Alexander

Alexander
Bab 24



Mora gelisah, karena hingga sampai saat ini Kartika tak kunjung juga datang berkumpul di meja makan, untuk menikmati makan malam.


"Mora, makan." kata Alex sambil memberikan makanan ke piring Mora.


"Dad." Lirih Mora, menatap wajah Alex.


"Habiskan makanmu. Lalu masuk ke dalam kamar, kerjakan tugas sekolahmu." Titah Alex.


"Tapi Dad."


"Mora.." Bentak Alex, membuat Mora menundukkan kepalanya.


"Mora, makanlah." Ucap Molki sambil mengusap pucuk kepala sang adik. Molki tahu, jika sang adik kali ini terlihat sangat gelisah.


Beberapa saat kemudian. Saat setelah makan malam, Mora langsung masuk ke dalam kamae Molki. Mengikuti Molki dari arah belakang.


"Mora, kau tidak ingat perkataan daddy?" tanya Molki.


"Kak. Apa kau lupa dengan tante Kartika?" Tanya Mora, yang kecewa melihat sang kakak, yang seperti melupakan Kartika di rumah ini.


"Tidak."


"Tapi kenapa kakak, tidak mencarinya saat makan malam. Tante Kartika dimana? Apa sudah makan, atau tidak? kakak tahu kan kalau tante Kartika itu hanya seorang diri, tanpa keluarga." Ucap Mora dengan sangat mencemaskan Kartika, yang saat ini entah berada di mana.


Molki tersenyum melihat sang adik.


"Sudah kerjakan tugas sekolahmu?" tanya Molki sambil berjongkok di hadapan Mora. Karena saat ini Mora sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Sudah." Jawab Mora sambil menganggukkan kepalanya.


"Anak pintar." Ucap Molki.


"Sekarang pergilah ke kamar mu. Tidurlah, karena besok kita akan bersekolah."


"Kak.." Panggil Mora yang semakin jengkel dengan sang kakak yang benar-benar tidak peduli dengan kecemasannya mengenai Kartika.


"Percaya pada kakak. Tante Kartika baik-baik saja. Dia wanita yang baik, cerdas dan juga pemberani. Jadi jangan mengkhawatirkannya. Sekarang pergilah ke kamar mu."


"Baiklah." Ucap Mora dengan lesu. Sambil berjalan dengan kepala yang mendunduk, dengan bibir yang manyunkan beberapa senti ke depan.


••••••


Alex menautkan alisnya, saat masuk ke dalam kamar dan melihat Kartikan yang kini sudah duduk di sofa sambil membaca majala.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Alex


Kartika lalu meletakkan majalahnya di meja.


"Kau lupa jika kamar ini juga kamarku?" tanya Kartika.


"Kau!" Alex maju mendekati Kartika, namun ponselnya berdering. Membuat Alex memutsukan niatnya untuk menarik Kartika agar tidak duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya.


"Jangan usir Kartika dari dalam kamarmu. Ingat! Dia istrimu, bukan pembantu di rumah itu." Ucapan Ayuning saat sambungan terhubung.


Yang menghubungi Alex adalah sang ibunda. Dan yang membuat Alex kaget, kenapa sang ibu tahu, jika Alex berniat untuk mengeluarkan Kartika dari dalam kamarnya.


Alex menatap tajam pada Kartika, karena menurut Alex, Kartika telah berhasil mencuri hati dan berhasil mencuci pikiran sang ibu.


"Katakan, apa kau melapor pada ibuku?" Tanya Alex sambil melangkah secara perlahan ke arah Kartika.


"Melapor apa?" Tanya Kartika karena tidak tahu maksud pembicaraan Alex.


"Tunggu, apa tadi ibu mertuaku yang menelponmu?" Tebak Kartika.


"Kau!" Alex manarik lengan Kartika dengan sekuat tenangannya dan membuat Kartika berdiri dari duduknya.


"Lepaskan." Ucap Kartika karena merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk ke dalam kamar ini?"


"Kau lupa jika aku ini siapa?"


"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan juga? Kau!"


"Aku istrimu. Terus kau mau apa?"


Alex menyentakkan tangannya sangat keras saat melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Kartika, membuat Kartika merasakan nyeri.


"Kau kasar sekali. Aku ini wanita bukan pria. Kenapa kau kasar padaku?"


"Katakan apa tujuanmu." Ucap Alex sambil berdiri tepat di hadapan Kartika dengan menatap Kartika dengan tatapan mencemoh.


"Aku tidak ingin apa-apa." Jawab Kartika.


"Kau bilang kan jika kau adalah istriku?" tanya Alex dengan pikiran yang siap untuk menakut-nakuti Kartika.


"Ya, aku istrimu. Jadi jangan kasar kepadaku."


"Baiklah, layani aku dan puaskan aku malam ini." Kata Alex, sehingga membuat Kartika menelan salivanya secara kasar.


Kartika tidak pernah menyangkah jika hal ini akan terjadi pada dirinya.


"Tunggu." Ucap Kartika sambil berjalan mundur.


"Tidak." Ucap Alex berjalan semakin mendekati Kartika.


"Alex.." Teriak Kartika.


"Jika kau memang istriku, maka layani aku."


"Tunggu, Alex. Tidak, jangan." Ucap Kartika dengan kedua tangan yang menyilang di depan da*danya.


"Dad..." Teriak Mora saat membuka pintu kamar Alex.


"Selamat." Batin Kartika lalu berlari mendekati Mora.


"Ayo Mora, tante antar ke kamar."