Be My Home

Be My Home
Perjalanan ke Desa



Setelah adegan kamar yang membuat Lia terpaksa tidur di lantai. Dia berjanji akan membuat bosnya menderita.


Nanti....


"Kita mulai jalan, bos?" ajak Lia dengan senyum palsu. Hatinya dipenuhi kekesalan.


"Hmm....." dehem Adam tanpa melihat gadis di sampingnya.


"Tinggal empat jam lagi bos. Semangat!" Lia mengepalkan tangan memberi semangat dan tidak digubris Adam. Rasanya memuakkan harus memasang wajah ceria dihadapan bos juteknya. Ingin rasanya meninju pipi mulus si bos.


Kalau saja dia tidak ganteng Lia ingin menjambak rambut laki-laki itu. Kenapa manusia ganteng harus jutek?


Keadaan hening di dalam mobil. Adam tampak serius menatap jalanan di depannya. Dia melaju dengan kecepatan diatas 80 km/jam. Lia mulai merasa mengantuk karena Adam tidak mengajaknya bicara.


Srtt...srtt


Adam mengerem mobilnya tiba-tiba. Hampir saja Lia terjungkal ke depan. Gadis itu selamat karena memakai seatbelt.


"Apa yang kau lakukan. Kau pikir ini kasur apa? Lihat depan beri tahu jalannya!" hardik Adam emosi melihat Lia hampir tertidur.


Lia benar-benar mengantuk. Tadi malam dia kesulitan tidur karena kedinginan tidur di bawah. Kamarnya tidak sesuai ekspektasi. Hanya ada satu tempat tidur. Adam menawarinya tidur di sampingnya. Kalau saja Lia tidak menjunjung tinggi norma susila di masyarakat mungkin Lia mau tidur di samping Adam.


Tentu saja Lia menolak dengan tegas. Melihat senyum seringai bosnya mana bisa Lia menerima ajakan Adam. Apa kata dunia kalau dia tidur satu ranjang dengan bos galaknya? Apa yang akan terjadi? Dada Lia naik turun memikirkan ajakan manis Adam tadi malam.


"Kau bisa tidur di sampingku. Di sini lebih hangat dan nyaman daripada di bawah."


Hati Lia meremang memikirkan dia tidur di pelukan bosnya. Hangat pasti! Bersandar di dada Adam yang bidang dengan aroma maskulin yang menguar memenuhi rongga hidungnya. Pasti sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Membayangkannya membuat Lia merasa berada di awang-awang. Seandainya bosnya lebih sabar. Lia ingin sekali bisa berada di samping Adam.


Lia tersenyum sendiri membayangkan dia bisa bermesraan dengan Adam di sebuah tempat yang romantis.


"He... Apa yang kau lakukan? Apa kau jadi gila senyum-senyum sendiri. FOKUS!" bentak Adam mengaburkan kebahagiaan Lia. Dia serasa di benamkan ke lumpur yang kotor.


Dan


Kenapa harus Adam yang dibayangkan Lia? Kenapa bukan orang Lain? Seharusnya Giorgino Abraham saja atau artis Korea Park Seo Joon. Mereka bahkan lebih ganteng dari pada Adam.


Lia akan fokus mencari pria lain yang bisa diajak bersama di alam mimpi. Bukan Adam dan jangan Adam.


Gadis itu mendengus pasrah kesabarannya mulai menipis. Lia berusaha membulatkan matanya agar tetap terjaga. Permen rasa kopi menjadi pilihan terakhir agar tetap bangun.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi karena jalanan lumayan sepi. Lia berusah tetap terjaga walaupun matanya sangat mengantuk.


"Bos, mobilnya cuma bisa sampai sini." ucap Lia memberi tahu bosnya kalau di depan adalah hamparan sungai yang tidak bisa di lewati mobil. Jalan beraspal hanya sampai di sini. Setelah sungai hanya ada jalan setapak yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.


"Kau yakin keluargamu tinggal di sini? Apa ada manusia yang bisa hidup terisolir dengan dunia luar?" sindir Adam dengan wajah juteknya.


Cukup


Lia merasa Adam sangat keterlaluan. Mulutnya belum pernah diolesi sambal sekilo.


"Bos bisa pulang sekarang. Terima kasih atas semua kebaikan bos." Lia menganggukkan kepala ala orang Jepang agar bosnya tersindir.


Bukan Adam kalau dia tersindir.


"Kau juga makhluk terisolir. Apa begini caramu berterima kasih? Aku sudah mengantarmu sejauh ini. Orang normal akan mengajakku mampir dan menjamu tamunya."


"Jika tamunya orang normal pasti aku ajak mampir." batin Lia dengan mulut mengerucut.


Adam mengambil koper di bagasi belakang. Jauh di hati Adam dia takut kalau Lia tidak akan kembali. Adam sudah mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan Lia. Walaupun Adam tidak akan menagih uang itu tapi Lia masih harus berkerja padanya. Dia tidak mau gadis itu lepas begitu saja tanpa membalas budi.


"Bos sudah packing barang?" tanya Lia heran.


"Aku sering berpergian. Di setiap mobilku selalu ada barang pribadiku. Ini bedanya orang jenius dan tidak. Orang jenius selalu bersiap dengan segala situasi." Adam mendekatkan wajahnya pada Lia. Gadis itu bergidik ngeri berada pada jarak sangat dekat dengan Adam. Hembusan napas Adam bahkan terasa di wajah Lia. Aroma mint yang segar dan memabukkan. Beberapa waktu dia hanya mematung menghirup aroma tubuh Adam. Hingga saat Adam menjentikkan jarinya. Lia tersadar.


Lia mundur dua langkah ke belakang. Dia tidak bisa berada dekat dengan bosnya. Setelah satu kamar dengan Adam tadi malam, Lia tidak tidur tapi malah mengamati bosnya.


Wajah tampan bosnya terus terukir di matanya.


Dengan semua bayangan kemesraan bersama si bos yang berseliweran pikirannya. Sebuah hal yang mustahil untuk diwujudkan.


Tidak mungkin...


"Mobil bos akan ku titipkan ditempat Uwa. Hanya beberapa meter dari sini. Setelah itu kita akan berjalan kaki."


"Apa itu sejenis primata?" Adam tertawa geli karena berhasil membuat wajah Lia merah padam karena marah.


"Rumahku paling ujung jadi berjalan kakinya tidak terlalu jauh." Kali ini Adam hanya terdiam mengacuhkan Lia. Sedekat apapun rumah Lia tetap saja masih jauh kalau Lia bilang akan ada dua anak sungai yang harus dilewati.


Entah seperti apa nanti Rumah Lia. Bagaimana bentuk rumah yang harus melewati dua anak sungai dan jalan setapak tanpa bisa di lalui mobil.


"Gubuk saja. Bukan rumah!" sindir Adam. Kata-katanya seperti jarum yang menusuk tanpa rasa belas kasih. Terdengar kasar bagi Lia yang berhati lembut. Entah mengapa sekadar apapun perkataan Adam Lia tidak merasa sakit hati. Sepertinya sudah biasa.


Adam dan Lia mandi di rumah Uwanya Lia. Adam tidak mau mandi di hotel. Katanya tidak higienis. Airnya berbau kaporit. Di rumah Uwanya Lia airnya sangat segar karena langsung dari mata air.


Selesai mandi, mereka disuguhi makanan untuk sarapan. Adam dengan wajah kucelnya merasa tidak tertarik dengan semua makanan tradisional yang sudah dimasak bibinya Lia. Makanan itu tidak ada cita rasa barat.


"Makan Bos!" bujuk Lia. Sungguh dia merasa tidak enak hati karena Adam tidak segera menyuapkan makanan ke mulutnya


Uwa mengangsur sebuah piring di depan Adam.


"Pisahkan makanan yang tidak ingin kau makan!" ucap Uwa Aryan.


Adam bingung dengan maksud lelaki paruh baya itu. Dia memandang Lia agar gadis itu menjelaskan sesuatu padanya.


"Bos... eh... Kau harus menghabiskan makanan yang ada di piring. Kalau tidak suka pisahkan makanan yang tidak ingin dimakan di piring yang lain." bisik Lia yang hanya di dengar oleh Adam.


Adam menelan ludahnya kasar. Dia bergidik ngeri berada di desa Lia. Sepertinya tempat ini punya beberapa tradisi yang masih di pegang kuat.


Lia membola melihat Adam hanya menyisakan seperempat makanan yang ada di piringnya. Adam benar-benar tidak bisa menghargai tuan rumah. Padahal pamannya rela menyembelih ayam untuk menjamu Adam.


Gadis itu mendesah samar di sela-sela makannya agar Uwanya tidak menyadarinya. Uwa Aryan seorang yang bijaksana semasa muda dia juga bekerja di ibukota jadi dia memahami perilaku orang kota.


Setelah menitipkan mobil dan menyerap kunci pada Uwa Aryan. Mereka berpamitan dan melanjutkan perjalanan.


"Apa kau yakin di sini tidak ada Porter?"


"Bos ini bukan tempat wisata. Mana ada Porter?" ucap Lia mulai jengah dengan Adam yang terus mengeluh. Lia hanya membawa tas ransel. Sedangkan Adam membawa koper besarnya. Jika jalanan datar tentu akan mudah bagi Adam.


"Kita tukar barang. Kau bawa koperku dan aku bawa ranselmu." Ucapan Adam lebih mirip perintah daripada pilihan.


Lia mengangguk malas tapi tetap menuruti Adam.


"Sungai ini yang harus di lewati?" Adam terpesona melihat keindahan alam di desa Lia yang masih tampak asri. Senyumnya seketika hilang melihat sungai dengan arus yang sangat deras.


"Kau yakin?" tanya Adam memastikan.


"Paman bilang akan segera di bangun jembatan di sini. Masalahnya belum sekarang, jadi kita masih harus menyebrangi sungai. Arusnya deras mungkin di hulu sedang hujan."


"Lalu?" tanya Adam dengan wajah serius.


"Kita tunggu sebentar sampai sungainya surut."


Menunggu hal yang tak pasti.


Adam mulai jengah duduk di pinggir sungai menunggu aliran sungai. Apa ada hal yang lebih bermanfaat selain menunggu?


"Sampai kapan Lia?" ucap Adam parau. Dia menyesal tidak makan banyak tadi. Tenaganya sudah habis untuk berjalan dan menunggu.


Lia tersenyum menang melihat bosnya tak berkutik.


"Bos, apa yang harus ku bilang pada Ayah dan Bunda tentangmu? Mereka pasti akan bertanya siapa dirimu."


"Jawab saja aku bosmu." ucap Adam malas.


"Tidak bisa bos. Kita harus menyamakan persepsi tentang kita."


Adam membulat sempurna. Apalagi maksud gadis ini. Hal sepele saja di buat rumit.


"Terserah dirimu kalau begitu. Airnya sudah surut kita bisa jalan?"


Lia memasang wajah semringah melihat Adam berjalan di depannya. Gadis itu segera mendahului Adam agar Adam tidak tersesat.


Adam berhenti di sebuah pohon. Dia mengamati pohon itu dengan seksama. Lia menyadari sepertinya tidak ada orang di belakangnya. Dia segera berbalik dan terkejut melihat Adam.


"Oh... tidak." Gadis itu menutup mulutnya dan ketakutan.


******


Hai tinggalkan jejak. Thank you