Alexander

Alexander
Bab 9



Kini Kartika sedang sibuk mencoba satu persatu baju pengantin di salah satu butik ternama di dampingin oleh Ayuning.


"Bu. Aku lelah." Kata Kartika, sambil duduk berjongkong di depan Ayuning.


"Masih banyak pilihan. Ayo, ganti lagi." Kata Ayuning sambil membantu Kartika berdiri.


"Bu. Boleh kah aku memakai gaun pengantin biasa-biasa saja. Aku sudah lelah bu." Bujuk Kartika pada Ayuning, dan Ayuning tersenyum.


"Bu. Aku pilih yang ini." Tunjuk Kartika pada satu gaun yang di gantung.


Ayuning menatap gaun itu, lalu menatap Kartika. "Kau yakin?" Tanya Ayuning.


"Aku yakin bu." Jawab Kartika.


•••••


Kini Alex sedang duduk sambil membaca surat kabar, dan sesekali mengecek ponselnya. Wajah Alex nampak sangat datar saat Ayuning mengirimkan foto dirinya dan juga Kartika.


"Ternyata dia pintar juga merayu ibu." Batin Alex lalu kembali melanjutkan membaca surat kabar.


Lalu tiba-tiba terbesit pikirannya tentang kejadian malam itu. Kejadian yang harus membuatnya akan menikahi wanita yang sama sekali belum ia kenal, wanita yang hanya menjadi karyawannya di perusahaan dan belum pernah bertatap muka sama sekali. Lalu Alex meraih ponselnya dan menghubungi Aris untuk mencari tahu semua apa yang terjadi di malam itu.


"Lihat saja. Busukmu akan segerah ketahuan." Gumam Alex.


"Daddy...." Teriak Mora dengan sangat kerasnya sehingga membuat Alex sampai kaget. Tapi bukan Mora jika kelakuannya tidak seperti itu.


"Sampai kapan daddy akan menghukum kak Molki?" Tanya Mora sambil berdiri di depan Alex dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya.


"Dad. Aku tanya, sampai kapan daddy menghukum kak Molki?" Ulang Mora dengan wajah kesal menatap Alex.


"Daddy." Teriak Mora tidak terima dengan perkataan Alex. "Daddy jahat, daddy tidak mengenal kami, tidak tahu apa yang aku dan kak Molki mau. Yang daddy tahu, hanya biaa memberikan kami uang dan menghukum kami, walau kami tidak bersalah."


"Mora....." Teriak Alex dengan sangat keras, sambil berdiri dari duduknya.


Mora menunduk. Dan air matanya langsung menetes ke pipi imutnya.


"Kau jahat daddy. Kau jahat." Lirih Mora membuat Alex kalang kabut dan merasa bersalah karena sudah berteriak di depan sang anak.


"Mora" panggil Alex sambil menunduk dan ingin mengusap pundak Mora, namun dengan cepat Mora menghindar.


"Aku benci kamu dad. Aku benci." Ucap Mora lalu berlari menuju kamarnya.


"Ibu.. Hikkkssss, hikkkksss, hikkkkssss." Ucap Mora sambil menangis.


"Ibu. Mora rindu ibu, andai ibu ada, kak Molki tidak akan di hukum. Ibu...Hikkkssss."


Alex langsung menghembuskan nafasnya secara perlahan lalu mengusap wajahnya, ia dengar dengan jelas saat ini sang putri sedang menangis dan memanggi sang ibu.


"Apa tindakan ku salah?" gumam Alex, sambil beridir di depan pintu kamar Mora. Hati Alex sangat sakit, mendengar jeritan tangis dari putri tersayangnya. Kesedihan Mora, adalah kesedihan bagi Alex. Namun Alex tidak tahu harus melakukan apa, agar putrinya bisa merasa lebih baik.


"Ibu..."Lirih Mora sambil memeluk foto sang ibu.


Hingga beberapa saat kemudian, karena lelah menangis kini Mora telah tertidur. Alex yang sedari tadi menunggu di depan pintu, langsung masuk ke dalam kamar.


Alex mengusap kepala Mora penuh dengan cinta. Lalu menyibak rambut Mora ke belakang telinga.


"Maafkan Daddy." Gumam Alex.