Be My Home

Be My Home
Bersedia, Siap, Ya!



Favoritkan aku!


Tinggalkan jejak padaku!


Happy Reading!


******


"Apa? Kamu sadar kan waktu bilang iya?"


"Setengah sadar. Kayaknya pas itu aku dihipnotis."


"Beneran, Kamu terima pekerjaan itu?"


Flashback On


"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu, Adelia."


Lia mengernyitkan dahinya. memikirkan kemungkinan apapun yang akan Adam bicarakan. Apa arti dari menawarkan sesuatu.


"Apa itu?" tanya Lia penasaran.


"Kamu suka rumah ini?


"Kenapa?" sambung Adam.


" I....ya....Rumah ini bagus, Hommy, Cozy and Lovely." jawab Lia penuh tanda tanya.


"Ternyata Rumah ini punya daya tarik tersendiri buatmu? Great... I offer you a job, money and place to stay."


"Maksudnya pekerjaan, uang dan tempat tinggal?"


"Aku ingin kau bekerja padaku. Kau bisa tinggal di sini dan digaji. Bagaimana?"


Pikiran Lia menerawang jauh karena tawaran Adam. Jadi apa? Apakah Lia akan jadi karyawan? Asisten pribadi atau jadi .....? Lia menggelengkan kepalanya dan mengusir semua pikiran yang aneh-aneh.


Dia hanya ingin kehidupan yang normal. Uang banyak bukan hal yang penting saat ini. Bekerja dengan bos Yudha dan tambahan dari uang les sudah cukup. Di restoran dia bisa makan enak. Lia juga dapat uang tambahan dari tip pelangan restoran. Tujuannya saat ini hanya segera ingin selesai kuliah dan berkumpul bersama keluarganya.


"Jadi apa pak?"


"Aku ingin kau menjawab iya?"


"Dia tidak menyebutkan jenis pekerjaannya tapi aku harus menjawab iya. Aku tidak mau pekerjaan yang aneh-aneh."


"Saya perlu berfikir pak." tawar Lia.


"Kau bisa berfikir di kandang Singa. Take your time!"


Lia menelan salivanya beberapa kali.


"Apa dia gila? Sungguh dia punya Singa? Ini gertakan atau dia sungguh-sungguh. Bagaimana ini? Dibagian mana dari rumah ini yang dia pakai untuk memelihara singa. Kenapa sepertinya juga tidak ada suara singa mengaum. Jebakan pasti." guman Lia dalam hati.


"Mari saya antar nona!" ajak seorang bodyguard. Dia tampak meyakinkan. Seketika nyali Lia ciut untuk bertanya balik dan protes pada Adam.


"Pak!" Lia mengeleng pelan.


Adam tersenyum miring menampakkan kekuasaannya.


"Baik pak. Saya bersedia." jawab Lia ragu.


"Tulis nomormu kau akan kuhubungi! Pastikan kau selalu siap saat kuhubungi. Jangan menghindar atau bersembunyi. Itu larangan!" Adam menyerahkan handphone salah seorang bodyguardnya.


Flashback End


"Kamu harus tolongin aku, Tih. Kalau sampai aku gak ngasih kabar kamu seharian. Kamu lapor bos Yudha suruh tolongin aku atau lapor polisi ya Tih." pinta Lia memelas.


"Iya. Ya! Serius Babang galak sengeri itu."


"Aura babang mencekam, Tih. Ngeri... tatapannya aja menusuk. Jleb... langsung ke jantung....."


"Jantung.... Tih. Jantung hatiku."


Lia cengingisan saat selesai mengucapkan kata terakhir.


"Sialan.... Aku dah tegang banget tahu. Aku takut kamu kenapa-napa dan diapa-apain."


"Abis babang galak terlalu ganteng. Coba babang ramah dan lembut kayak bos Yudha. Menurutmu babang dah punya pacar belum? Umur babang berapa ya?"


Lia tersenyum dan menopang dagu dengan kedua tangan sambil tersenyum penuh puja.


Ratih hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya yang labil. Bilangnya gak suka sekarang jadi suka besuknya bilang gak mau mikirin.


*****


Drtt...Drtt...


Nomor tidak dikenal menelepon Lia. Agak malas untuk mengangkat, Lia mengacuhkan begitu saja. Dia teringat tempat interview magang. Lia pun mengangkat telepon.


"Hallo, Assalamualaikum!"


"..."


"Hah, Saraf apa ya!"


Lia menggeleng pelan karena nomor itu hanya mengatakan ke sini tanpa memberi tahu alamat yang jelas.


Telepon itu terus berdering dengan nomor yang sama. Lia tetap acuh dan mengisi TTS di kamar kosnya. Lia merasa mengantuk dan merebahkan tubuhnya di spons kamarnya.


Tok...tok...


Pintu kamar Lia diketuk. Malas dan mengantuk membuat Lia mengabaikan ketukan itu. Suara ketukan mirip gedoran terdengar semakin keras dan mengganggu. Teriakan nama Lia juga terdengar di sela-sela ketukan


"Ya, ada apa?"


"Cepat keluar, Lia! Beberapa orang mencarimu." ucap temen kos Lia dengan nada panik dan takut.


Lia membelalakan matanya. Rasa kantuknya tiba-tiba menghilang . Dia mengambil jaket menutupi tanktop yang dia pakai. Di bagian bawah dia memakai hot pants.


Di luar kos sudah berdiri beberapa orang berjas. Lia seperti mengenal seorang diantaranya tapi Lia lupa. Dengan nyali yang seadanya Lia memberanikan diri bertanya.


"Kalian siapa?"


"Nona Adelia silangkan ikut kami. Bekerjasamalah! Jangan membuat keributan! Kami bisa sangat brutal."


Lia terkesiap. Dia meminta ijin untuk ganti baju tetapi tidak diperbolehkan. Terpaksa Lia menuruti mereka.


Lia di antar masuk ke rumah yang pernah dia datangi.


"Bukankah aku sudah bilang kau harus selalu siap saat aku hubungi."


"Pak.... Bapak kan tidak bilang nama dan alamat waktu telpon Jadi bagaimana saya tahu kalau yang telpon Bapak." protes Lia dengan suara sedikit tinggi.


Semua bodyguard menatap Lia dengan tatapan tajam. Tak terkecuali Adam.


Lia menarik seluruh tubuhnya berusaha menyembunyikan diri tetapi tidak bisa. Apalagi dengan hot pantsnya. Di rumah itu ada sebelas pria dan seorang wanita. Lia cukup keder sendirian. Pemberitaan media massa tentang pemerkosaan bergerombol membuat Lia tremor.


Lia mundur selangkah.... dua langkah dan membalikkan badan hendak berlari.


Semua bodyguard mengepung Lia. Mereka membentuk lingkaran mengitari Lia. Lia sungguh ketakutan. Bagaimana bisa bertahan enam bulan di kota ini tanpa orang tua? Bisa keluar dari tempat ini saja sudah keajaiban. Lia berdiri memutar melihat seluruh bodyguard yang mengitarinya. Mereka bertubuh tinggi besar dan berbadan kekar. Tidak mungkin bisa keluar dalam keadaan utuh.


Air mata Lia menggenang. Dia duduk bersimpuh dan menangis. Tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan para bodyguard. Mereka semua berdiri mematung mengitari Lia dengan ekspresi datar. Adam duduk dan menikmati secangkir kopi tanpa memperhatikan Lia.


Lia menelangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan menangis sesengukan. Saat ini mungkin seluruh hidupnya akan hancur. Masa depannya yang dia dambakan akan musnah.


Berkali-kali Lia meminta maaf dalam hati. Pada Tuhan karena belum bisa jadi manusia yang bertaqwa dan pada orang tuanya karena belum bisa jadi anak yang berbakti .


Brukk....


Tubuh gadis itu terkulai lemas di lantai. Adam memutar tubuhnya kemudian berdiri menghampiri gadis itu.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Adam panik.


"Kami tidak melakukan apapun, Bos." ucap seorang bodyguard.


"Sepertinya dia ketakutan sampai pingsan." sambung bodyguard yang lain.


Adam terlihat panik dan menyuruh memanggilkan dokter.


"Angkat dia!" titah Adam.


"Dia mau di baringkan kemana, Bos."


Adam bingung karena rumah ini baru dia beli dia belum menjejakkan kaki di seluruh rumah.


"Tinggalkan dia di lantai dan chek seluruh kamar. Cari kamar yang bisa di pakai untuk membaringkannya."


Adam mendekati Lia. Lelaki itu memandang Lia yang tergeletak di lantai. Dia menyibak surai yang menutupi wajah si gadis. Gadis berambut hitam panjang itu tak sadarkan diri. Dia tergolek lemas dan tak berdaya.


"Menyusahkan saja." guman Adam.


"Bos Kamar atas sudah saya bersihkan dan sekarang bisa di tempati. Biar saya yang membawanya."


Adam membaringkan Lia di kamar yang bernuasa Girly Chic. Tembok yang di cat Dusty Pink menambah kesan pemiliknya adalah seorang perempuan.


Adam duduk di sofa kamar yang berwarna merah marun. Lelaki itu menggelengkan kepalanya karena jengah berada di kamar seorang wanita yang penuh nuansa pink.


Lia menggeliat, meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali karena nuasa kamar itu mirip dengan kamarnya yang dulu. Apa Tuhan mengirimnya ke surga karena perbuatan baiknya. Mungkin Tuhan menghadiahi kamar ini untuk Lia. Gadis itu tersenyum bahagia dan berubah menjadi sayu saat membayangkan kehidupan di dunia sudah berakhir. Mimpinya dan harapan orang tuanya tidak terwujud.


"Hiks...hiks..."


"Hm...Hmmm..."


Suara deheman itu mengangetkan Lia. Dia memiringkan tubuhnya ke sumber suara. Lia terkejut mendapati Adam duduk di sebelah ranjangnya.


"Apa di surga juga ada setan?" batin Lia sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa aku masih hidup?" guman Lia pelan.


Lia mencubit pipinya dan merasakan sakit.


"Aaa...uu. Sakit."


Lia menatap Adam penuh ketakutan. Dia beringsut menjauhi Adam. Adam bisa melakukan apapun di kamar ini. Lia juga tak mungkin bisa menghindar dari penjagaan 10 bodyguard di luar.


"Kita belum selesai, Nona!"


*****


**Ayo tinggalkan like dan komen.


Vote juga dengan senang hati diterima.


Thank You**!