Be My Home

Be My Home
OTW



"Jadi?" tanya seorang gadis penuh ingin tahu. Dia memincingkan mata berharap jawabanya adalah iya.


"Iya, kau boleh pulang?" Lia menyatukan kedua tangan di depan dada. Dia sangat lega dengan jawaban bosnya hampir saja dia bersorak seperti anak kecil.


"Kapan aku akan pulang bos?"


"Aku akan mengantarmu ke terminal. bersiaplah!" ucap Adam tanpa memandang wajah Lia.


"Trima kasih bos!" masih dengan senyum mengembang.


Mobil sedan hitam terparkir di terminal yang penuh dengan deretan kendaraan. Banyak orang yang berlalu-lalang membawa barang bawaan mereka. Hiruk pikuknya berseliweran membuat mata Adam lelah. Adam terdiam beberapa waktu mengamati tingkah polah beberapa orang yang mencurigakan.


Ada seorang Laki-laki yang berjalan menguntit wanita muda yang memakai perhiasan. Tidak hanya satu orang yang terlihat aneh tapi banyak. Beberapa lelaki berperawakan kekar sedang mengerubungi seorang pria. Pria itu terlihat ketakutan. Seseorang lelaki berpakaian necis juga berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang membawa anak. Pria itu tersenyum licik.


Tatapan Adam tak dapat dijelaskan saat menoleh pada Lia. Dia menarik napas dalam dan mengeluarkan dengan kasar. Mobil berjalan meninggalkan terminal. Lelaki itu lebih memilih diam seribu bahasa tanpa mengucapkan sepatah kata.


Lia mengerjapkan matanya memandang bosnya dengan perasaan tak menentu. Bukannya tadi dia akan diantar ke terminal kenapa sekarang putar arah. Apa bosnya berbohong? Pupus sudah harapannya untuk bisa pulang menemui keluarga yang sangat dirindukan.


"Bos, Aku mau pulang." rengek gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Adam bergeming. Hatinya menimang-nimang banyak hal. Dia juga kalut dalam pikirannya sendiri.


"Aku akan mengantarmu. Apa kau tahu jalannya?" ucap Adam dengan wajah putus asa.


Lia membelalakkan matanya. Bosnya akan mengantarnya pulang. Nada bicaranya bosnya terdengar enggan. Dia pasti sangat-sangat terpaksa.


"Bos, Jaraknya jauh dan kita...." ucap Lia berusaha menghalangi niat Adam. Lebih baik pulang sendiri daripada bersama Adam selama 7 jam. Bisa jadi perjalanan ini akan lebih dari 7 jam.


"Aku akan mengantarmu. Jangan protes! Tunjukkan saja arahnya!" hardik Adam mulai kehilangan kesabaran. Dia tidak mau memberi tahu alasan apapun pada Lia.


Gadis itu mengangguk menuruti Adam.


"Kita akan ke arah timur ikuti saja jalan besar. Apa bos yakin?" Lia berusaha memastikan niat Adam tidak akan berubah di tengah jalan. Bisa fatal kalau Adam marah.


"Atau kau saja yang menyetir." kata Adam memberi pilihan tapi lebih mirip perintah dengan tekanan kalimatnya.


Lia menekuk mulutnya takut jika dia salah bicara. Pasti akan sangat buruk jika bosnya tiba-tiba berubah pikiran. Lebih buruk lagi jika Adam akan selalu menggerutu selama perjalanan.


Lia bisa menyetir tapi lebih aman bosnya saja yang menyetir. Ini perjalanan jauh dan Lia merasa sangat lelah. Kalau mengantuk selama perjalanan bisa berisiko.


"Ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan." dengus Lia dalam hati.


Sepanjang perjalanan Lia terus berpegangan. Entah mengapa dia lebih memilih roller coaster daripada semobil dengan Adam. Adam mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan malam cukup sepi. Walaupun Adam sangat mahir mengemudi tetap saja Lia takut berada di mobil yang berkecepatan tinggi.


Selama 3 jam perjalanan bosnya selalu cemberut. Dia bergeming saat Lia menawarinya makan atau minum. Suasananya benar-benar sangat rush. Jika boleh memilih pilihan naik bus adalah yang paling tepat. Tidak mungkin sopir bus bermuka masam seperti Adam.


"Lia, Apa yang kau lakukan?" celetuk Adam mengagetkan Lia.


"Eh... itu..." jawab Lia gelagapan kaget. Dia hampir saja tertidur jika bosnya tidak membentaknya. Rasanya sangat mengantuk. Melihat wajah Adam yang kecut sekecut asam Jawa. Wajahnya membuat Lia bosan.


Kalau naik bus mungkin dia bisa tidur sepanjang perjalanan.


"Apa kau mau tidur sedangkan aku menyetir?" bentak Adam tersulut emosi. Dia juga sama mengantuknya dengan Lia. Perjalanan ini sangat panjang dan melelahkan.


Adam merutukki kebodohannya. Kenapa tadi dia tidak menyuruh sopir mengantar Lia. Dengan inisiatif dari mana dia menawarkan diri mengantar Lia. Seharusnya malam ini dia bisa tidur nyenyak di kamarnya bukan bergerilya memecah malam di jalan raya.


Adam menepikan mobilnya di pom bensin. Dia mengacak rambutnya frustasi. Tatapannya mengarah pada Lia dengan tingkat kemarahan level dewa. Mungkin dewa mabuk atau dewa-dewa yang lain. Yang pasti bukan Aphrodite karena dia Dewi Cinta.


Tatapan mata Adam tidak penuh dengan cinta. Tatapan tajam ingin mengajak perang. Apa Adam titisan dewa Ares yang suka berperang?


Lia beringsut mengalihkan pandangan. Menghindari bosnya adalah pilihan yang bijak. Bisa jadi bubur kalau melawan Adam yang mukanya sudah kucel.


"Heh..." sapa Adam pada Lia tanpa menyebutkan nama. Padahal Adam tahu nama Lia. Harusnya dia bisa mengucapkan nama Lia yang hanya terdiri dari 3 huruf.


Gadis berwajah imut itu sedikit jengkel dengan Adam. Siapa tadi yang menawarkan diri mengantarnya? Lia tidak memaksanya bahkan dia berkali-kali memastikan keputusan Adam.


Sudahlah! Percuma berdebat dengan bosnya yang sedang dilanda emosi.


Gadis itu memasang senyum terpaksanya.


"Ya, Ada yang bisa aku bantu?" ucap Lia melembutkan suaranya.


"Cari hotel! Aku mau tidur." titah Adam sambil mencondongkan joknya ke belakang agar bisa tidur dengan nyaman.


"Ya Ampun." guman Lia pelan.


Dia sudah bisa memperkirakan hal ini akan terjadi. Tidak mungkin dia sampai di rumah dalam waktu 7 jam. Apa dia akan butuh waktu berhari-hari untuk sampai di rumah? Lia bergidik membayangkan harus berhari-hari menghabiskan waktu dengan babang galak.


"Hotel seperti apa bos?" tanya Lia memastikan keinginan Adam.


"Tidak mungkin ada hotel seperti itu. Ini bukan kota besar. Hotel kelas melati yang ada. Kalaupun mungkin adanya juga homestay." batin Lia mengelus dada.


"Tidak ada bos. Tidak mungkin ada hotel seperti itu." sanggah Lia menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku tidak butuh alasan. Tugasmu hanya mencari. Jangan bangunkan aku sebelum kau menemukan hotel seperti itu!"


"Sampai pagi juga tidak akan ketemu." dengus gadis cantik dengan jaket tebalnya.


Lia harus browsing hotel di kota yang mereka singgahi. Cukup lama gadis itu berkutat dengan gawainya. Beberapa kali dia menguap dan mengucek matanya kasar. Lia benar-benar sangat mengantuk. Ini pukul 1 dini hari. Jika di rumah dia sudah tidur berselimutkan bed cover Dinonya.


Benar saja, hanya ada hotel bintang satu di kota ini. Ada beberapa hotel melati tapi bosnya ingin hotel yang terbaik.


"Pusing kepalaku bos. Kalau mau kamar suite kita harus ke hotel bintang Empat atau lima. Ini kota kecil bos." ucap Lia putus asa menatap layar handphonenya.


Gadis itu segera mendekati mobil dan melihat bosnya tengah tertidur di jok belakang kemudi. Lia mendesah panjang bingung apa yang harus dilakukan. Tidak mungkin Lia membangunkan bosnya yang tampan. Adam memang tampan. Tidak mungkin ada wanita yang bisa menolak pesona bosnya. Seketika Lia mengerutkan bibirnya. Jika Adam tidak galak.


Lia tidak tahu kenapa dia bisa bahagia menatap bosnya yang tengah tertidur pulas. Gadis itu juga bingung kenapa Adam mau bersusah payah mengantarnya. Kenapa harus Adam? Dia punya sopir bukankah lebih baik sopir saja yang mengantarnya. Ini bahkan bukan weekend. Apa Adam tidak bekerja?


Tinggal separuh jalan lagi dia akan pulang ke rumah. Bukan rumah yang sangat dia dambakan yang dimiliki Adam sekarang. Lia hanya ingin bertemu dengan keluarganya. Rumahnya adalah rumah dimana keluarganya tinggal.


Banyak hal yang ingin dia lakukan bersama keluarganya. Dia ingin memeluk Bundanya dan ayahnya. Lia juga merindukan Aprilia adiknya.


Lia benar-benar merindukan mereka. Dia ingin berbagi cerita selama dia jauh dari bundanya. Tidur dipangkuan bunda adalah hal pertama yang ingin dilakukan.


Saat mbok Yem mengelus rambutnya dan bercerita banyak hal. Lia menyadari bahwa tidak ada yang akan menyayangi dia sedalam bundanya.


Walaupun dia sedikit heran bos galaknya ternyata juga menyayanginya. Dari sikapnya yang dingin dan acuh Adam lebih baik ratusan kali dari Robert.


Mantan kekasih Lia yang masih bernaung dihatinya.


Sulit dipercaya lelaki yang diharapkan Lia menjadi pelindungnya justru mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Gadis itu sedikit merasa melankolis. Berat jika harus membenci Robert yang pernah berbagi hari bersama Lia. Robert yang setia mendampinginya saat kuliah. Robert yang begitu lembut dan menyayanginya. Ternyata Lia salah.


Mata Lia terasa panas. Dadanya bergemuruh menahan sesak. Robert yang dia pikir baik malah berniat melecehkan dirinya. Lia hampir tidak percaya bahwa Adamlah yang menemaninya keluar dari keterpurukannya. Bos galaknya.


Adam yang menemaninya terapi ke psikiater. Dia juga selalu mengajaknya mengobrol dan bercerita banyak hal. Adam yang pendiam bisa begitu cerewet. Kadang dia juga membuat lelucon yang menghibur Lia.


Tak terasa sudut bibir Lia terangkat. Hatinya merasa tenang tanpa alasan.


"Semoga kau selalu bahagia bos!" harap Lia melihat kelelahan di wajah bosnya.


Adam menggeliat setelah satu jam tidur di mobil. Entah alasan apa yang membuat Lia dengan sabar menemani bosnya tidur. Dia bahkan menyelimuti bosnya dengan jaketnya yang kecil.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Adam kaget karena jarak Lia begitu dekat dengannya.


"Eh.. Aku pikir bos kedinginan." ucap Lia gelagapan. Kaget dan berdebar.


"Apa kau pikir jaket ini akan menutupi tubuhku?" Bagaimana?" tanya Adam memijit kepalanya. Tidur dalam keadaan terpaksa membuat kepalanya pusing dan badannya pegal.


"Hanya ada hotel bintang satu bos. Itupun kita harus putar arah. Setengah kilo dari sini. Di depan ada hotel melati dengan sepuluh kamar jaraknya satu dua kilometer dari sini. Fasilitasnya juga terbatas tapi bisa untuk tidur."


"Telepon pastikan ada kamar kosong!"


"Yang mana bos?"


Mata Adam melotot ke arah Lia. Lia mendelik ketakutan. Bodohnya! Lia memang tidak berbakat jadi asisten pribadi.


*******


"Adam mengantar Lia pulang?"


"Iya, Nona Marisa. Sepertinya Tuan Adam spontan mengantar nona Lia. Dia bahkan tidak berkemas."


Marisa mengernyitkan dahi. Dia bersedekap memandang jendela kantor yang menampakkan pemandangan gedung pencakar langit.


"Kita akan menyusulnya. Cari tahu di mana lokasinya!" ucapnya datar penuh penekanan memerintah.


"Baik, Nona!"


Marisa tersenyum menyeringai. Dia sudah menyiapkan rencananya. Dia memastikan Adam akan terjerat dalam perangkapnya.


*****


Budayakan Jejak!


Thank You