Be My Home

Be My Home
Isyarat tanpa Kata



"Tuan Satya bagaimana keadaan anda?" tanya Roni khawatir.


"Roni, kaukah itu?" lelaki itu memincingkan mata memperjelas pandangannya.


"Iya tuan."


"Panggil saja aku Satya. Kehidupanku sudah berbeda sekarang." ucap Satya lesu.


Seorang perawat berjalan dengan senyuman manis yang teriring untuk kedua lelaki di ruangan.


" Tuan Satya, Anda bisa pulang sekarang. Silakan kontrol jahitan 3 hari lagi. Ini kartu kontrolnya." ucap perawat dengan lembut seraya menyerahkan sebuah kartu.


"Mari saya antar pulang, Tuan!" ajak Roni berusaha memapah Satya.


"Pulang? Aku tidak punya rumah. Aku juga tidak punya orang yang mengharapku kembali." senyum tipis terukir di sudut bibir satya perlahan menghilang. Lika-liku perjalanan hidupnya membuatnya belajar banyak hal. Namun, pengetahuan yang didapatkan malah membuatnya tersiksa.


"Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Roni setelah melihat Satya melamun dengan wajah sendu.


*******


"Apa ini Bu Marisa?" dahi perempuan itu mengernyit mendapatkan beberapa pakaian formal di dalam beberapa paper bag.


"Kau akan bekerja padaku. Mulai sekarang kau asisten ku?" ucap Marisa tanpa memandang Lia. Dia sibuk memeriksa beberapa chat di handphonenya.


Mata Lia sontak terbelalak tak paham perkataan Marisa. Bagaimana bisa dia bekerja dengan Marisa terlebih nama perusahaan yang di maksud Marisa adalah perusahaan tempatnya bekerja dulu.


Siapa sebenarnya Marisa?


"Ini? Maaf Bu Marisa. Saya tidak bisa bekerja di perusahaan ini?" tolak gadis itu halus.


Marisa tersenyum miring. Dia meletakkan secangkir teh hijau di meja. Dengan bersedekap dia menatap Lia tajam. Dagunya dimajukan menanyakan maksud ucapan Lia.


"Saya pernah bermasalah dengan perusahaan ini, Bu Marisa. Saya di fitnah melakukan tindakan yang tidak saya lakukan." ungkap Lia. Marisa hanya tersenyum geli.


"Aku tahu." Lia mendongak sementara Marisa menyesap teh hijau dengan santai.


"Ibu tahu? Saya tidak bisa bekerja lagi di perusahaan itu. Saya tidak mau." Gadis itu menggeleng kasar. Seperti ada trauma tersendiri.


"Aku tahu semuanya karena aku yang melakukannya?" Marisa memandang Lia yang terperangah tak percaya. Sudut bibirnya tertarik mengganggap reaksi Lia adalah hal yang lucu.


"Apa?" pekik Lia.


"Lalu kenapa saya harus bekerja di kantor yang sudah memfitnah saya?"


"Tugasmu sederhana. Bersihkan nama baikmu dan semua masalah akan selesai." tutur Marisa santai.


"Itu tidak mudah Bu Marisa. Mereka sudah memberiku stigma negatif. Mengapa Bu Marisa melakukan itu padaku? Apa salahku?"


"Tidak ada. Waktu itu aku hanya butuh kambing hitam tapi semuanya sudah beres. Kau bisa membersihkan nama baikmu mulai sekarang."


"Bu Marisa tekanan psikis yang saya alami belum sembuh. Apa Bu Marisa tidak kasihan pada saya?" iba Lia memelas.


"Dengar Lia! Jangan berfikir tentang perasaanmu! Acuhkan saja! Orang tidak akan tahu apa yang tersembunyi di hatimu. Lagi pula siapa yang akan menjelekkanmu kalau kau bersamaku. Pastikan kau berjalan lurus dan jangan merintih hanya karena kau terluka !" tekan Marisa dengan bahasa datar.


"Bu Marisa!" ucap Lia lemah.


"Terlalu merasakan hanya membuatmu lemah, ingin dikasihani dan mudah dianiaya. Jadi jangan mudah merasakan perasaan yang bias seperti itu!" terang Marisa dengan nada meninggi.


"Saya tidak tahu maksud Bu Marisa." Sekarang gadis itu menggeleng pelan. Dia bingung dengan ucapan Marisa yang mengandung makna tersembunyi.


"Kau tahu bagaimana cara membunuh orang dengan cepat?"


Lia bergeming tidak tahu maksud perkataan Marisa. Nyalinya ciut karena Marisa menekan pulpen dengan kuat di tumpukan kertas.


"Serang hatinya. Semakin dia kecewa dia akan mudah mati."


"Jadi jangan mudah memberi hati pada siapapun. Jangan berharap apapun pada manusia. Semakin kau berharap semakin kau kecewa."


Lia mencerna setiap ucapan Marisa meskipun penuh umpatan dan kemarahan. Dibalik sosok tubuhnya yang kuat ada jiwa ringkih yang tengah tercabik. Entah apa dan siapa yang melakukannya. Sungguh wanita itu tengah bersedih berkepanjang.


*****


"Tuan, ada informasi." pak Wo berkata sambil mendekati Adam yang tengah duduk santai.


"Katakan!"


"Tuan Satya kembali." Adam menghentikan semua aktivitasnya dan menoleh pada pak Wo.


"Satya? Bersama Davina?"


"Dia sendirian dan Sekarang di rumah Roni." jelas pak Wo.


"Bawa aku ke sana?"


Mereka berdua pergi mengendarai sedan warna silver. Adam tampak tergesa-gesa ingin mengetahui kabar selanjutnya.


*******


"Tuan Adam, Apa gerangan yang membuat anda kemari." Roni beramah- tamah menyambut Adam.


"Jangan bertele-tele Roni. Dimana Satya?" Dengan wajah memburu Adam berjalan memasuki rumah Roni tanpa memperdulikan pemilik rumah.


"Apa maksudmu? Kau melindungi orang jahat itu. Dia mempermainkan kakakku dan sekarang dia menelantarkan istrinya". Bentak Adam . Seluruh wajahnya memerah menahan amarah. Dia ingin segera menghajar Satya dan mematahkan seluruh tulangnya.


"Satya, Bangun! Kenapa kau menelantarkan Davina? Dia istrimu kan?" ucap Adam sarkas.


"Hm... Istri? Seharusnya kau tahu wanita seperti apa dia." bela Satya santai memegangi lengan Adam. Tangan Adam sudah terlanjur menyambar Krah baju Satya. Lelaki itu berusaha tidak terprovokasi dengan tindakan Adam.


"Dia Davina. Seorang wanita baik yang kau hancurkan masa depannya." Satya tertawa terkekeh mendengar pernyataan Adam. Sepertinya semua perkataan Adam adalah hal lucu yang sangat menggelikan.


"Ha...ha...Wanita baik? Kau harus menyelidiki dia dengan benar baru berkata dia wanita baik. Sejujurnya dia monster." tukas Satya dengan tekanan pada kata terakhir.


"Tutup mulutmu! Perhatikan semua kata-katamu. Sekali lagi kau menghinannya aku akan..."


"Akan..." tantang Satya membusungkan dada.


"Aku menyelamatkanmu dari wanita licik itu." sambung Satya menajamkan pandangannya pada Adam. Dia tidak ingin ada orang yang berani menekannya.


Suara tepukan dari luar kamar Satya membuat kedua lelaki itu menoleh.


Seorang wanita anggun memasuki kamar Satya di ikuti seorang wanita cantik dengan pakaian formal.


"Apa aku ketinggalan berita terbaru. Aku lihat mantan suamiku dan adikku terlibat perseteruan hebat karena seorang Davina." Wanita itu berjalan mendekat.


Satya bersedekap dan mengalihkan pandangannya pada Adam. Sebaliknya Adam malah menatap intens Satya setelah menurunkan tangannya dari Krah baju Satya.


Di sisi lain Lia menganga dengan pengakuan Marisa bahwa Adam adalah Adiknya. Jadi Mereka semua punya hubungan terutama berkaitan dengan seorang yang bernama Davina. Lia teringat beberapa kali Adam pernah menyebut nama Davina.


Apa hubungan wanita itu dengan Adam atau mantan suami Marisa?


"Sudah selesai perdebatan kalian? Siapa yang menang?" ejek Marisa.


"Risa!" ucap Satya sendu. Dia berjalan mendekati Marisa.


Adam menghalangi Satya mendekati Marisa. Tangan Satya hendak meraih tangan Marisa tapi dihempaskan begitu saja oleh Adam.


"Singkirkan tangan kotormu!" pekik Adam.


"Ris, Aku sudah tidak punya hubungan dengan Davina. Percayalah!" ucap Satya memelas.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Adam dengan suara meninggi.


"Aku sudah mengajukan gugatan. Tinggal tunggu anak itu lahir dan kami akan resmi berpisah." terang Satya yang membuat Adam bertambah marah.


"Davina hamil? Kau mengugat istrimu yang sedang hamil? Manusia macam apa dirimu?" bentak Sdam.


Marisa tersenyum tipis menanggapi kemarahan Adam. Sebenci apapun Adam pada dirinya dia tetap akan melindungi kakaknya dan juga untuk wanita yang pernah hadir di hidupnya.


Adam mengepalkan tangan hendak menghajar Satya tapi Marisa menahannya.


"Jangan kau kotori tanganmu! Acuhkan saja!"


"Ris, Aku mencintaimu" Ada getar tulus dari ucapan Satya.


Lia melihat mata Marisa berkaca mendengar pengakuan Satya. Wanita itu mengulum bibirnya agar tak ada butir bening yang menetes. Lia bergeming melihat semua yang muncul di netranya. Adam yang tengah terbakar emosi. Satya yang penuh penyesalan dan Marisa yang berusaha tegar. Wanita itu memasang perisai baja di hatinya. Tak ingin ada yang bisa menembusnya. Dingin dan kaku.


"Lupakan saja semuanya! Itu lebih baik untuk ke depannya." tutur Marisa dengan suara rendah.


"Aku datang kemari karena..." Wanita itu menjeda ucapannya memandangi wajah Satya yang penuh penyesalan.


Wajah Satya berharap menunggu ucapan Marisa selanjutnya.


"Kau ingin mengajakku pulang?"


"Biarkan aku menghajarnya! Laki-laki tidak tahu malu ini." sambar Adam tidak sabar ingin mendaratkan bogem mentah ke wajah Satya.


"Adam, kendalikan dirimu!" tahan Marisa.


"Kakek sakit. Mungkin dia ingin bertemu denganmu. Kau bisa pulang dan menjenguknya."


"Kau menjemputmu?"


"Jangan salah sangka. Roni akan mengantarmu. Aku akan pergi bekerja."


"Marisa." ucap Satya lirih.


"Jauhi dia!" tekan Adam saat Satya hendak mengikuti Marisa. Dia menahan Satya Agar tidak mendekati kakaknya.


Marisa pergi meninggalkan ruangan itu di ikuti Lia. Gadis itu masih mengingat pesan Marisa untuk jangan meletakkan hati sembarangan terutama untuk orang yang tidak tepat. Mungkin Adam bukan orang yang tepat untuk hatinya.


Sekilas Lia menatap Adam berharap lelaki itu mengerti isi hati Lia. Adam membalas tatapan Lia. Walau sekilas ada rasa damai di hati Lia. Gadis itu berfikir Adam masih memperdulikannya. Sepertinya ada sedikit celah berisi Lia.


Tanpa ada sepatah kata yang terucap mereka saling bersitatap. Menumpahkan kerinduan yang tak bisa di ungkap lewat kata.


"Ayo Lia!" ajak Marisa setelah menyadari Lia terpaku pada satu titik.


Lia pun pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Kepalanya tertunduk menyadari keberadaan bukan yang di harapkan Adam. Ada sosok Davina yang begitu mengakar di hati lelaki itu.


******