
Tok...Tok...
"Iya, sebentar."
"Sayang aku merindukanmu. Jangan tinggalkan aku. Kita bisa mulai segalanya dari awal."
"Tolong , Lepaskan aku! Kau salah orang." berontak Lia. Gadis itu mendorong lelaki yang ingin memeluknya sekuat tenaga. Sayangnya tubuh lelaki itu terlalu kuat ditambah kondisinya yang setengah sadar membuat dia lebih beringas. Lia kewalahan menghadapi tenaga lelaki yang terlalu kuat bagi Lia.
Aroma alkohol begitu kuat menyeruak memenuhi rongga hidung Lia. Gadis itu menutup hidungnya dengan satu tangannya. Niatnya ingin menjauh tapi punggungnya sudah membentur tembok.
"Jangan menolakku! Aku mencintaimu. Sangat...Mencintaimu." Lelaki itu mencoba memeluk Lia. Gadis itu melihat ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang bisa membantunya.
Bugh...
Lia mengambil vas bunga di atas meja dan memukulkan vas itu di kepala lelaki di hadapannya.
Lelaki itu jatuh tersungkur ke bawah Lia. Gadis itu panik melihat darah mengalir di pelipis orang yang pingsan.
"Ya... Tuhan. Apa yang aku lakukan? Apa aku membunuhnya?" guman Lia pelan.
"Tolong...Tolong..." teriak Lia sambil terisak ketakutan.
Marisa yang baru selesai mandi mematikan kran airnya. Terdengar sayup-sayup suara orang minta tolong.
Wanita yang memakai bathrobe tersebut terkejut melihat seorang pria bersimbah darah. Ada luka di kepalanya. Lebih mengherankan karena Lia ketakutan. Apa Lia yang melakukannya?
"Ibu Marisa aku tidak sengaja." ucap Lia sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat. Raut wajahnya seketika memucat.
Marisa berusaha tenang dia mendekati lelaki yang tidur telungkup. Wanita itu menyentuh leher lelaki itu mengecek denyut nadinya.
"Masih berdetak." ucap Marisa lega. Detik berikutnya raut wajahnya berubah panik ketika membalik wajah lelaki yang ada di hadapannya.
Tangan Marisa bergetar dan memastikan lagi bahwa lelaki itu masih bernapas. Dia bergegas mencari handphonenya di kamar. Dia menelepon Ambulan dan satpam.
Lia terus mengamati Marisa. Hatinya begitu takut melihat ketakutan di mata Marisa.
"Pak Satpam, tolong bawa ke Ambulan di depan! Bilang kalau lelaki ini mabuk dan kepalanya terbentur. Aku akan mengirim orang sebentar lagi." tutur Marisa agar satpam itu menuruti.
"Baik bu, Marisa." Marisa memberikan beberapa lembar uang berwarna pink. Dua orang satpam mengangkat lelaki yang terluka ke mobil Ambulan.
"Ibu Marisa saya tidak sengaja. Saya minta maaf. Biar saya bertanggung jawab." Lia sangat gelisah. Dia takut telah melukai seseorang dengan parah. Bagaimana nasib orang itu ke depannya? Gadis itu merasa dunianya begitu hancur. Tidak pernah sekalipun dia ingin menyakiti seseorang.
"Kau ingin masuk penjara?" Lia tersentak mendengar selorohan Marisa yang lebih mirip sindiran. Dia tidak ingin masuk penjara. Masa introgasi waktu itu membuat Lia lelah dan stress. Gadis itu menggeleng.
"Saya bersalah. Saya harus bertanggung jawab. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya." Lia masih mendesak Marisa agar membiarkan Lia melakukan sesuatu.
"Pikirkanlah sebelum bertindak. Kau bisa mengacaukan banyak hal dengan kepanikanmu." gertak Marisa.
"Tapi Bu Marisa..."
Marisa membuka kelima jarinya agar Lia diam. Dia juga panik tentang keadaan orang itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Namun, wanita itu berusaha tenang. Dia tidak ingin Lia curiga.
"Roni, Aku mengirim orang ke rumah sakit. Ada masalah. Tolong kau pantau! Akan ku kirim alamat rumah sakitnya."
Panggilan berakhir Marisa menutup teleponnya. Dia mendesah lemah. Rasanya jantungnya berdetak tak karuan.
"Kita akan pergi. Aku ganti baju dulu." Setelah menarik napas panjangnya, Marisa meletakkan handphone di meja. Dia kemudian berjalan menuju kamarnya. Perasaannya campur aduk.
"Saya juga akan ganti baju. Ada bau alkohol dan sedikit darah." Wanita yang memakai bathrobe putih itu berhenti dan berbalik. Dia menatap Lia memincing. Kemudian, dia berjalan mendekati Lia.
"Jangan! Pakai saja jaket untuk menutupinya!" larang Marisa dengan tatapan yang sulit di artikan Lia. Penuh amarah dan kegelisahan.
"Tapi Bu Marisa." rengek Lia tidak nyaman. Bau Alkhohol dan bau amis darah membuatnya ingin mual.
"Bawa saja pakaian ganti tapi jangan lepas bajumu sebelum aku perintahkan. Biarkan seperti itu dulu!" saran Marisa. Dia berlalu pergi menuju kamarnya tanpa menoleh pada Lia.
*******
"Bagaimana?"
"Dia tidak apa-apa hanya perlu 10 jahitan di pelipisnya." terang Roni menenangkan Marisa.
"Apa yang Lia lakukan sampai dia harus di jahit?" guman Marisa pelan.
"Pecahan kacanya mengenai pelipisnya dan butuh jahitan agar pendarahannya cepat berhenti. Kami juga sudah melakukan CT Scan. Tidak ada pendarahan di otak." jelas Roni secara cepat.
"Tidak perlu di CT Scan. Kepalanya sudah keras karena dia keras kepala dan bodoh." ejek Lia dengan nada sinis.
"Apa yang harus saya lakukan kalau dia sadar Bu Marisa." Raut wajah Roni terlihat cemas. Sejujurnya dia merasa sangat khawatir dengan lelaki yang terbaring lemah di rumah sakit.
"Tinggalkan saja dia! Beri sedikit uang untuk kompensasi!" ketus Marisa terlihat kesal.
"Apa Ibu Marisa tidak ingin melihatnya?"
"Aku tidak tertarik melihatnya." sinis Marisa.
"Bu Marisa, selama ini dia tinggal di hotel. Perusahaannya sedang tidak baik. Seluruh hartanya sudah dikuasai istrinya. Apa kita akan meninggalkannya?" ucap Roni berharap belas kasih Marisa.
"Apa aku harus mengurusinya? Apa kau tidak ingat apa yang sudah dia lakukan padaku?" Mata Marisa berkaca-kaca. Kedua bola matanya terasa panas dan tenggorokannya tertahan sesuatu.
"Maaf Bu Marisa." Roni menundukkan kepalanya. Bibirnya sedikit bergetar.
"Dia sudah menyakitiku. Apa aku harus memaafkannya dan melupakan semua tindakan jahat yang sudah dia lakukan padaku?" ucap Marisa dengan suara tertahan. Mereka berada di rumah sakit, wanita itu tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"Semudah itukah dia mendapatkan maaf dan semudah itukah aku harus melupakan semua tindakannya padaku? Aku tidak rela dia mendapatkan hidup yang mudah." lontar Marisa menekankan beberapa kata. Hatinya tertiris sangat dalam. Dibalik sikap diamnya, banyak rahasia hidup yang dia pendam.
"Saya akan menuruti perintah ibu Marisa." Setelah berbicara dengan Roni Marisa pergi menuju rumah sakit yang berbeda.
******
"Saya sudah melakukan Visum pada nona Lia. Tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Ada sedikit memar di lengannya karena cengkraman. Selebihnya tidak perlu dikhawatirkan." terang seorang dokter wanita yang juga merupakan rekan Marisa.
"Apa bisa melakukan tes darah pada darah yang ada di baju Lia." tanya Marisa penasaran.
"Tes darah?" ulang dokter wanita itu.
"Iya karena dia minum alkhohol. aku juga ingin tahu ada kandungan apa di darahnya. Apa dia menggunakan obat terlarang atau penyakit yang dia derita." desak Marisa agar dokter itu mau menuruti Marisa.
Lia tercengang dengan ucapan Marisa. Wanita dihadapannya sangat amat mengerikan. Apa sedetail itu dia harus mengetahui segala sesuatu tentang lelaki itu?
"Apa itu perlu Bu Marisa?" tanya Lia dengan hati-hati.
"Perlu. Aku ingin tahu. Bagaimana kalau dia punya penyakit menular? Kau mau tertular?" sinis Marisa berusaha menakuti Lia dengan tatapannya.
"Bu Marisa. Dia kan juga rumah sakit kenapa tidak mengambil darahnya langsung." saran Lia. Dia cukup keder dengan tatapan tajam Marisa yang sangat menusuk.
"Aku tidak mau ada orang yang tahu."tegas Marisa membuat nyali Lia ciut.
"Akan ku kirim di bagian laboratorium. Siapa orang yang membuatmu sangat penasaran?" ucap dokter cantik yang bernama Clara.
Dokter wanita itu mengerling seraya tersenyum menggoda Marisa.
"Aku harus menulis namanya kan?" desak Clara berusaha membuat Marisa semakin kesal.
"Satya... Satya Mahardika."
"Ups... Dia ternyata masih membuatmu penasaran." canda Clara Hinggan membuat wajah Marisa memerah
"Clara!" pekik Marisa.
"Marisa kau sudah me..." Marisa menajamkan pandangannya pada dokter Clara. Sebelum wanita itu melanjutkan perkataannya. Bagaimanapun apa yang ingin dikatakan Clara adalah rahasia.
Clara sontak menutup mulutnya menyadari ada orang asing yang tidak boleh tahu rahasia Marisa.
"Lakukan tugasmu dan kabari aku! Masalah lain biar aku urus."
"Traktir aku akhir pekan! Semua akan beres dalam dua hari." jawab Clara penuh kepastian.
"Jangan khawatir. Aku pulang dulu." pamit Marisa meninggalkan temannya yang tersenyum cekikikan.
Wajah Marisa sudah merah padam di buatnya. Lia kebingungan melihat dua wanita yang lebih tua darinya. Dia memandang Marisa penuh tanya.
******
"Sial!" Gerutu Adam melempar Handphonenya asal di atas kasur.
"Kenapa dia tidak punya handphone?" monolog Adam dengan wajah kesal.
Tok....Tok....
"Masuk!" titah Adam masih dengan wajah tertekuk.
"Ada kabar terbaru, Tuan."
"Kabar apa? Apa sangat penting?"
"Tuan Satya sudah kembali."
"Satya? Bagaimana dengan Davina?" tanya Adam yang duduk di tepi ranjang.
"Dia datang sendiri tanpa nona Davina. Sekarang, dia di rumah sakit." terang pak Wo.
Adam mengernyitkan dahi memandang pak Wo. Dia heran kenapa dia di rumah sakit. Apapun yang terjadi dengan Satya tidak akan bisa menepis semua kemarahan uang sudah memuncak. Tangannya mengepal ingin menyalurkan semua amarah yang dia pendam selama ini.
********
Thank You