
"Apa yang terjadi?" Adam terkejut mendapati kabar dari pak Wo.
"Nona Lia berteriak histeris di rumah sakit saat dokter laki-laki akan memeriksanya." terang pak Wo.
"Aku tanya kenapa?" suara Adam meninggi. Dia tidak suka dengan jawaban bertele-tele dari pak Wo.
"Dokter bilang mungkin dia mengalami trauma pasca pelecehan dirinya." ungkap pak Wo.
Adam meremas rambutnya frustasi. Seharusnya Lia yang mengurus dirinya bukan Adam yang harus repot-repot. Apa yang gadis gila itu lakukan pada hidupnya?
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Adam kebingungan.
"Tuan diminta kesana. Mungkin respon nona Lia akan berbeda jika ada seseorang yang dia kenal."
"Apa tidak ada keluarganya?"
"Keluarganya ada di kampung halaman. Butuh 7 jam untuk sampai di sini melalui jalur darat. Teman dekatnya, nona Ratih, sekarang bersama dengan tuan Yudha di Medan. Cuaca tidak mendukung mereka untuk kesini."
"Satu-satunya orang yang dekat dengan nona Lia hanya Tuan. Tuan....Ada fakta baru tuan." sambung Pak Wo.
"Apa?"
"Rumah yang tuan Adam tempati saat ini, dulunya adalah... rumah nona Lia." jelas pak Wo, bodyguard Adam.
"Keluarganya menjual rumah itu untuk membiayai hutang. Perusahaan mereka mengalami kebangkrutan." imbuh pak Wo.
"Kenapa bisa begitu?"
"Saya akan menyelidiki lebih jauh lagi tuan."
Adam memijit-mijit dahinya. Kenapa dia malah terjebak mengurusi Lia. Sebenarnya maksudnya menyuruh Lia berkemas adalah ingin mengajaknya pergi bersamanya dan bukan mengusirnya. Gadis itu terlalu cepat merespon. Sayangnya, responnya salah besar.
Gadis ceroboh itu malah pergi dan masuk mobil yang salah. Dia diculik oleh sindikat perdagangan manusia. Bahasa gaulnya human trafficking. Dia bahkan hampir mengalami pelecehan. Sebenarnya bukan salah Adam jika Lia terjebak bersama penjahat. Itu keputusan Lia pergi dari rumah. Dia sendiri seharusnya mengikuti saran pak Wo untuk meninggalkan Lia di rumah sakit. Sekarang, Adam malah bingung harus berbuat apa? Mengurusi Lia atau meninggalkannya?
Melihat Lia terbaring dengan beberapa luka di wajah membuat Adam iba. Hati kecilnya tidak tega melihat gadis lemah itu sendirian. Adam pun membawa Lia ke rumah sakit. Ternyata bukan sakit fisiknya yang harus disembuhkan tapi juga luka psikisnya.
"Apa yang harus ku lakukan pak Wo?" Adam benar-benar sudah putus asa menghadapi masalahnya. Dia ingin lepas tangan tapi tidak bisa.
******
"Pergi...Menjauh...." teriak seorang gadis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dokter laki-laki yang akan memeriksanya segera keluar dari kamar bangsal Lia.
"Bagaimana?" tanya Adam khawatir. Dia berdiri di depan pintu.
"Pak Adam silakan ikut saya!" ajak seorang dokter.
Adam mengekori dokter umum yang baru saja ingin memeriksa Lia.
Dokter itu mempersilakan Adam duduk di depannya.
"Nona Lia mengalami Post Traumatic Syndrome Disorder atau PSTD. Ini adalah gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis."
"Apa bisa disembuhkan?" tanya Adam khawatir.
"Pada dasarnya bisa. Ini semua tergantung dari keinginan penderita untuk sembuh dan dukungan orang dekat seperti keluarga atau teman."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Trauma itu seperti keloid. Bisa sembuh tapi meninggalkan bekas luka. Orang yang mengalami PSTD bisa lebih kronis jika orang sekelilingnya bersikap apatis. Kita membutuhkan Trauma Healing. Hal ini harus ditangani segera dan tepat." jelas dokter panjang lebar.
*****
"Lia." Adam mendekati Lia. Dia duduk di brankar bersebelahan dengan Lia.
"Lia, Kita akan pulang. Kau mau pulang kan?" ajak Adam.
Lia mengangguk. Adam mengulurkan tangannya. Tubuh Lia mendelik merasakan takut karena kejadian yang lalu.
Adam masih mengulurkan tangannya berharap Lia mau menggapainya.
"Kau mau pulang bersamaku?" ajak Adam lembut.
Lia menatap Adam. Dia memastikan laki-laki di hadapnya bukan orang yang harus ditakuti. Dia masih ragu-ragu. Menyetujui ajakan orang itu atau tetap tinggal di rumah sakit.
Gadis itu meraih tangan Adam. Dia masih ragu turun dari tempat tidurnya. Hatinya masih bingung.
"Orang tuamu belum aku kabari. Apa kau ingin mereka kesini?" wajah Lia mendongak menatap Adam. Tatapan Adam beradu dengan Lia. Dia ingin memastikan Lia tidak perlu takut dengannya.
Lia bergeming. Dia mengedip-ngedipkan matanya. Hatinya sendiri masih harus ditata. Apa yang terbaik untuknya?
Mereka meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Adam. Adam dengan telaten menjaga Lia dan mendekap gadis itu di sisinya.
"Istirahatlah!" ucap Adam setelah sampai di kamar Lia.
Lia memegang tangan Adam. Wajahnya memberi kode kalau Adam tidak boleh pergi.
"Kau ingin aku di sini? Sebentar lagi akan ada orang yang bertanya dan kau harus menjawabnya." Adam menatap Lia memastikan gadis itu mengerti ucapannya.
Adam menghela napas dia cukup jengah dengan tingkah Lia. Dokter menyuruhnya bersabar dengan kondisi Lia. Butuh waktu beberapa minggu atau bulan untuk mengembalikan keadaan Lia seperti sediakala. Ini semua diluar ekspektasi Adam. Kalau boleh memilih dia ingin lari. Dia ingin pergi meninggalkan Adam.
Seorang psikolog datang dengan baju biasa dia tidak menggunakan jas stenelinya. Seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun dengan senyum ramah memasuki ruangan kamar Lia.
"Lia, Apa kabar?"
Lia masih merasa takut dengan orang asing. Dia mencengkeram lengan Adam dengan kuat.
"Lia kenal dengan lelaki di sebelah Lia?" Lia menggangguk. Adam menoleh pada Lia dan memegang tangan gadis yang mencengkeram tangannya. Ini agak sakit bagi Adam. Dia tidak menyangka gadis kecil itu sangat kuat saat mencengkeram.
"Apa kau lapar?"
Gadis itu menggangguk.
"Kau bisa bersuara?"
"I..ya." ucap Lia terbata.
"Kenalkan aku Sherlly. Aku masih 17 tahun."
Lia membelalakkan matanya. Dia tidak percaya ucapan wanita di hadapannya. Wanita itu terlihat lebih tua. Tidak mungkin usianya 17 tahun.
"Berapa usiamu?"
"22"
"Berati kau lebih tua. Aku panggil kakak Lia." dokter itu tersenyum Lia juga membalas senyumnya.
"Sherlly ingin kakak Lia makan dulu. Kakak Lia harus kuat. Kita mau main polisi dan penculik."
Raut wajah Lia berubah menjadi takut. Memorinya teringat kejadian yang dia alami. Tubuhnya beringsut. Dia menyembunyikan wajahnya di lengan Adam. Dokter Sherlly mengkode Adam. Adam membuat Lia menatap dokter Sherlly.
"Kakak takut?" Lia menggangguk. Dia mempererat pelukan pada lengan Adam.
"Apakah ketakutan itu hanya perasaanmu atau karena ancaman?"
Wajah Lia berubah. Dia mulai mencerna ucapan dari wanita tersebut. Kenapa dia takut? Apakah takutnya tidak beralasan? Saat ini tidak ada orang yang mengancamnya. Apa takutnya hanya perasaannya saja?
"Lia harus kuat. Makan yang banyak. Besuk Sherlly datang lagi. Lia mau ketemu Sherlly?"
Lia menggangguk. Dia masih belum melepaskan pelukan di lengan Adam. Lelaki itu sudah meringis menahan sakit.
"Kita toss dulu." ajak Sherlly. Lia mengikuti keinginan dokter Sherlly.
Lia tertidur setelah makan. Dokter Sherlly menjelaskan beberapa hal pada Adam. Dia harus mengikuti instruksi dokter tersebut agar kesehatan Lia segera pulih dengan cepat.
Adam menyuruh pak Wo membawa beberapa pelayan wanita ke rumah. Hal yang Adam benci adalah keramaian. Dia mengacak rambutnya di ruang kerjanya. Hari ini mungkin hari terburuk dalam hidupnya.
"Bagaimana?" tanya Adam.
"Maksud Tuan?"
"Gadis itu. Apa yang harus aku lakukan. Dia merepotkan. Beberapa investorku membatalkan pertemuan. Apalagi investor terbesarku Mr. Kim. Jika dia tidak mau berinvestasi di perusahaanku. Aku benar-benar rugi besar."
"Tuan..."
"Apa?" bentak Adam.
"Nona Lia bisa membantu." ucap Pak Wo. Adam mendongak menatap wajah bodyguardnya.
"Apa yang bisa gadis bodoh itu lakukan? Dia bahkan tidak bisa mengurus dirinya." sarkas Adam.
"Karena itu, tuan. Nona Lia bisa jadi pion. Kelemahannya bisa jadi sumber kekuatan kita." ucap pak Wo tersenyum menyeringai.
Adam mengernyitkan dahinya. Dia masih belum tahu jalan pikiran pengawal pribadinya. Apa yang bisa Lia lakukan? Bicara saja dia masih sangat irit. Pion? Kemampuan apa yang dimiliki gadis lemah itu?
Dia frustasi jika dia teringat ucapan dokter Sherlly. Adam hampir gila mendengarnya. Dokter itu menyuruh Adam untuk sering-sering berbicara dengan Lia. Bicara? Jika memandang wajah Lia saja bisa membuat Adam mual. Apakah tepat jika harus sering mengajak mengobrol gadis menyebalkan itu? Adam harus belajar memasang senyum palsu agar Lia tidak ketakutan. Ini memuakkan.
"Urus semua untukku. Dan juga laporkan perkembangan Lia. Aku ingin pergi mencari hiburan."
"Keluarga Nona Lia apa perlu saya jemput?" tanya pak Wo.
"Keluarganya kacau. Aku tidak mau tambah pikiran dengan orang-orang yang kacau. Pastikan Lia sehat dan segera usir dia dari sini. Juga.... segera bawa teman Lia ke sini. Suruh dia mengurusi temannya atau akan ku tentang gadis itu ke jalanan."
"Baik Tuan. Pelayan wanita yang tuan rekomendasikan ingin bertemu tuan."
"Oh... mbok Yem. Aku akan ke sana menemuinya. Urus saja pekerjaanmu. Pastikan semuanya beres!"
"Baik."
***"
Tinggalkan jejak!
Thank you!