
Dengan langkah lunglai seorang gadis berjalan beriringan dengan gadis berkucir kuda.
"Yakin, Ya. Kamu nggak apa-apa? Gimana kalau kita ketemu Amel lagi?" ucap gadis berkucir kuda cemas.
"Aku juga nggak tahu, Tih. Semua data softfile skripsi ku sudah aku backup di Drive, di flashdisk sama di email. Kalau ada kejadian kayak kemarin aku udah siap." ujar Lia memantapkan diri.
"Laptop sama Handphonemu gimana?" tanya Ratih khawatir.
"Aku ikhlasin aja. Apa aku bisa minta pertanggungjawaban Amel?"
"Amel ngeri banget ya!" Ratih bergidik membayangkan kejadian kemarin.
Jantung Ratih berdetum-detum menyadari seseorang di belakang mereka sedang mengawasi.
"Iya, Tih." cicit Lia dengan mata melirik seseorang. Dia juga menyadari kehadiran seseorang.
"Eh, Masih berani?" hardik wanita dengan rambut bergelombang. Dia berkacak pinggang dan menampilkan wajah sangarnya.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa sama aku?" cicit Lia berusaha mempertahankan map yang di pegang dari incaran wanita yang baru datang.
"Kamu yang ngrecokin aku. Kamu mau ngrebut calon suami aku?" Kedua gadis itu melongo. Siapa calon suami yang di maksud Amel?
"Suami?" ucap kedua gadis bersamaan.
"Siapa calon suami kamu?" tanya Lia masih berusaha mempertahankan map berisi hardfile skripsinya.
"Adam. Dia calonku. Kami sudah menjajaki hubungan secara serius." ungkap Amel dengan segala kebohongan yang melingkupinya.
"Kamu nggak akan aku lepasin begitu saja." Amel mendorong Lia hingga terjungkal ke belakang. Gadis itu berhasil merebut map di tangan Lia. Senyum kemenangan terlukis di wajahnya.
"Amel, Jangan keterlaluan. Skripsi ini penting buat aku." teriak Lia tidak tinggal diam. Gadis itu berusaha berdiri berhadapan dengan Amel.
Mereka berdua bersitatap. Lia dengan wajah serius berusaha mengintimidasi Amel yang tertawa terkekeh seraya memegang map.
"Coba lihat seberapa berani kamu?" tantang Amel dengan wajah menyeringai.
"Duel saja kalah?"
Kata-kata Adam terngiang di kepala Lia. Dia merasa ada energi baru yang membuatnya melawan Amel.
"Dengar Amel. Kita pernah berteman dan aku menghargai itu. Namun, Dengan sikapmu seperti ini. Aku juga bisa melawan." tantang Lia. Gadis itu berusaha menampakkan wajah serius.
"Kau berani? Apa yang kau miliki. Sekarang kau miskin dan menggelandang." ejek Amel seraya mengibaskan map yang dia pegang.
"Aku punya sesuatu yang harus kau perhitungkan." Amel mengernyitkan dahi heran dengan sikap Lia yang dinilai berani.
"Apa maksudmu?"
"Rekaman CCTV kelakuanmu padaku. Kalau kau pintar itu adalah senjataku melawanmu." gertak Lia tak mau kalah. Raut wajah Amel seketika berubah menjadi panik.
"Apa kau mengancam ku?" Amel memegang kuat krah baju Lia. Gadis yang menjadi korban mengibaskan tangannya agar tangan Amel mengurai.
"Tidak, jika kau tidak memulainya. Aku hanya memberi bumbu agar ini lebih menarik." ancam Lia dengan kata terjeda.
"Sekarang pilihan di tanganmu. Jangan usik aku atau kau akan jadi viral seperti harapanmu." sambung gadis yang berhasil merebut mapnya kembali. Senyum kemenangan terukir di bibir Lia.
"Aku bisa melaporkanmu ke polisi karena pencemaran nama baik." ancam Amel dengan telunjuk yang mengarah ke muka Lia. Lia menampik telunjuk Amel. Dengan wajah seringai dia menatap Amel tajam.
"Nama baik? Nama baik yang mana yang kau punya? Jelas aku tidak melawan. Dan ya, itu tidak akan ku sebar ke medsos. Sebaliknya, Adam harus tahu calon istrinya seperti apa." gertak Lia.
"Jangan kurang ajar."
"Aku akan diam selama kau tidak menggangguku. Jika ya? Jangan harap aku melepaskanmu?" tantang Lia.
"Aku tidak akan menggangumu asalkan jauhi Adam."
"Aku tidak janji tapi jika kau berkelakuan baik akan ku pertimbangkan."
"Jangan lupa kerugian materiil yang harus aku derita." sambung Lia memastikan Amel bertanggung jawab.
"Akan ku transfer di rekeningmu." sinis Amel.
Amel pergi menjauhi mereka berdua dengan langkah terburu-buru.
Lia mendesah panjang tubuhnya tremor karena ketakutan. Dia merasa dia tidak menjadi dirinya saat ini. Apa Lia kerasukan?
"Ya, Kamu hebat." puji Ratih sambil bertepuk tangan.
"Aku gemetaran Tih. Aku ketakutan." ungkap Lia langsung terduduk begitu melihat Amel tak terlihat.
"Aktingmu hebat. Amel sampai ketakutan." puji Ratih bersorak.
"Kok kamu bisa berubah dalam semalam?" heran Ratih.
"Semalam aku di rasuki roh jahat." ucap Lia slegehan berusaha bercanda. Dia tersenyum tak habis pikir.
"Kita harus dapatkan rekaman CCTV kejadian kemarin." Ratih melongo mendengar penuturan Lia yang sangat jujur.
"Lho, bukanya tadi kamu bilang punya."
"HP sama laptop aku aja rusak gimana caranya aku nyimpen rekaman." tutur Lia menerawang.
Lia masih tertegun dengan keberaniannya melawan Amel.
"Aku pikir kamu pinter." ledek Ratih mencebik.
"Tidak peduli kamu kucing atau harimau. Aumanmu harus sekeras Singa." nasihat Lia spontan.
"Ini gertakan aja."
"Bos Adam yang ngajarin. Kita harus terlihat kuat meskipun kita lemah."
"Kamu yakin Adam calon suami Amel?" Lia menggeleng ragu.
"Aku kok nggak yakin. Soalnya Amel belum pernah main ke rumah. Bos Adam juga nggak pernah cerita tentang Amel."
Lia mengajak Ratih menemui dosen pembimbing. Dari kejauhan Lia melihat Amel sedang menelepon seseorang dengan wajah serius.
Mereka berdua mengacuhkan Amel dan menuju kantor dosen.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Ayah, ada masalah. Aku butuh bantuan."
"....."
"Akan ku jelaskan nanti. Ini sangat urgent. Gadis itu bisa jadi penghalang kita." tekan Amel.
"...."
"Dia harus disingkirkan."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Satya, apa maumu? hardik Marisa dengan Rasa dongkol.
"Sayang kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Satya ingin menyentuh pipi Marisa tapi dengan sigap wanita itu menepisnya.
"Jangan bertele-tele! Apa yang kau inginkan?"
"Duduklah dulu. Lama tidak berjumpa. Kau terlihat lebih kurus dari tiga tahun yang lalu. Apa kau tidak menjaga dirimu dengan baik? Aku merasa sedih." Satya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Apa maumu?" ucap Maris mulai tidak sabar
"Aku ingin kita rujuk." dengan bertopang dagu dia memandang Marisa yang diliputi amarah.
"Itu hal yang tidak mungkin.
"Kita masih bisa rujuk." ucap Satya meyakinkan.
"Aku tidak mau. Apa kau tidak malu menjilat ludahmu sendiri? Bagaimana bisa kau merendahkan dirimu seperti ini?" sindir Marisa dengan wajah berpaling. Menjauh dari tatapan Satya yang penuh kerinduan.
"Aku ingin dirimu. Satu paket lengkap dirimu. Kita bisa mulai dari awal." Lelaki itu berdiri berhadapan dengan Marisa memandang wanita yang selama tiga tahun terakhir tidak ditemuinya.
"Aku tidak bisa melakukannya. Hubungan kita sudah berakhir detik saat kau meninggalkanku." Marisa memandang nanar mengingat terakhir kali dia berpisah dari Satya.
Lelaki itu menarik napas panjang. Wanita dihadapannya sudah berbeda dari tiga tahun yang lalu. Wanita yang penuh kelembutan dan kasih sayang sekarang menjadi wanita dingin dan acuh.
"Bagaimana kabar Adam?" Marisa menoleh memincingkan mata.
"Dia baik!" ucapnya dengan suara tinggi dan terjeda.
"Apa dia marah padaku." ucap Satya lirih.
"Jangan ganggu dia. Dia baik-baik saja." ucap Marisa tergetar mimik wajahnya menampakkan kekhawatiran.
"Kenapa kau terlihat khawatir. Kau belum memberi tahu sebenarnya?" Satya mengikis jarak dengan Marisa. Marisa mendongak dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kau berniat menyabotase perusahaanku. Aku dengar kau bangkrut." sindir Marisa dengan senyum seringainya.
"Sekarang kau lebih ekspresif. Aku menyukainya. Aku ingin dirimu bukan perusahaanmu."
"Sayangnya, aku tidak menginginkanmu lagi." ketus Marisa tersenyum pelik.
"Kau harus mau atau aku akan mengambil semuanya secara paksa." ancam Satya. Lelaki itu mencekal pergelangan tangan Marisa. Wanita itu tersenyum dan mendekatkan bibirnya di telinga Satya.
"Kita lihat saja nanti." tantang Marisa.
*********