
"Jadi, Bagaimana?"
"Perusahan Ibu Marisa sedang dalam masalah. Ada konspirasi yang berusaha menjatuhkan kredibilitas perusahaannya." terang pak Wo berupaya menyederhanakan kasus yang menimpa Lia.
"Lalu?"
"Tidak ada yang bisa dicurigai. Semua sangat rapi. Kalau umpannya hanya sopir yang mengantar barang. Ibu Marisa tidak akan mungkin bisa membongkar dalangnya." lanjut pak Wo.
"Lalu?"
"Nona Lia hanya umpan. Dia bekerja di kantor. Membuat nona Lia bersalah akan membuat mereka gusar."
"Apa dia gila. Lia tidak tahu apa-apa. Bagaimana bisa dia yang harus menanggung semuanya?" ucap Adam dengan nada tinggi. Dia tidak habis pikir dengan pilihan Marisa. Seharusnya dia memilih orang lain untuk kambing hitam. Lia hanya anak magang yang baru 2,5 bulan bekerja. Apa yang bisa dilakukan anak magang bagian arsip?
"Tidak akan lama. Ini hanya untuk memancing mereka. Nona Lia hanya pengalihan. Investigasi sudah dilakukan. Mereka pasti akan terkecoh dan berkumpul untuk membahas ini. Ibu Marisa juga sedang mengerahkan semua orang. Semua divisi diperiksa secara intensif." kata pak Wo panjang lebar agar Adam bisa memaklumi pilihan Marisa.
"Lalu kenapa harus Lia yang jadi korban?"
"Karena..."
"Karena apa?"
"Tuan pasti akan melindunginya." Adam mendesah lemah. Marisa memang pintar. Dia hanya tidak rela Lia yang harus dikorbankan. Jika orang lain yang dijadikan kambing hitam mereka pasti akan rugi secara materiil dan immateriil. Namun, Lia tidak akan rugi karena kasus ini. Adam pasti akan menjadi tameng melindungi Lia.
"Apa kau masih jadi mata-matanya?"
pak Wo sedikit kaget. Raut wajahnya berubah tapi dia berusaha tetap tenang.
"Maksud tuan?"
"Kau sering bertemu dengannya. Jadi kau pasti mata-matanya. Apa yang kalian bicarakan tentangku?" tuduh Adam curiga.
"Saya..."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Bos." ucap Lia terisak.
"Berusahalah lebih tegar sedikit. Kamu baru diperiksa dan wajib lapor. Statusmu saja belum dinaikkan. Apa yang membuatmu khawatir?" Adam berusaha menenangkan kegusaran Lia walaupun dengan nada ketus. Adam bukan tipikal cowok yang lemah lembut tapi Lia sudah terbiasa dengan segala polah bosnya.
"Bos, Bagaimana kalau ayah dan Bunda tahu aku diperiksa di kantor polisi? Mereka bisa berfikir aku menggelapkan dana." Lia khawatir memikirkan nasibnya. Dia ditelpon agar segera pulang dan menyeleseikan administrasi kantor. Akhirnya, Lia pulang bersama pak Budi dan tetangga Lia yang ingin pergi ke Jakarta.
Dengan uang saku seadanya dia menyewa kos. Naas setelah di kantor beberapa polisi membawanya untuk di interogasi. Lia harus pingsan beberapa kali karena dia belum sarapan dan kelelahan akibat perjalanan jauh.
"Selama kau tidak melakukannya kau pasti aman. Tenanglah!" ucap Adam menenangkan. Namun, Lia masih belum bisa tenang.
"Mereka mencurigai ku karena ada uang ratusan juta di rekening atas namaku. Boss tahu rekening itu kan cuma atas namaku semua operasionalnya bos yang mengaturnya."
gerutu Lia merasa dijebak.
"Apa jangan-jangan...."
"Kau menuduhku menjebakmu. Bagaimana kau bisa berfikir begitu?" selak Adam tidak terima dengan tatapan Lia yang menuduhnya.
"Sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa aku percaya. Aku datang bekerja di kantor itu dan mematuhi semua aturan yang ada. Aku tidak berbuat macam-macam." Lia menangis terisak dia bingung harus bagaimana. Dia merasa tidak melakukan apapun di kantor. Dia mematuhi semua aturan yang ada dan tidak neko-neko.
"Aku tahu. Sudah kau tenang saja! Kau hanya disuruh wajib lapor dan tidak boleh ke luar kota." ucap Adam datar. Padahal Lia sudah menangis tersedu-sedu tapi Adam tidak berniat membuat gadis itu diam.
"Aku kangen ayah dan Bunda. Aku mau pulang. Aku tidak mau tinggal di sini. Hiks...hiks..." Lia terisak menahan perih di dada. Inikah rasanya difitnah.
Menyakitkan
"Kau tahu kalau itu tidak bisa." sindir Adam seraya menyesap kopi.
"Satu lagi. Aku harus menikah segera. Apa kau bisa mencarikan wanita yang cocok untukku?" Gadis itu tercekat. Di saat dia sedang ada masalah bosnya seenaknya menyuruhnya mencarikan calon istri. Dia kaya, tentu dia bisa mendapatkan wanita manapun yang tertarik dengan uang.
"Aku bukan Mak comblang bos." Lia berucap malas. Kelamaan dengan bosnya bisa membuat otaknya miring sebelah. Bagaimana Lia bisa mencarikan pasangan untuk orang lain sementara dia jomblo?
"Kau cari saja sendiri lewat biro jodoh." usul Lia spontan. Tangisnya yang terisak dan hatinya yang sakit mendadak berubah. Berubah menjadi rasa jengkel. Bukan rasa jengkol lho. Emosi memang kalau harus berhadapan dengan Adam.
"Apa aku terlihat seputus asa itu?" gerutu Adam.
"Kalau tidak, kau ta'aruf saja. Mungkin bisa dapat wanita Muslimin yang baik." nasehat Lia agar Adam bisa mendapat istri yang baik.
"Kau menghinaku. Bagaimana kalau aku di tantang ilmu agama. Aku bisa apa?" kata Adam putus asa.
"Salahmu tidak belajar. Sekarang kau mau istri yang seperti apa?" tanya Lia ingin tahu.
"Selama yang aku tahu kau tidak pernah kencan dengan siapapun. Jadi aplikasi biro jodoh adalah saran terbaik. Kalian bisa menjalani kencan buta dan selesai jika tidak cocok." sambung Lia.
"Bos, Ini daftar wanita yang bisa diajak kencan." Lia menyodorkan satu bendel kertas yang berisi data diri beberapa wanita yang menurut Lia cantik.
"Hmm.."Adam cuek dan masih membaca beberapa berkas laporan.
"Kau saja yang kencan. Berikan aku yang terbaik." Lia membelalakkan matanya. Dia heran apa tujuan Adam sebenarnya. Apa Adam hanya ingin mempermainkan Lia? Kenapa harus mencarikan wanita kalau ujung-ujungnya ditolak.
"Lihat dulu! Mana bisa aku kencan dengan seorang wanita. Aku juga tidak tahu seleramu." Adam menengok sekilas wanita yang ada di urutan terdepan. Dia kemudian membuang muka dan menunjukkan ketidaksukaannya.
"Filter dulu mana yang terbaik aku tidak ingin buang-buang waktu." ucap Adam jengkel karena foto wanita yang dilihat tidak sesuai harapannya.
"Apa tipemu?" desak Lia.
"Yang aku suka."
"Seperti apa?"
"Yang bisa membuatku bahagia.*
"Pasti kan ada ciri fisiknya?"
"Tidak .... tahu." ucap Adam penuh jeda.
"Kau benar-benar ingin menikah atau tidak?" paksa Lia mulai kesal.
"Sepertinya iya. Aku juga belum tahu dengan pasti." Adam memegang dagu mencoba memilah apa yang harus dilakukannya.
Sudah cukup. Emosi Lia sudah naik di ubun-ubun. Dia tidak tahan dengan kelakuan bosnya yang sangat amat membuat dirinya jengkel.
"Aku tidak bisa membantumu. Cari Sendiri?"
"Eh.... tunggu!" Lia tidak jadi pergi dan mendengarkan perkataan Adam.
Adam menjelaskan beberapa kriteria yang dia inginkan. Lia mendengarkan dengan saksama. Dia juga mencatat beberapa hal yang di rasa penting.
Sekarang tugas Lia bertambah. Mencarikan Adam calon istri.
"Ya sudah aku sortir dulu. Semoga kau segera mendapat calon istri yang baik!"
Lia beranjak untuk menunaikan tugas barunya. Tugas yang aneh dan tidak masuk akal.
"Kemari!" Lia tercengang. Gadis itu sudah berada di hadapannya. Apa maksudnya dengan kata kemari?
"Maksudnya?"
"Berjalanlah kemari." titah Adam tersenyum tipis.
Lia bangkit dan sekarang berdiri di samping Adam. Lelaki itu mendongak dan tersenyum melihat ekspresi wajah Lia yang terlihat bingung. Sangat mengemaskan. Ingin rasanya mencubit pipi Lia yang chubby.
"Kemari!" Adam merengkuh pinggang Lia sehingga mereka berada pada jarak yang sangat dekat. Kepala Adam menempel pada pinggang Lia.
"Buka!" titah Adam menunjuk laci dengan dagunya.
Tangan Lia gemetaran ketika harus menarik laci dihadapannya. Ada apa di dalam laci itu?
Pelan-pelan tangan Lia menarik gagang laci tersebut. Dalam sekali tarikan dia tahu Ada sebuah Map di dalam laci itu. Mam berwana hijau.
"Map?" Adam tersenyum mendengar pertanyaan Lia.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Bagaiman investigasi nya Roni?" tanya Marisa mulai tidak sabar.
"Sopir itu hanya menjalankan tugas dari bagian gudang. Kami sedang menelisir petugas gudang tersebut." Ucap Roni menjelaskan.
"Lacak semuanya. Aku tidak mau ada orang yang bermain-main denganku? Apa mungkin ini ulah kompetitor." Marisa memutar pulpen tanda dia sedikit gusar.
"Bisa jadi. Kita juga sedang mengembangkan penyelidikan ke arah sana. Ada supplier baru yang merintis bidang property di kota ini. Beberapa kontraktor mulai melirik mereka."
"Berarti kita harus cepat bertindak. Aku butuh data supplier itu. Apakah mereka bisa jadi musuh atau teman." Marisa tersenyum miring memikirkan sebuah cara.
"Baik."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Happy Reading!
Thank you!