seru Lia khawatir.
"Bos kan punya banyak kenalan. Lebih aman meminta bantuan seseorang. Mas Lukman bisa membukanya tapi dia tidak punya Enclosure."
Brakk
Adam mengebrak meja dihadapannya. Lia terlalu banyak bicara dan itu membuatnya pusing.
"Maaf!" Gadis itu merasa bersalah sudah menggangu Adam yang sibuk membuka Laptop.
"Bagaimana kalau dataku rusak?" ucap Lia khawatir.
"Apa sebenarnya maumu? Aku sudah berbaik hati membantu." ketus Adam.
"Aku akan diam." Lia menekuk bibirnya ke dalam. Dia berusaha untuk tidak bersuara walaupun hatinya harap-harap cemas. Bagaimana nasib data skripsi di dalam hardisknya. Apa Adam bisa membuka hardisk? Apa Adam kompeten?
"Bos, datanya nanti corrupt." keluh Lia agar Adam mendengarkan.
Adam tidak sabar. Dia mengambil sesuatu dari laci.
Lia tidak bisa bersuara. Mulutnya ditutupi perekat. Tangan dan kakinya diikat Adam.
Adam berkonsentrasi mengeluarkan hardisk dari laptop Lia. Dengan hati-hati dia memasang Enclosure yang dia punya. Syukurlah semua sesuai. Sekarang tinggal mengecek data Lia di dalam hardisk.
Adam menarik kursi beroda Lia dan menyuruh gadis itu melihat kehebatannya. Senyum kesombongan ditampakkan Adam.
Lia meronta minta di lepaskan. Adam melepas perekat di mulut Lia. Gadis itu bisa berbicara lagi.
"Bos, ini terlalu kejam." rengek Lia. Adam keterlaluan karena mengikat tangan dan kaki Lia dengan tali serta menutup mulutnya dengan lakban.
"Kau terlalu berisik. Lihat kejeniusanku! Mana data yang kau butuhkan." Lia mencebik. Sungguh sombong sekali bosnya.
"Lepaskan aku!" ronta Lia
"Janji kau tidak akan berisik dan bertingkah?"
"Iya!"
Adam melepaskan ikatan yang membelit tangan Lia. Dia berhenti beberapa saat mengingat kenangan tentang tali yang dia pegang.
"Ada apa? Apa sulit dilepas? Pakai gunting saja bos?" saran Lia spontan.
Adam terdiam. Dia menyentuh tali itu dan mengamatinya secara detail.
"Bos!" seru Lia karena Adam terdiam cukup lama.
"Bagaimana rasanya diikat? Apa sakit?" tanya Adam dengan wajah sayu. Biasanya Adam ketus dan sekarang terlihat tak berdaya.
Lia menyadari terjadi sesuatu dengan bosnya. Ada hal aneh yang tidak biasa terjadi. Mengapa raut wajah bosnya jadi melankolis begini?
"Kau baik-baik saja bos?" tanya gadis di hadapan Adam dengan raut wajah khawatir.
"Aku dulu pernah diikat dengan tali ini. Rasanya tidak sakit tapi ketika aku berusaha bergerak tali itu menyakitiku. Jadi mana yang menyakitiku tali itu atau diriku?" Wajah Adam menjadi sendu dan ini tidak biasa. Ada apa dengan tali yang Adam simpan?
Manik mata Adam bertaut dengan manik mata Lia. Ada rasa perih yang diungkapkan mata Adam. Lia bisa merasakan kepedihan yang mendalam.
"Siapa yang mengikatmu?" tanya Lia.
Adam tidak menjawab pertanyaan Lia. Tangannya sibuk membuka ikatan di kedua pergelangan tangan Lia. Saat hendak membuka ikatan di kaki Lia, gadis itu beringsut. Dia malu jika Adam harus terlalu menundukkan kepalanya.
"Aku saja bos. Jangan menyentuh kakiku!"
Adam menjauhkan diri dari Lia. Dengan kursi yang bisa diputar. Adam leluasa memundurkan tubuhnya.
"Trima kasih atas bantuanmu. Aku akan merevisi beberapa bagian. Aku akan segera pergi setelah menyelesaikan semuanya."
"Kau pikir aku akan mengijinkanmu memakai komputerku?" goda Adam dengan senyum seringai.
"Kalau sudah selesai revisi. Aku tunggu kau di kamar." bisik Adam di telinga Lia. Hembusan napas Adam membuat tubuh Lia meremang.
"Ma..u apa?" ucap Lia terbata. Apa bosnya akan menggodanya lagi? Setelah beberapa kejadian, Lia paham sifat usil Adam.
"Datang ke kamarku saja dulu!"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Gadis cantik berdiri mematung di depan Kamar Adam. Jarum panjang pada jam dinding menunjuk angka dua belas dan jarum pendek menunjuk angka sebelas. Lia tidak berani mengetuk pintu. Mungkin Adam sudah tidur. Namun, Lebih baik mengetuk dulu. Kalau tiga kali ketukan Adam tidak menyahut dia akan pergi.
Tok...Tok...
Tok... Tok...
"Masuk." Suara dari dalam menyuruh Lia masuk. Gadis itu memejamkan mata karena prediksinya salah. Dia pikir Adam sudah tertidur.
Ceklek
Lia membuka pintu dan melihat Adam tengah duduk bersandar pada sandaran ranjang.
"Apa yang harus kulakukan bos?"
Gadis itu melangkah maju setelah mendapat kode dari Adam. Dia duduk di tepi ranjang dengan hati-hati.
Lia mengamati Adam dengan seksama. Lelaki itu sibuk mengecek email dengan laptopnya.
"Akhir-akhir ini aku sulit tidur." ucap Adam tanpa memandang Lia.
"Apa hubungannya denganku?"
"Kau harus bisa membuatku tertidur dengan nyenyak." titah Adam dengan bahasa yang halus.
"Caranya?" Lia masih bingung dengan penjelasan Adam. Lia juga sulit tidur karena tugas yang menumpuk. Bisa jadi Adam kebanyakan pikiran jadi dia susah tidur.
"Itu masalahnya. Aku tidak tahu cara tepat agar tidur nyenyak."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Tinggalkan jejak ya!
Thank you!