
Happy Reading!
Klik Love!
*****
Hari berganti hari, Bulan sabit berganti bulan purnama dan beputar menurut fasenya. Sesekali hujan turun menemani malam. Kadang hujan menampakkan aura seramnya saat petir menyambar. Lebih buruk jika diikuti mati lampu. Sekarang genap satu setengah bulan kepergian Adam.
Sewaktu tinggal di kos Lia punya banyak teman. Walaupun teman-teman Lia usil dan rese. Mereka sayang dengan Lia begitupun Lia. Dia sangat menyayangi teman-teman kosnya. Setidaknya mereka masih makhluk hidup yang bisa diajak bicara. Masih ada interaksi sosial yang tercipta.
Biasanya Adam akan berteriak-teriak di pagi hari. Dia juga akan mengomel jika ada hal yang tidak disukai. Jujur Lia merindukan Omelan Adam dan tatapan bengis si bos. Tatapan jutek Adam dan aura ketampanannya. Sepi, Itulah yang Lia rasakan selama berminggu-minggu.
Sekarang Lia lebih sering tinggal di lingkungan abiotik daripada lingkungan biotik. Abiotik lingkungan untuk benda tak hidup. Tak ada napas selain napas Lia dan tak ada detak jantung selain detak jantung Lia.
Ratih sudah diterima magang. Tidak ada lagi teman yang menemaninya tidur atau masak bersama. Hal yang mengejutkan Lia, Ratih magang di tempat bos Yudha. Kenapa harus Ratih yang magang di sana? Lia ingin pingsan sewaktu mendengar berita itu. Tidak terima dan iri. Kenapa harus Ratih yang bersama bos ganteng dan tampan? Kenapa Lia harus terjebak dengan bos jutek dan kejam?
Itulah beda kecerdasan, kepintaran, kelicikan dan keberuntungan. Manusia boleh saja cerdas tapi belum tentu beruntung. Boleh juga menjadi orang licik tapi belum tentu pintar. Endingnya semua akan kalah dengan faktor luck. Keberuntungan memegang poin terbesar dalam sejarah manusia. Kalau kita runtutkan sebenarnya keberuntungan adalah pertemuan antara kesempatan dan kemampuan. (Bener gak readers)
(Maaf curcol hiks...hiks...)
Orang beruntung gak akan jadi kalau gak punya kemampuan. Orang mampu gak akan berhasil tanpa kesempatan. Maka dari itu pupuklah kemampuanmu dan galilah terus kesempatanmu. (Lia jangan menyerah Ingat lagunya D'Masiv walau aku lebih suka Best Day Of My Life). Jangan lupa juga berdoa. Faktor terbesar setelah usaha.
Lia belajar mengikhlaskan Ratih bekerja dengan bos Yudha. Mau gimana lagi Ratih belum diterima magang dimanapun. Alhasil dia merengek pada bos Yudha biar bisa bekerja disalah satu perusahaannya. Bos Yudha yang baik hati dan tidak sombong tentu setuju. Sekarang, Ratih harus tinggal di luar kota selama magang. Jika Lia kangen, dia hanya bisa Video Call dengan Ratih.
Rumah Adam sudah di renovasi. Lia sudah merenovasi rumah seperti keinginan Adam. Beberapa bagian rumah di tambahkan seperti ruang keluarga dan gazebo di luar rumah. Rumah yang dulu dia tempati sekarang sudah berubah total.
Ada penambahan ruang keluarga jika Adam punya anak dia bisa bermain dengan anaknya. Lia jadi membayangkan jika nanti dirinya akan punya anak bersama Adam.
Ruang keluarga ini sangat nyaman. Anggota keluarga bisa saling bercengkrama dan menonton saluran TV. Pun jika merasa lelah mereka bisa tertidur dan menghabiskan waktu bersantai.
Ada gazebo di luar rumah. Adam bisa bersantai dan menikmati sore hari bersama keluarga.
Pilihan warna yang segar. Adam bisa menikmati teh hangat saat senja. Dia juga bisa mengobrol dan menghabiskan malam bersama istrinya.
Melihat semua kerja kerasnya, Lia meneteskan air mata. Dia seperti mendandani kekasihnya dan bersiap menyerahkan pada orang lain. Lia telah memoles rumah lamanya. Sebentar lagi dia akan menyerahkannya untuk Adam dan keluarga barunya nanti. Sangat ironis kan?
Menghadapi hidup sendiri di rumah mewah membuat Lia bosan. Sekarang dia punya banyak teman imajinasi.
Lia bersama T-Rex. Bukan hewan sungguhan. Boneka T-Rex. Setidaknya dia punya teman mengobrol dan teman yang menemaninya tidur. Meskipun itu adalah benda tak hidup. Dia tidak akan sering melamun dan berusaha menjadi manusia normal di rumah. Saat di kantor, dia menghadapi komputer dan kertas. Lebih baik bicara dengan boneka dari pada dengan kertas.
Penjaga rumah tidak pernah ngobrol dengan Lia. Itu perintah bos Adam. Mereka juga tidak boleh menerima makan atau hadiah dari Lia. Mengenaskan bukan?
Lia menyulap kamarnya penuh nuansa dinosaurus. Biar berasa banyak temen, dia juga membeli beberapa aksesoris yang berkaitan dengan dinosaurus. Kamar yang di tempati Lia adalah kamar pembantu. Dia menggunakan gajinya untuk merenovasi kamarnya. Patah hati dan kecewa karena kamar nuansa Girly chic miliknya berubah menjadi ruang kerja bos Adam.
Drtt... Drtt...
Ada telepon masuk dari nomor yang tidak di kenal. Lia mengacuhkan panggilan beberapa kali. Lia horor jika nanti yang menelepon penipu atau orang jahat. Sekarang banyak kasus dihipnotis lewat hp. Lebih baik sedia payung daripada basah.
Ting
Notifikasi pesan
Nomor +65xxxx
Angkat Teleponnya!!!!
Lia mengacuhkannya. Kode luar negri. Tidak ada saudaranya yang di luar negri. Siapa yang meneleponnya. Bos Adam kan ada di Amerika. Ini nomor Singapura.
"Huft... Siapa lagi orang bodoh seperti ini? Kalau sudah nulis kenapa tidak sekalian diberi nama. Mana berani aku angkat kalau tidak tahu siapa yang telpon?" guman Lia.
*****
Bel rumah berbunyi. Lia benar-benar mengantuk. Jika dia tidak tidur di ruang tamu pasti dia tidak akan mendengar bel. Selama tidak di temani Ratih. Lia lebih suka tidur di sofa ruang tamu. Kalau Lia ketakutan dia bisa langsung lari keluar meminta pertolongan. Sekarang sudah malam. Kalau ada tamu masuk berarti penjaga memperbolehkan masuk. Siapa yang datang malam-malam yang dingin seperti ini?
"Wua...ngantuk! sambil menguap. Lia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
Ceklek...
Lia membuka pintu.
Tubuh Lia mematung melihat sesosok tubuh yang berdiri tegap. Dia berdiri membelakangi Lia. Penuh selidik Lia menelisik tubuh lelaki itu. Dia memandang dari atas kebawah terus-menerus.
"Maaf, cari siapa?" tanya Lia ragu.
"Minggir!"
Lia menelan salivanya mendapati bos Adam pulang. Bukannya dia akan pulang setengah bulan lagi. Kenapa sekarang bisa di sini?
Adam memasuki rumah dengan kondisi yang acak-acakan. Dia kelelahan setelah pesawat mengalami delay. Juga karena Lia terlalu lelet membuka pintu. Rasa marahnya sudah memuncak saat Lia tidak mengangkat teleponnya. Itu telpon yang cukup penting menurut Adam. Bisa-bisanya gadis kecil itu tidak mengangkat telpon bosnya dan mengacuhkannya. Bahkan beberapa kali dia mereject telponnya.
(Udah mirip lagunya Jenita Janet bos Adam, direject direject aja)
Lia ketakutan melihat Adam dengan wajah mengerikan. Wajah penuh kemarahan. Lia mendekap Mr. T dengan erat. Mr. T boneka T-Rex Lia.
"Maaf anda siapa?" tanya Lia gemetar.
Baru saja Lia menonton film horor. Dalam film ada hantu yang bisa menyamar. Dia mengelabui seisi rumah. Lia sangat ketakutan.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya Adam dengan suara yang ditekan.
"Jawab pertanyaanku dulu?" tekan Lia memastikan.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya mendapati kebodohan asisten yang dipekerjakannya. Adam bersedekap mengikuti alur yang dibuat Lia.
"Apa maumu?" hardik Adam.
"Aku hanya ingin memastikan kau manusia." jawab Lia lirih.
"Apa kau..." Adam bahkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena tuduhan Lia. Apa Adam tidak terlihat mirip manusia? Dibagian mana dia bukan manusia?
"Siapa namaku?" tanya Lia mengetes Adam.
Adam mengambil napas panjang. Dia harus bersabar menghadapi asisten yang masih kekanakan dan tidak pintar.
"Namamu si Bodoh." jawab Adam ketus.
Lia terkesiap. Bagaimana jika dia hantu? Hantu kan tidak bisa kenal orang tapi di beberapa kasus hantu bisa mengenali orang. Lia bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Dia berjalan maju dan masih mendekap bonekanya. Dalam hati Lia membaca doa-doa yang masih dia ingat. Lia mendekati Adam dan menatap mata Adam. Mata Adam tidak merah seperti di film-film. Apa dia benar bos Adam? Lia menyentuh tangan Adam. Tangan Adam terasa dingin.
Kalau manusia pasti badannya hangat. Manusia kan berdarah panas.
Adam hanya mengamati tingkah Lia. Dalam hati dia tidak sabar ingin menghukum Lia.
Lia menempelkan tangannya di dahi Adam. Dia harus berjinjit agar bisa melakukannya. Dia memeriksa suhu Adam. Biasanya dahi manusia akan tetap hangat.
Lia menarik tangannya menjauhi dahi Adam. Dia mendekap bonekanya lebih erat dan menundukkan kepalanya.
"Bos..."
"Apa sudah selesai pemeriksaanmu?" ucap Adam sarkas.
"Maaf!" Lia menunduk ketakutan. Sudah pasti dia akan digilas bosnya di mesin cuci.
"Sekarang giliran ku memeriksaku." ucap Adam tersenyum miring.
***
Thank You