Be My Home

Be My Home
My Home



**Klik Love!


Happy Reading**!


********


*Sekarang giliran ku memeriksaku." ucap Adam tersenyum miring.


Lia membelalakkan matanya. Dia mundur beberapa langkah menjauhi Adam. Lia mendekap Mr. T erat seolah enggan berpisah.


Adam melangkah maju mendekati Lia. Dia memasang tampang garangnya agar Lia semakin ketakutan. Menggoda gadis kecil dihadapannya membuat Adam tersenyum puas.


"Bos." Lia memanggil Adam agar dia berhenti. Sekarang tubuh Lia sudah merapat di tembok. Lia tidak bisa mundur lagi. Adam semakin dekat dan mengikis jarak. Lelaki itu mengurung Lia dalam lengan kokohnya.


Entah mengapa Lia merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat. Dia berusaha mengatur napas mengatasi kegugupannya. Lia memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa menatap Adam dalam jarak sedekat ini. Apa yang akan Adam lakukan? Apa dia akan mencium Lia lagi?


Adam masih memandangi Lia. Dia teringat kejadian satu bulan setengah yang lalu. Dia begitu tertarik dengan wanita dihadapannya. Lelaki itu lekat memandangi Lia mencari dimana letak daya pikatnya hingga Adam bisa terlena dan melupakan janjinya.


Lia merasa risih Adam terus melihatnya. Dalam pikirannya dia teringat bagaimana Adam menciumnya. Bagaimana bisa Adam tertarik padanya? Ibu Marisa bahkan lebih cantik dan lebih dewasa dari Lia. Kenapa Adam tidak tertarik dengan Marisa? Apa kekurangan wanita cantik itu?


Lia teringat kata-kata Adam bahwa dia tidak tertarik dengan wanita. Apa itu bohong? Kali ini Lia memberanikan diri. Dia memutar kepalanya berhadapan dengan Adam. Seluruh tubuhnya terasa dingin karena takut. Kalau tidak sekarang Lia tidak akan menemukan jawabannya.


Lia dan Adam dibatasi boneka yang di dekap Lia. Adam menautkan aliasnya. Dia menyadari keberanian gadis di depannya yang balas menatapnya.


"Kau menantangku?"


"A...ku... ingin memastikan." Lia tergagap menyatakannya.


Lia menautkan manik mata dengan Adam. Lia terhipnotis menatap mata Adam yang begitu tajam. Bibirnya yang seksi pernah mendarat di bibirnya. Seluruh tubuhnya merinding waktu itu. Dia bahkan tidak bisa mengontrol dirinya. Lia memutar rekaman bagaimana dia bisa terlarut bersama Adam. Lia bahkan bisa melupakan Robert karena Adam.


"Baiklah! Kita pastikan sama-sama."


Lia tercekat dengan jawaban Adam. Tetap saja Lia kalah jika harus melawan Adam. Lia bingung kenapa dia malah menatap Adam. Bisa-bisanya dia terpukau dengan ketampanan bosnya, Bos juteknya.


"A...pa yang akan kita pastikan?"


"Sesuai keinginanmu." Adam berbisik di telinga Lia. Hembusan hangat menerpa telinga Lia yang menimbulkan sengatan listrik di sekujur tubuhnya.


"He...he.." Lia tersenyum pelik berusaha mengubah rencana awal. Dia juga berusaha menyembunyikan rasa paniknya. Lia mendorong Adam dengan bonekanya agar Adam menjauh. Dia berharap mendapat suplai oksigen yang cukup. Berlama-lama dengan bos Adam membuat Lia sesak napas.


Adam masih tak berpindah tempat. Tenaga Lia tak cukup kuat untuk mendorongnya. Gadis itu menurunkan tangannya dan bersikap semanis mungkin.


"Bos, pasti ingin mandi. Saya siapkan air dulu ya bos?" sambil cengengesan.


"Saya juga akan siapkan makan. Bos pasti lapar." rayu Lia.


Adam memundurkan tubuhnya menjauhi Lia. Hari ini dia sangat lelah. Dia sedang malas berdebat dengan Lia. Badannya kelelahan karena Jet Lag.


"Cepat!!" bentak Adam.


Lia lari terbirit-birit mendengar bentakan Adam. Akhirnya dia terbebas dari terkanan si raja purba.


Adam selesai mandi dan menikmati makanannya. Dia mengunyah makanannya dengan pelan karena banyak yang dia pikirkan. Seharusnya dia belum kembali ke Indonesia. Semua karena Lia tidak mengangkat telponnya. Sekretarisnya sedang cuti karena menikah. Jika Lia mengangkat telponnya, Adam tidak perlu pulang untuk mengambil berkas.


Akhir-akhir ini tidak banyak orang yang bisa diandalkan. Eric pergi karena kehamilan istrinya yang bermasalah. Belum bisa dipastikan kapan dia pulang. Dia akan fokus mengurus istri dan calon anaknya. Eric bahkan ingin resign tapi Adam menolaknya. Eric adalah orang kepercayaan Adam sekaligus teman masa kecilnya.


Adam memakan makanan dengan tatapan yang kosong. Pekerjaan akhir-akhir ini sangat sibuk. Merepotkan jika tidak punya asisten atau sekretaris. Mencari orang yang di percaya juga tidak mudah. Menyusun proyek-proyek sebesar ini tanpa Asisten cukup melelahkan.


Lia yang berdiri di belakang Adam keheranan dengan sikap bosnya yang mendadak kalem. Apa bosnya kesambet karena sering kelayapan di malam hari. Gadis itu menatap punggung bosnya yang tampak lelah.


"Lia."


"Eh... Iya bos." Lia gelagapan saat Adam memanggilnya. Dia baru tersadar dari lamunannya. Lamunan memeluk bosnya. Benar-benar bersama bos Adam harus kuat iman.


"Kemasi barang-barangmu sekarang!" titah Adam datar.


Lia tersentak. Gadis itu terdiam mencoba mencerna ucapan bosnya. Apakah Adam main-main? Apa Adam sedang bercanda?


Ini sudah malam pikir Lia. Ini menjelang subuh. Ini pukul setengah satu malam. Tidakkah Adam memiliki nurani mengusir gadis cantik tengah malam begini. Lia berdiri mematung. Dia ingin membuat Adam mengulang perintahnya dan mengganti isinya.


Sudah berakhir. Apa Adam pulang karena renovasi rumah sudah selesai. Berarti tugas Lia juga sudah selesai. Kontrak kerja Lia sudah selesai. Aneh mengapa terasa sangat getir di dalam dada. Air mata Lia menggenang memenuhi seluruh kelopak matanya. Semampunya dia menahan. Menahan butir kristal itu tetap di tempatnya. Tetap diam dan tak mengalir ke luar.


Lia tidak mampu mendeskripsikan perasaannya. Gambaran perasaan macam apa yang bergejolak di dalam hatinya. Ini bukan rumahnya. Bangunan ini bukan lagi miliknya. Semampu hati ingin mempertahankan dan memolesnya hingga cantik tetap saja rumah ini bukan miliknya.


Perih dan sesak dadanya harus berpisah dengan rumahnya. Sekuat hati merelakan ada rasa enggan di rasa.


"Selamat Tinggal rumah... ku. Jaga dirimu baik-baik! Aku pergi." ucap Lia dalam hati penuh kegetiran.


"Saya akan berkemas, Pak. Trima kasih untuk kerja samanya selama ini!"


Lia pergi berlalu dengan air mata yang bercucuran. Tidak bisa di tahan. Air itu mengalir tanpa permisi dan tak kunjung berhenti.


Gadis itu mengambil bonekanya dan selimut yang dia pakai tadi. Di dalam kamar Lia menangis sesenggukan sambil mengemasi barang-barangnya. Ada banyak baranga yang harus Lia tinggalkan karena kopernya tidak muat. Mungkin dilain waktu Lia akan bisa mengambilnya atau dia harus merelakan barang-barangnya untuk pemilik kamar ini.


Lia menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Dia merasa sulit bernapas. Beberapa tisu sudah Kumal karena dipakai menyeka air mata. Lia merasa lelah dan takut.


Atas dasar apa Lia tidak terima di usir. Adam pemilik sah rumah ini. Ini hak Adam untuk memberhentikan seseorang. Setidaknya Adam bisa mengusirnya esok pagi. Apa ini karena sikap Lia tadi pada Adam. Apa bosnya matah? Seharusnya Lia lebih berhati-hati ketika bicara dengan bosnya. Ini sudah terlambat. Adam sudah marah.


"Apa aku harus pergi malam-malam seperti ini. Aku masih ingin tidur di kasurku. Bersama para Dinoku." ucap Lia penuh keputusasaan.


Lia mendekati ranjang. Dia duduk di pinggir ranjang dan mengusap-usap ranjangnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Aku akan merindukan kalian semua." ucap Lia lirih.


*******


**Tinggalkan Jejak!


Thank You**!