Be My Home

Be My Home
Bahaya



Happy Reading!


Klik Love!


*********


"Huh..." Lia menggaruk pipinya yang terasa geli.


"Iih..." Lia masih memejamkan mata dan risih karena ada yang menggangunya. Pipinya terasa geli.


Adam menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan asisten daruratnya. Bisa-bisanya dia tidur. Apa tampang Adam kurang garang hingga Lia bisa tertidur tenang? Apa gadis ini tidak takut dengan kemarahan Adam? Adam masih menggoda Lia dengan mengusap kertas di pipi si gadis.


Cukup lama Adam mengganggu Lia. Dia heran dengan manusia di hadapannya. Gadis itu tertidur pulas dan tidak terganggu dengan apapun. Lelaki itu menyerah membangunkan Lia. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di ranjang bersebelahan dengan Lia. Ranjang ini sangat kecil. Tidak seperti ranjang King Size di kamarnya. Adam harus menjaga gerakannya agar tidak terjatuh.


Tubuhnya terasa lelah. Tuntutan pekerjaan memaksanya harus berkunjung ke beberapa negara mengurusi proyek yang berjalan. Ia butuh istirahat beberapa hari sebenarnya. Deadline pekerjaan mengharuskannya bekerja marathon.


Betapa bahagianya jika dia bisa berfikir seperti Lia? Cuek dengan kehidupannya dan tidak terlalu memikirkan banyak hal. Dia selalu dituntut menjadi sempurna tanpa cela. Ia memandang Lia yang tertidur pulas dan wajahnya teduh tanpa beban.


Sedari kecil Adam dididik untuk mandiri. Waktu kecil, saat dia menangis ingin dipeluk orang tuanya. Mereka tidak peduli. Adam akan dibiarkan menangis sampai tertidur. Jika Adam jatuh, dia akan dibiarkan bangun tanpa bantuan siapapun. Luka yang dia dapatkan tidak boleh menjadi alasan kelemahannya. Meskipun sebenarnya dia merasa sangat rapuh, dia harus terlihat tegar.


Sendiri bukan hal yang asing baginya. Tapi akhir-akhir ini dia merasa kesepian saat Eric tidak bersamanya. Tidak ada teman yang bersamanya. Eric tempat Adam berkeluh kesah juga tempat berbagi.


Lelaki itu memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa menatap Lia. Sangat damai... Wajahnya menyiratkan kedamaian. Gadis itu tertidur tanpa beban. Walaupun Adam baru saja membentaknya, Lia terlihat tenang. Adam melihat boneka yang dipeluk oleh Lia, boneka T-Rex. Matanya mengabsen tiap sudut kamar yang berukuran 3X3m. Semua bernuansa Dinosaurus. Lelaki itu tersenyum manis. Diusia yang sebesar ini, gadis disampingnya masih bermain seperti anak kecil.


"Lia!" panggil Adam lirih.


"Apa dia tidak bergerak saat tidur. Dia pingsan atau tidur?" Adam memperhatikan Lia selama lima belas menit. Gadis itu tidak bergerak saat tidur.


"Lia... Lia...." Adam menggoyang-goyangkan tubuh Lia berharap gadis itu membuka


mata. Lia masih bergeming. Entah dia tertidur pulas ataukah pingsan.


Adam menyerah membangunkan Lia. Matanya terasa berat. Adam pun ikut tertidur di samping Lia.


******


Lia menggeliat. Seperti ada sesuatu yang sangat berat menekan perutnya. Lia mengerjapkan matanya menyadari dia masih di kamarnya. Lia terkesiap mengingat Adam mengusirnya kemarin malam.


Tangan... Lia melirik tangan besar yang melingkar di perutnya. Tubuhnya juga merasakan hangat sebuah pelukan.


"Tangan siapa ini? Tubuhku dibuat linglung merasakan hangatnya dekapan." batin Lia.


Gadis itu berusaha menyingkirkan tangan diperutnya dengan pelan. Dia hendak memberi jarak dan bersiap untuk kabur. Ini pasti tangan lelaki karena ukurannya lebih besar dari tangan Lia. Garis itu memejamkan mata beberapa kali menduga-duga pemilik tangan kokoh ini.


Lia mendelik setelah berhasil membalikkan badan.


Lari lebih aman daripada membangunkan si bos dengan teriakan.


Setelah berkemas Lia memesan taksi online. Dia harus pergi sesegera mungkin sebelum si bos bangun. Memikirkan apa yang terjadi tadi malam membuat wajah Lia memerah. Apa bos melakukan sesuatu padaku? Banyak pertanyaan. berputar di kepala Lia yang menghasilkan Lia limbung dan hampir pingsan.


Harus pergi...Itu satu-satunya keinginan Lia saat ini.


Lia mengendap-endap membuka pintu dan berjalan keluar kamar. Dia harus menahan napas beberapa kali agar tidak membuat gerakan yang mendadak dan berisik.


Lia bisa keluar dari rumah bos Adam dengan selamat. Dia bertingkah biasa saja melewati penjaga keamanan. Mereka tidak pernah berbicara dengan Lia. Gadis itu cukup menyunggingkan senyum dan tidak perlu menjelaskan apapun.


Lia berjalan santai sambil menyeret koper warna pink. Ada mobil warna silver yang menghampirinya. Itu pasti taksi online yang dia pesan. Lia tersenyum bahagia karena dia bisa lepas dari bos Adam.


*****


"Kemana gadis itu pergi?" tanya Adam panik.


"Dia membawa koper." ucap seorang penjaga rumah dengan gemetaran. Adam sangat marah dan membanting Vas di dekatnya.


"Apa aku harus mengulangi perkataanku? Cari dia? Apa kalian tidak becus bekerja." bentak Adam menjadi-jadi.


"Maaf bos. Kami pikir dia pergi karena perintah bos." kata penjaga satunya.


"Aku tidak mau alasan. Cari dia sampai ketemu. Pastikan dia pulang dalam keadaan hidup!" titah Adam.


Semua penjaga rumah undur diri. Adam menelepon seseorang. Setelahnya dia bergegas pergi meninggalkan Rumah.


Para bodyguardnya sudah bersiap menunggu Adam.


"Cepat jalan!" titah Adam dengan raut wajah panik.


*****


"Kita cari rute terdekat, Mbak." kata driver itu menenangkan.


"Tapi rute ini malah semakin jauh dari jalan Kasuari."


"Mbak diem aja. Kita akan pergi ke tempat yang enak, ke surga mbak."


"Surga identik dengan kematian. Apa aku salah masuk mobil coba aku cek. Ya Allah... ini bukan taksi online yang aku pesan. mobilnya beda, dan drivernya juga beda. Apa yang akan terjadi padaku? Tolong aku!" ucap Lia dalam hati.


"Aku turun di sini saja." pinta Lia.


"Bentar lagi sampai mbak. Sabar! Mbak nggak akan nyesel nanti!"


Lia beberapa kali menelan ludahnya. Tubuhnya dihimpit ketakutan. Apa yang akan lelaki itu lakukan padanya? Apa dia akan melakukan tindakan asusila?


Lia butuh pertolongan. Pada siapa dia akan meminta tolong? Robert mantan kekasihnya atau pada bos Yudha mantan bosnya.


Lia merasa gamang dengan pilihannya. Apakah Robert mau menolong mantan pacar yang dimusuhi pacarnya saat ini. Apakah Amel akan mengijinkan Robert menolongnya?


Bos Yudha yang baik hati pasti mau menolongnya. Namun, Lia sangsi jika bos Yudha ada di kota ini. Bos Yudha sering pergi ke luar kota atau ke luar negri. Lia menggigit bibir bawahnya menandakan dia benar-benar takut dan bingung. Dia terus memegang HPnya.


Lelaki yang tengah menyopir itu memahami gerak-gerik Lia. Tanpa Lia sadari sopir itu memasang masker khusus dan menyemprotkan gas di dalam mobil. Lia merasa mengantuk ketika menghirup gas tersebut.


*****


"Aku bawa barang baru. Kelihatannya masih tersegel." ucap lelaki tampan yang menjadi driver.


"Gadis ini cantik dan menggiurkan. Apa rencana kita?"


"Kita bisa memakainya tapi kalau dijual akan mendapat harga mahal."


"Jadi kita jual setelah kita cicipi atau kita jual saat masih tersegel?"


"Kita tanya penawar tertinggi."


Keempat lelaki itu tertawa terbahak-bahak sambil melihat Lia yang tergolek lemas di lantai. Lia dibiarkan berbaring di lantai tanpa alas apapun.


Gadis itu tergolek lemas dengan tangan dan kaki yang diikat. Selang beberapa waktu kesadaran si gadis mulai pulih. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menelisik tempat itu.


Tempat yang sangat pengap dan penuh barang-barang bekas. Sepertinya tempat tersebut adalah gudang penyimpanan barang bekas.


Mata Lia tertuju pada lelaki yang tadi menjadi sopirnya. Lelaki itu sebenarnya cukup tampan sayangnya dia orang jahat. Dia mencoba menculik Lia. Lihatlah sekarang tangan dan kaki Lia terikat! Lia tak mampu bergerak. Pelupuk mata gadis itu penuh dengan genangan air mata. Tak mampu menahan sesak di dadanya Lia menangis terisak.


Merapalkan doa-doa agar ada keajaiban menghampiri. Jika tadi dia lebih gesit untuk langsung meminta tolong dan shareloc. Mungkin akan ada orang yang bisa menolongnya. Lia menyesal terlalu meributkan siapa yang akan menolongnya. Sesal datang kemudian.


Gadis itu hanya bisa menangis tersedu meratapi kebodohannya karena kurang cepat mengambil keputusan. Napasnya tersengal-sengal karena tangisannya yang mulai tersedu.


Tubuhnya terasa sakit, dia tak mampu bergerak karena ketakutan. Mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Seperti ada ratusan benda asing yang masuk dalam tenggorokannya.


Deraian air mata mengalir di ujung matanya. Lia hanya mampu mengucap lirih permintaan tolong.


"Dia sudah bangun. Santapan kita sudah siap."


"Hai gadis kecil. Mau dimulai dari mana?"


Seluruh bulu kuduk Lia berdiri. Dia ketakutan. Kenapa tadi dia tidak mengecek nomor plat mobil yang menghampirinya. Hanya karena ingin segera pergi dari bos Adam. Lia harus berurusan dengan para penjahat.


Tangan Lia terus digerakkan. Agar ikatannya bisa lepas. Namun, semua itu tak membuahkan hasil. Lia ketakutan. Seluruh tubuh Lia gemetar. Bibirnya juga juga ikut gemetaran tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Lia diujung tanduk. Hidup dan matinya hanya sebatas garis tipis. Pun jika bukan nyawa yang mereka inginkan. Bisa lebih buruk. Masa depan Lia dipertaruhkan.


Mungkin mereka malah mengambil kehormatan Lia. Hal yang berharga yang Lia miliki. Lia beringsut. Dia mendelik. Melakukan segala upaya untuk melindungi diri. Apapun tapi terasa tak mungkin Lia tidak bisa menghindar. Ada empat orang laki-laki dengan badan yang lebih besar dari Lia. Juga dengan tenaga yang lebih kuat dari Lia.


"Tolong aku." lirih Lia.


"Jangan mendekat!" pinta Lia.


Rintihan Lia disambut suara tawa yang mengelegar.


*******


**Tinggalkan Jejak


Thank you**