
"Jemput aku!"
Seorang pria mengakhiri panggilan. Dia duduk di sebuah restoran menyesap kopi dan menarik napas panjang. Setelah kepulangannya dari rumah Lia, dia seperti hilang arah. Galau dan gusar. Adam tidak tahu apa yang harus dilakukannya tanpa asisten nano-nanonya. Dia gadis Ter... semuanya.
Banyak hal yang terjadi selama dua hari bersama Lia. Selama itu pula dia belajar banyak hal. Namun, setelah ini mungkin semuanya akan kembali seperti semula.
Hening
Padahal jika ditelisik gadis itu juga tidak melakukan hal yang heboh. Tingkahnya yang lugu dan polos justru membuat Adam tertarik. Adam yang merasa jiwanya hampa lambat laun menemukan ritme kehidupan bersama Lia.
Flashback On
"Pulanglah bersamaku Lia!" pinta Adam. Lelaki itu memandang Lia penuh harap. Jantung Lia berdegup kencang hanya karena menatap mata Adam. Sorot mata yang kuat itu berubah menjadi sayu.
"Aku tidak bisa bos. Ada orang yang melamarku. Jika ayah setuju aku akan mematuhinya sebagai balas jasaku." jawab Lia menundukkan kepalanya. Memandang wajah Adam saat ini bisa membuat hati Lia ******* karena tidak tega.
"Apa kau pikir menikah itu untuk balas budi? Sejak kapan pikiran itu mendekam di otakmu?" ketus Adam yang mulai tidak bisa mengontrol emosi dirinya.
"Ini yang bisa aku lakukan untuk membuat orang tuaku bahagia. Jika aku menikah ayah tidak perlu kerja keras dan April bisa kuliah nantinya." alasan Lia yang dirasa gadis itu tepat. Adam merubah raut wajah menjadi lebih serius.
"Apa kau yakin akan menikah dengan pria baik dan kaya? Bagaimana kalau dia tua, miskin dan jelek?"
"Itu mungkin akan jadi takdirku. Asalkan orang lain bisa bahagia. Semua itu akan aku terima." ucap gadis itu pasrah. Ucapan Lia seperti korek yang menyulut api.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya bicara denganmu. Kalau kau bekerja padaku ayahmu tidak usah bekerja keras dan adikmu juga bisa kuliah nantinya." Adam tidak habis pikir dengan kesimpulan yang dibuat Lia dengan pernikahan. Apa gadis itu yakin pernikahannya akan seindah harapannya? Dia harus sadar bahwa tidak semua pernikahan akan berjalan mulus.
"Aku tidak mau merepotkanmu, bos." Kalimat Lia sontak membuat Adam menatap tajam gadis berambut lurus dihadapannya.
"Perlu kau tahu, dirimu sudah merepotkanmu sejak awal."
"Maaf!"
"Bahkan hutangmu padaku juga masih banyak."
"Akan ku lunasi kalau aku sudah bekerja atau kalau suamiku mau melunasinya nanti."
Flashback End
"Apa dia pikir kalau menikah semua bisa beres? Bagaimana kalau suaminya jahat dan malah menganiaya dirinya." monolog Adam yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya akan pernikahan Lia yang tidak jelas dengan siapa.
"Pikiran kolot macam apa yang dimiliki wanita jaman sekarang?" ketus Adam memikirkan Lia.
Dia benar-benar tidak tahu cara menghadapi gadis yang pernah bekerja padanya. Mau marah juga percuma. Apa perlu gadis itu dilaporkan ke kantor polisi karena kasus penipuan? Lagipula Lia sudah menandatangani kontrak perjanjian kerja bahwa dia tidak bisa keluar sebelum Eric kembali. Itu bisa jadi senjata Adam dikemudian hari. Lelaki itu tersenyum sendiri memuja kepandaiannya.
*********
"Bagaimana?" tanya seorang wanita pada laki-laki bertubuh kekar. Wajahnya yang cantik tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tuan Adam minta dijemput Nona. Kami akan berangkat sekarang?" ucap pak Wo. Dia sudah menyiapkan beberapa orang untuk segera menjemput Adam.
"Apa Lia ikut?"
"Tuan Adam tidak mengatakan apapun. Dari nada bicaranya sepertinya dia sedang kesal." Pak Wo memutar rekaman percakapan dirinya dengan Adam. Marisa tersenyum mendengarnya.
"Adam kesal? Apa menurutmu rencanaku akan berhasil?"
"Saya tidak bisa berkata apa-apa, nona." Pak Wo adalah orang yang sangat berhati-hati. Dia sendiri juga sangat riskan karean berdiri diantara dua orang uang berseteru. Adam dan Marisa bagaikan air dan api yang tidak bisa bersatu. Walaupun pak Wo adalah orang kepercayaannya Adam dia juga berhutang budi pada Marisa. Pilihan yang sulit.
"Aku tahu kau menyayangi Adam. Kau orang kepercayaannya tapi kau harus tahu apa yang sudah aku lakukan untukmu. Apa dia pernah bertanya sesuatu tentangku?" tanya Marisa dengan penekanan yang halus.
"Tuan Adam pernah bertanya tentang hubungan nona dan tuan Eric." jelas pak Wo singkat.
"Kau bilang sesuatu?"
"Sesuai perintah, Nona."
"Bagus. Tetap simpan rapat-rapat hubunganku dengan Eric. Aku tidak mau Adam salah paham."
"Sebenarnya, Saya berfikir lebih baik dengan. nona Lia." usul pak Wo ragu.
"Aku tidak peduli pernikahannya. Aku hanya ingin dia menikah saja." celetuk Marisa. Dia sebenarnya suka dengan Lia. Gadis itu bukan keluarga berada sehingga Marisa agak ragu memasukkannya menjadi anggota keluarga Adam. Pun Lia terlalu lemah. Dia tidak akan sebanding jika menghadapi Davina.
"Maafkan saya Nona."
"Akan ku pertimbangkan saranmu nanti." senyum tulus Marisa atas perhatian pak Wo.
"Terima Kasih, Nona Marisa."
*****
"Adel apa kau yakin akan menerima lamaran dari pak Budi?"ucap bunda Risma sedikit khawatir. Dia takut putri sulungnya salah mengambil langkah.
"Apa menerima lamaran itu kurang baik, bun?" ucapan polos Lia disambut gelengan dari bundanya.
"Bukan. Bunda hanya tidak suka perjodohan dan kamu menerima lamaran itu tanpa tahu siapa laki-lakinya. Bunda rasa itu kurang baik." kilah bunda Risma takut jika Lia tersinggung.
"Lalu apa yang harus Adel lakukan?"
"Bunda ingin kamu lulus kuliah dulu. Kau harus menikmati masa mudamu. Bekerjalah dulu dan bersenang-senanglah dengan hasil jerih payahmu!" saran terbaik seorang ibu untuk anak gadisnya yang beranjak dewasa.
"Bunda tidak suka kalau Adel menikah muda?" tutur Adel bimbang.
"Bukan seperti itu Adel! Bunda hanya ingin kamu bahagia dan mendapatkan semua keinginanmu."
"Kalau pikiranmu belum matang, lebih baik berteman saja dulu. Saat menikah tidak akan ada garasi. Itu kontrak seumur hidup yang tidak bisa ditukar." lanjut bunda menasehati.
Lia mulai bimbang dengan keputusannya. Pak Budi teman ayah sekaligus tetangga mereka di kota. Tidak mungkin pak Budi akan mengenalkan Lia dengan orang jahat. Bagaimanapun perkataan bunda Risma ada benarnya.
Pernikahan itu ikatan yang suci. Itu kontrak seumur hidup yang tidak akan bisa diganti.
Apakah bijaksana menerima pinangan orang yang tidak dikenal sama sekali? Sekarang juga tidak ada jalan kembali. Adam terlanjur marah karena Lia menolak pulang bersamanya. Bunda dan Ayah sangat berharap Lia bisa lulus kuliah.
Pun di mata April, Lia akan merasa malu jika dia tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi adiknya.
Seharusnya ini akan mudah jika jalannya tidak seterjal ini. Lia merasa gamang dengan pilihannya. Haruskah Lia kembali dan menyelesaikan kuliahnya? Dengan semua keterbatasan ekonomi, tenaga dan waktu, mungkinkah dia akan berhasil?
*******
"Apa kau berhasil menghubunginya Amel?" tanya Alex yang mulai risau. Adam tidak bisa dihubungi selama beberapa hari. Itu membuat Alex tidak bisa mendekatkan Adam dengan putrinya.
"Maaf ayah, Nomornya tidak aktif aku sudah berkali-kali mencoba." Amel gemetaran karena ketakutan. Jika dia tidak bisa mendekati Adam maka dia akan jatuh miskin sama seperti Lia. Perusahaannya butuh suntikan dana dan hanya perusahaan Adam yang bisa menolong.
"Apa kau tahu? Dia tambang emas kita. Jangan biarkan dia lolos!" tekan Alex pada putrinya. Tangannya mencengkram pundak Amel begitu kuat.
"Amel mengerti ayah. Amel akan lebih berusaha!" ucap Amel disela rintihannya menahan sakit.
"Ayah hanya minta hasil. Tidak peduli bagaimana usahamu. Ayah hanya minta hasil yang terbaik."
"Baik ayah."
*******
Marisa galau nich mau jodohin Adam sama siapa? Aku juga ikut galau Mar.
Ada yang kepo siapa Marisa?
Biarlah dia jadi misteri sampai pernikahan Adam
Tinggalkan jejak. Aku semangat nulis karena ada Ikha Destriana yang komen kelamaan up.
Maaf namanya juga banyak sambilan. Thanks ya dah ninggalin jejak.
Sehat selalu!