
Padahal niatku mau Hiatus karena gak lolos Review awal. Tapi kadang aku kangen sama Adam dan Lia.
Oke... Lanjut!
Tinggalkan jejak ya!
******
"Tolong aku." lirih Lia.
"Jangan mendekat!" pinta Lia.
Rintihan Lia disambut suara tawa yang menggelegar.
"Gadis manis, Kita senang-senang dulu."
NGuing...NGuing....NGuing...
Terdengar Sirine polisi. Keempat lelaki itu panik. Siapa yang memanggil polisi?
"Kalian sudah terkepung. Menyerahlan! "
Lia merasa lega akhirnya Tuhan mengirimkan penolong. Isakkan tangisnya berubah menjadi senyuman tipis. Siapakah gerangan penolongnya? Pastilah Abang polisi yang ganteng seperti di film-film.
"Eh... Apa kau menjebak kami?" Lia tergagap bingung dan takut. Detak jantungnya berdenyut lebih cepat mendengar tuduhan seorang penjahat.
Bagaimana bisa dia menjebak sementara justru gadis itu yang terjebak. Lia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Keempat lelaki itu mendekatinya. Wajah panik dan gusar menyelimuti Lia.
"Apa yang akan kalian lakukan?" batin Lia penuh ketakutan.
"Kita akan bersenang-senang sebelum ajal." ucap seorang pria bertato.
"Apa mereka sudah gila. Bagaimana mereka bisa bersenang-senang sementara polisi di depan. Apa yang akan terjadi padaku. Aku takut. Ya... Allah tolong aku! Bagaimana ini. Ayo pak polisi masuklah dan tolong aku! Aku tidak mau menuruti nafsu bejat mereka."
Dua laki-laki mendekati Lia dan menyentuh bahu Lia mulut Lia diikat. Dia tidak bisa mengeluarkan suara meminta tolong. Hanya rintihan lirih yang bisa dia ucapkan. Seorang pria berusaha mengoyak bahu Lia. Lia menangis memohon ampun. Tapi dua orang yang mendekati Lia tidak bergeming. Sedangkan dua lainnya tersenyum meremehkan Lia.
""Kami hitung sampai tiga. Jika kalian tidak keluar kami akan masuk dengan paksa."
Dua orang lelaki yang mendekati Lia menghentikan aktivitasnya. Baju Lia sedikit sobek pada bagian atas. Mereka berdua saling berpandangan. Penuh ketakutan dan kebimbangan.
"Bagaimana ini? Keadaan kita sudah terdesak. Kita tidak mungkin bisa lari."
"Kita gunakan gadis ini sebagai sandera."
"Dia hanya gadis biasa."
"Tidak ada salahnya dicoba."
Keempat orang itu sepakat menggunakan Lia sebagai sandera. Lia dipaksa berdiri dan berjalan di depan keempat orang itu.
Mereka berlima keluar dari gudang. Salah seorang menarik bahu Lia dan mencengkeram leher Lia.
"Menyerahkan! Jika tidak kami akan melakukan tindakan represif."
"Kami punya sandera. Jika kalian macam-macam kami akan menyakitinya atau lebih buruk lagi." ancam seorang penjahat.
"Kalian sudah terkepung. Menyerahkan agar hukuman kalian bisa lebih ringan."
Seorang lelaki tersenyum sinis didalam mobil.
"Pak Wo, apa belum selesai?"
"Belum tuan polisi masih bernegosiasi." ucap pengawal itu.
Lelaki itu terkekeh dengan jawaban pengawalnya.
Lia ketakutan melihat begitu banyak polisi membawa senjata. Bagaimana jika polisi salah tembak dan mengenai Lia. Keringat dingin bercucuran. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya terasa berat. Sepertinya semua disekelilingnya berputar. Semuanya terus berputar. Kepala Lia terasa berat. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya.
Brukk...
Lia terkulai lemah dan tak sadarkan diri.
********
"Bagaiman keadaannya Pak Wo?"
"Dokter bilang nona Lia mengalami syok ringan. Alam bawah sadarnya menolak untuk bangun. Mungkin dia akan butuh beberapa terapi." jelas Pak Wo.
"Sekarang harus bagaimana?" tanya Adam dengan raut wajah gundah.
"Apa maksud tuan?"
"Kita apakan gadis itu?"
"Kita bisa meninggalkannya di rumah sakit jika tuan mau." saran pak Wo.
" Aku orang yang terkenal rumah sakit akan mudah menemukanku."
"Kita bisa membuangnya."
"Apa itu tidak terlalu kejam?" protes Adam
Keadaan hening. Adam menautkan kedua alisnya. Dia memasang wajah serius. Apa yang harus dia lakukan? Dalam hati pak Wo merasa sangat senang bosnya begitu perhatian pada seorang wanita.
Keheningan itu terhenti ketika ada suara ketukan pintu. Seorang lelaki masuk setelah dipersilahkan.
"Tuan. Polisi ingin bertemu dengan anda."
"Selamat Siang pak Adam." ucap polisi itu.
"Selamat Siang!"
"Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang Nona Lia."
Mereka berbincang dengan santai kadang disela-sela perbincangan mereka tertawa.
"Saya ucapkan terima kasih atas kerja sama pak Adam. Penjahat itu adalah residivis yang sering memperdaya korbannya. Mereka biasanya menjual korbannya di tempat hiburan. Semoga pacar pak Adam segera sembuh dan kembali sehat seperti sediakala!" Polisi itu pamit dan melenggang pergi meninggalkan ruangan Adam.
Pak Wo tersenyum mendengar ucapan polisi itu. Sudah sekitar tiga tahunan tuannya tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Pengawal yang sudah lama bersama Adam merasa lega jika bosnya mau membuka hati. Pengawal tersebut adalah orang kepercayaan Adam setelah Eric.
"Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Apa aku terlihat sangat khawatir?"
"Sejujurnya... Iya." ucap pak Wo tegas.
Adam terperangah mendengar ucapan tangan kanannya. Adam mengiyakan jika dia sedikit Khawatir pada asisten cerobohnya. Bagaimana bisa dia asal naik mobil tanpa mengkonfirmasi sopir dan melihat plat mobilnya. Syukurlah teknologi sekarang canggih. Adam melacak nomor Lia dan menghubungi polisi. Sebenarnya Adam bisa melumpuhkan penjahat itu sendiri.
Namun, sangat beresiko jika Adam berada di garis depan. Dia juga tidak mau Lia GR. Menelepon polisi lebih baik daripada terlibat langsung. Juga lebih aman bagi perusahaannya.
"Apa kau sudah selidiki orang suruhan Marisa?"
"Sedang kami selidiki tuan. Dia tidak akan bisa lolos."
"Apa Marisa tahu kejadian ini?"
"Belum ada kabar. Tuan..."
"Ya..."
"Tentang Eric. Beberapa kali saya melihatnya bersama Nona Marisa."
"Apa mereka pergi berdua?"
"Beberapa kali. Kadang Mereka pergi dengan istri Eric." terang pak Wo.
"Istri Eric adalah teman Marisa. Bahkan mereka bertiga adalah teman masa kecil." ucap Adam datar.
"Maafkan saya, Tuan."
Adam menghela napasnya berat. Apa yang Eric lakukan dibelakang Adam. Bagaimana dia bisa dekat dengan musuhnya?
"Apa ada kabar tentang Vina?"
"Maafkan saya tuan. Belum. Keluarga Nona Davina menyimpan rapat informasi tentang Nona Davina. Kemungkinan Nona ada di luar Negri."
Adam menghela napas dengan kasar.
"Kau boleh pergi. Kabari aku jika Lia sudah sadar."
Adam memejamkan mata mengingat kembali kejadian barusan. Kenapa polisi dan pak Wo bisa berfikir kalau dia sangat khawatir pada Lia.
Flashback On
Brukk....
Adam membelalakkan matanya memandang Lia yang jatuh terkulai. Secepatnya dia membuka pintu mobil dan berlari menghampiri Lia.
Dia tidak menghiraukan teriakan dari beberapa polisi. Adam terus berjalan dan menghampiri Lia. Dia melepas jaketnya untuk menutupi bahu Lia. Baju bagian atas terlihat sobek. Apa penjahat itu melakukan sesuatu yang tak pantas? Adam berniat menuntut mereka dengan pasal berlapis nanti. Dia tidak akan membiarkan para penjahat itu lolos dengan mudah.
Lelaki itu membopong Lia tanpa berkata sepatah katapun. Keempat penjahat yang menculik Lia menjadi ciut. Entah mengapa mereka terpaku melihat sorot mata tajam Adam. Begitu mengunci dan tajam. Seperti sorot mata elang yang tak membiarkan mangsanya lepas.
Polisi segera bergerak menangkap para penjahat itu satu persatu. Mereka diborgol dan di masukkan paksa ke mobil. Keempat penjahat itu menundukkan pandangan ketika polisi menyeretnya masuk ke mobil. Setelah ini mereka akan mendekam di penjara. Hotel prodeo yang dingin dan mencekam.
Adam terlihat panik mendapati Lia pingsan. Ada luka memar di bagian pipi. Wajah Adam memerah menahan emosi. Apa yang di lakukan keempat orang tanpa rasa kemanusiaan pada seorang gadis kecil.
Lelaki itu membawa Lia masuk ke mobil. Dia merebahkan kepala Lia di pangkuannya. Adam menyibakkan surai yang menutupi wajah.Lia. Gadis itu terlihat cantik. Adam mengelus pipi Lia dan menyebut nama gadis manis di pangkuannya dengan lembut. Dia ingin Lia segera sadar. Pak Wo yang duduk di belakang kemudian memasang ekspresi datar. Namun, hatinya merasa lega bosnya bisa dekat dengan seorang wanita.
"Kita ke rumah sakit." titah Adam.
"Baik Tuan."
Sepanjang perjalanan, Adam menggenggam jemari Lia dengan tangan kirinya. Dia mengusap kepala gadis yang pingsan tersebut dengan tangannya yang lain. Manik matanya tak lepas memandang gadis di pangkuannya. Raut wajah khawatir dan bingung membayangi Adam. Apa gadis itu akan baik-baik saja?
Flashback End
"Apa aku sekhawatir itu pada Lia?" guman Adam bermonolog pada dirinya sendiri.
"Davina?" ucap Adam.
Adam menyebut nama wanita yang selama tiga tahun ini bertengger di hatinya. teman kuliahnya dan juga calon tunangannya. Davina menghilang tanpa kabar yang pasti. Dia meninggalkan luka yang dalam bagi Adam. ditinggalkan tanpa alasan.
Banyak rumor yang menyatakan Davina pergi bersama pria lain. Adam terus memikirkan hal ini. Dia menjadi sedih dan terpukul. Terlebih salah satu anggota keluarganya terlalu ikut campur dalam masalah pribadinya. Sekarang, Adam bermetamorfosa dari seorang kutu buku menjadi lelaki bertangan dingin. Dia juga berhati dingin. Adam belajar berbisnis dan melanjutkan perusahaan keluarganya. Saat ini, dia sukses mendirikan beberapa cabang perusahaannya di luar negri. Semua berawal karena sakit hatinya. Sakit hati yang menggoreskan luka.
Adam termenung di meja kerjanya. Dia menumpukan dahinya pada kedua tangannya. Seolah sulit menerima kenyataan orang yang dia cintai pergi tanpa kabar. Dalam kegalauannya ada senyum tipis yang mengembang.
Dia melihat beberapa barang Lia yang di bawa oleh polisi tadi. Sebuah boneka Dinosaurus milik Lia. Boneka warna hijau yang terlihat lucu. Sebenarnya boneka itu jenis Dinosaurus buang menyeramkan. Entah mengapa Adam tersenyum bahagia memandangi boneka Lia. Apa yang terjadi dengan hatinya?
"Lia." ucap Adam dengan sudut bibir yang tertarik.
*******
**Tinggalkan jejak ya!
Semangat**!