
"Dimana Molki dan juga Mora?" Tanya Alex saat masuk ke dalam rumah, sambil berjalan melonggarkan dasinya.
"Dia..." Ucapan bi Ratih terputus kala, Kartika langsung datang menyelah.
"Mereka ada di kamar" jawab Kartika sambil meraih tas kerja milik Alex.
"Aku sudah menyiapkan air mandi untukmu." Kata Kartika membuat Alex menghentikan langkahnya.
"Jangan cari perhatian denganku." Ucap Alex dengan ketus.
"Aku hanya memperhatikan mu sebagai pasangan. Bukan mencari perhatian. Jadi, jelas beda." Jawab Kartika yang tidak terima jika dirinya di sebut mencari perhatian.
Alex tidak menggubris ucapan Kartika, ia langsung saja jalan. Menaiki anak tangga.
"Dasar pria dingin." Ketus Kartika, dan membuat langkah kaki Alex terhenti.
"Kau bilang apa?" Tanya Alex, sambil menolehkan kepalanya kebelakang, melihat Kartika yang masih berdiri di ujung tangga..
"Kau dengar apa?" Jawab Kartika dengan sebuah pertanyaan.
Alex menggelengkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya.
Karena percuma bagi Alex berbincang dengan seorang Kartika, yang ujung-ujungnya tidak bisa Alex kalahkan dalam hal berbicara.
"Nyonya hebat." Kata Ratih sambil menganggat jempolnya. Ratih yang sejak tadi diam mematung, terus saja memperhatikan nyonya dan tuannya yang sedikit terlibat pertengkaran kecil.
"Bi Ratih. Bantu aku siapkan makan malam." Ajak Kartika.
"Tapi tunggu dulu." Ucap Kartika sambil tertawa kecil. "Aku lupa menyimpan tas pria dingin itu."
Alex menautkan satu alisnya, saat hendak menuruni anak tangga dan mendengar suara tawa dari arah lantai satu.
"Mora." Batin Alex yang hafal betul dengan suara sang anak.
Ya, kini suara Mora yang tertawa dengan lepas terdengar hingga lantai dua. Alex yang berada di atas dan mendengar tawa sang anak, langsung penasaran. Karena baru kali ini Alex mendengar Mora tertawa lepas, dan terdengar seperti sangat bahagia.
Namun langkah kaki Alex terhenti, kala melihat Mora tertawa dengan di dampingi oleh Kartika yang berada di samping Mora.
"Nyonya." Ucap bi Ratih dengan pelan, kala menyadari jika tuan Alex sudah berdiri tidak jauh dari arah dapur.
"Nyonya." Panggil ulang bi Ratih, karena Kartika dan Mora masih sibuk saling melempar tepung terigu ke arah satu sama lainnya.
"Ada apa bi?" Tanya Kartika di sela tawanya.
"Hentikan." Teriak Alex dengan nada suara yang meninggi. Hingga membuat Kartika dan juga Mora menghentikan aktifirasnya.
"Mora, sekarang juga, masuk ke kamar. Dan bersihkan dirimu." Titah Alex yang tak ingin terbantahkan.
"Dan kau!" Ucap Alex sambil menatap tajam pada Kartika.
"Tante." Lirih Mora sambil menggenggam tangan Kartika. Karena Mora sudah mulai merasa takut, mendegar perkataan Alex.
"Masuklah sayang. Bersihkan dirimu." Ucap Kartika, dan Mora langsung menurut, dan berjalan dengan pelan menuju kamarnya. Sesekali Mora membalikkan kepalanya, melihat Kartika.
"Jangan hukum tante Kartika." Teriak Mora dengan keras sebelum menutup pintu kamarnya.
"Begini caramu mengajari anakku? Kau mengajarinya bermain kotor-kotoran."
"Bukan kotoran. Itu hanya tepung terigu." Jawab Kartika.
"Aku tahu. Kau pikir aku buta?" Bentak Alex.
"Kau! Kedatanganmu di rumah ini, membuat aku setiap hari kesal. Dan kedatanganmu di rumah ini membawa pengaruh buruk untuk Mora."
Kartika menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan pria dingin yang ada di hadapannya ini, yang mengiria dirinya membawa pengaruh buruk pada Mora.
"Jangan dekati anak-anakku. Terutama Mora."
Mendengar ucapan itu, Kartika langsung menaikkan kepalanya dan menatap Alex.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Kartika.
Alex menautkan alisnya mendengar ucapan Kartika.
"Mereka anak-anaku. Bukan anakmu." Sentak Alex dengan tegas.
"Ingat! Jangan dekati anakku, dan jangan pengaruhi pikiran anak-anakku."