
"Siapa dia?" tanya bunda Risma.
"Ini teman kerja Bun. Dia ingin membuat penelitian Disertasinya." bohong Lia. Sepetinya lebih baik berbohong daripada jujur. Adam melirik Lia. Dia cukup heran dengan alasan gadis di sebelahnya.
"O... Selamat datang. Siapa namamu?" ucap bunda Risma penuh kerah-tamahan.
"Perkenalkan nama saya Adam. Senang bertemu dengan anda." sapa Asma memperkenalkan diri.
"Nama saya Risma. Kalian istirahat dulu ya! Bunda akan siapkan makan." bunda mempersilakan mereka beristirahat.
"Em Bun... Mas Adam kan nginep. Apa ayah akan menyetujuinya?"
Adam mengernyitkan dahi ketika Lia bilang Mas. Walaupun terdengar kaku tapi Adam menyukainya. Gadis itu salah tingkah karena ucapannya sendiri. Bagaimana bisa dia memanggil Mas? Kakak sepertinya lebih bagus.
"Nanti kita bilang sama ayah. Kalau tidak nginap di sini nanti bisa nginap di rumah nini Nur." terang bunda Risma lembut.
"Nini Nur masih sehat?" Lia sangat bahagia bisa bertemu dengan Nini Nur. Dia seorang wanita tua yang banyak makan asam garam kehidupan. Nasihatnya selalu Lia rindukan.
Nini Nur tinggal di bawah rumah Lia. Dia adalah ibu dari 12 anak. Semua anaknya merantau di kota. Dia tinggal sendirian di desa. Banyak yang bilang sebagian anaknya sudah jadi pegawai negri. Adapula yang memiliki toko besar. Mereka semua tinggal di kota yang berlainan dengannya.
Nini Nur tinggal di desa sendirian. Dia sudah renta tapi masih sehat. Dia masih sanggup menggarap beberapa ladang tanaman ketela pohon. Beberapa tetangga berbagi makanan dengannya. Maklum orang desa menganggap tetangga mereka seperti saudara.
Lia mengantar Adam beristirahat di sebuah kamar. Ada 4 kamar kosong. Biasanya setiap lebaran kamar-kamar itu akan penuh sesak. Bahkan bagian depan kamar juga digunakan untuk tidur. Keluarga bunda Risma adalah keluarga besar.
Saudara bunda Risma ada 7 orang. Mereka semua tersebar di berbagai kota besar. Dulu saat masih ada nenek semua keluarga besar Lia menyempatkan diri untuk pulang. Sejak kepergian nenek, saudara bunda Risma jarang pulang tapi sesekali mereka menengok kampung halaman mereka.
Mereka juga rindu keasrian kampung halaman mereka. Tempat mereka tumbuh besar.
Lia membersihkan sebuah kamar yang beralaskan keramik. Dia menata spons di ranjang yang terbuat dari kayu.
Setelah memasang sprei dan menempatkan beberapa bantal, Lia mempersilakan Adam beristirahat.
Lia memilih tidur di kamar April, adiknya. Gadis itu sudah sangat lelah dan mengantuk. Dia bahkan terlalu lelah untuk melepas jaketnya.
**********
Cahaya oranye berganti dengan pekatnya malam. Bunda Risma tersenyum melihat anak gadisnya beranjak dewasa. Dia tidak menyangka hampir 3 bulan dia tidak bertemu dengan putri sulungnya.
Bunda Risma sangat merindukan putrinya. Dia meneteskan mata saat harus berpisah dengan putrinya. Lia harus melanjutkan kuliah. Bunda Risma merlakan Lia sendirian di kota besar. Dia tidak ingin Lia berhenti kuliah di tengah jalan. Saat ini Lia tinggal mengerjakan skripsi.
Seorang gadis bertubuh langsing menggeliat. Tubuhnya sungguh terasa pegal. Lia mengerjapkan mata. Indra penciumannya mencium bau harum masakan.
Gadis itu mengelus perutnya yang sangat keroncongan.
Suara kekehan seseorang mengejutkan Lia. Kedua bola matanya menelisik suara yang membuatnya penasaran.
"Bunda?" seru Lia terkejut. Dia bangun dari tidurnya sambil mengucek matanya.
"Kamu lapar ya sayang. Bunda sudah siapkan makanan kesukaan kamu. Panggil temen kamu sekalian!" ucap bunda tersenyum.
Malas
Itu yang ada dipikiran Lia. Bagaimana kalau Adam akan membentaknya lagi?
"Huh!" Desah Lia.
Bunda Risma bingung memandang putrinya yang tampak ogah-ogahan. Bukannya mereka teman. Kenapa Lia tampak enggan bertemu dengan temannya?
"Apa bunda saja yang membangunkannya?" goda bunda Risma.
"Tidak Bunda. Biar Lia saja! Bunda makan saja dulu biar nanti kami menyusul." usul Lia.
Bunda Risma meninggalkan Lia dan menuju meja makan.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar nyaring.
Sudah beberapa kali Lia mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari Adam.
"Dia tidur apa sedang semedi atau kebablasan...." pikir Lia merancau.
Gadis itu mengetuk pintu sekali lagi. Karena sudah tidak sabar Lia membuka pintu dan...
Jeng...Jeng...
"Bos!" seru Lia kaget. Gadis itu menutup kedua matanya dengan tangannya. Sesekali dia melirik bosnya di sela tanganya.
Gadis itu sedikit gamang. Dia harus masuk atau pergi saja.
Adam tidur dengan bertelanjang dada. Apa yang ada dipikiran Lia sangat banyak sekali. Bagaimana jika dia bisa tidur di lengan bosnya, bersandar di dada bidang bos Adam atau meraba perut sixpacknya?
Berkhayal saja Lia.
"Ya Tuhan kuatkan imanku dalam menghadapi bosku. Kalau dia jodohku dekatkanlah tapi kalau dia bukan jodohku gantilah dengan yang lebih ganteng dan lebih kaya serta lebih peyabar dan perhatian . Aamiin." doa Lia dengan kesungguhan.
Lia berjalan mendekati Adam. Dia harus menelan saliva beberapa kali. Mungkin kalau difilm-film. Laki-laki akan tergiur dengan kemolekan tubuh seorang wanita. Ini kok terbalik. Justru Lia yang tergiur dengan ketampanan dan kegagahan Adam.
"Tolong jagalah mataku dari hal-hal yang menyesatkan hatiku."
"Bos!" seru Lia. Dia duduk bersimpuh menyejajarkan kepalanya dengan ranjang Adam.
Matanya tepat berhadapan dengan kepala Adam. Wajah Adam sangat tampan. Bagaimana bisa ada manusia yang diciptakan begitu sempurna? Kulitnya seputih pualam tanpa cacat sedikitpun. Tubuhnya kekar terasa kuat saat dia merengkuh tubuh Lia.
Lia menggelengkan kepalanya. Lama-kelamaan gadis itu berasa hampir gila. Satu-satunya lelaki yang tidak membuat Lia takut hanya Adam. Lelaki hadapannya lah yang bisa membuatnya percaya bahwa tidak semua pria jahat. Meskipun Lia belum sepenuhnya sembuh, Psikiater bilang kondisinya mengalami peningkatan yang lebih baik.
"Bos, sudah mau magrib. Kau harus bangun." Bisik Lia di telinga Adam.
"Bos, kau harus bangun." Tangan Lia menyentuh pipi Adam yang mulus. Sungguh sangat halus. Lia mengusap-usap pipi Adam. Lelaki itu menggeliat. Dia membuka kedua bola matanya. Adam memincingkan mata. Mungkin dia berada di alam nyata dan alam mimpi.
Adam mengernyitkan dahinya. Dia memandangi Lia yang ada di hadapannya. Terlebih Lia juga menyentuh pipinya.
Tatapan mata Adam benar-benar menusuk. Tatapan membunuh hendak memangsa buruannya.
Lia mendelik berusaha menjauhkan diri dari Adam. Lelaki itu bangkit dan masih mencekal tangan Lia. Detak jantung Lia berdetum-detum tidak karuan.
"Apa yang ingin kau lakukan bos?" Lia memucat bola matanya sudah membulat sempurna. Apa yang akan Adam lakukan padanya? Apa Adam sama dengan Robert yang ingin melecehkannya?
Lelaki sama saja.
Adam menarik Lia dan mendaratkan tubuhnya di pangkuannya. Kedua tangan Adam memegang tangan Lia. Melingkarkannya diperut rata gadis itu.
"Lia." suara Adam terdengar parau.
"Lepaskan aku! Jangan macam-macam bunda bisa ke sini. TOLONG!" ucap Lia dengan suara tertahan.
Adam semakin erat memeluk Lia. Dia juga menyandarkan kepalanya di punggung gadis itu. Beberapa kali Adam menarik napas dalam. Dia terlihat gusar.
"Lepas!" Lia berusaha meronta.
"Jangan bergerak!" ucap Adam panik.
"Lepaskan aku!" Lia masih meronta tidak karuan. Tubuhnya harus bergesekan dengan dada Adam dan bagian tubuh Adam yang lain.
"Lia!" teriak Adam tertahan. Lelaki itu memutar tubuh Lia berhadapan dengannya. Lia beringsut dia sungguh ketakutan melihat wajah Adam yang sudah merah padam menahan amarahnya.
"Sudah kubilang diam. Jangan bergerak!"
Lia menggangguk lemah. Dia sendiri juga bingung kenapa terlalu penurut dengan bosnya.
Gadis itu masih duduk di pangkuan Adam. Lia bisa dengan jelas melihat wajah tampan bosnya.
"Berapa lama kau akan tinggal di sini?" tanya Adam meminta kepastian.
"Aku tidak akan pulang bos. Aku akan tinggal di sini." tukas Lia.
"Kau harus pulang bersamaku." desak Adam.
"Tidak."
"Harus!"
"Tidak mau. Kau bisa pulang sendiri." tolak Lia dengan suara meninggi.
Adam mendorong Lia agar menjauh. Lelaki itu berdiri dan mengurung Lia di tembok.
"Kau harus pulang. Utangmu masih banyak."
"Akan ku cicil. Berikan totalannya!"
"Berapa tahun? Kau saja belum kerja. Mau kerja apa kalau kuliah saja tidak lulus." ledek Adam.
"Orang sukses tidak perlu kuliah tinggi. Yang. penting dia bersungguh-sungguh."
"Apa kau orang yang bersungguh-sungguh?"
Terdengar langkah kaki berjalan mendekat.
Lia menundukkan tubuhnya dan meloloskan diri dari Adam. Gadis itu segera mengambil kemeja Adam yang ada di ranjang.
"Pakai bos!"
Adam bersedekap dan menggelengkan kepalanya. Dia terlihat sangat sombong karena merasa menang.
Lia menyodorkan kemeja Adam dan sedikit memaksa. Adam mendekatkan kepalanya hendak berbisik di telinga Lia.
"Adel!" teriak bunda Risma.
Lia gelagapan takut jika bundanya akan berfikir macam-macam dengan pose yang sedang dilakukan Adam. Adam bertelanjang dada dan berjarak sangat dekat dengan Lia. Mereka terlihat berpose sangat romantis.
Adam sendiri tanpa dosa tersenyum melihat Lia yang kebingungan.
*******
"Apa saja yang kalian kerjakan? Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak Adam?" teriak seorqng wanita sambil bersedekap.
"Nomor tuan Adam tidak ada sinyalnya. Kami belum bisa melacaknya."
"Pak Wo, Kenapa kau juga tidak bisa melacaknya?"
"Kami mendeteksi sinyal terakhir tuan Adam. Kami akan bisa menemukannya." pungkas pak Wo.
"Lakukan dengan cepat! Aku tidak mau kehabisan waktu. Temukan Adam segera!" pinta Marisa geram.
"Baik." ucap seorang pengawal.
Marisa memberi kode agar pak Wo tinggal.
"Apa kau bisa mencari jejak keluarga Lia?" tanya Marisa mendesak pak Wo.
"Kami mengenal beberapa orang tapi mereka tidak berhubungan baik dengan keluarga nona Lia. Sepertinya mereka bermusuhan"
"Sepertinya bukan kata yang menunjukkan kepastian. Lakukan investigasi segera!" desak Marisa.
*******
Tinggalkan Jejak!
Thank you!