Alexander

Alexander
Bab 25



"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat data tentang wanita itu?" Tanya Alex yang saat kini sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf tuan, tapi..." Ucapan Aris terpotong kala Alex langsung menggebrak meja.


Brannngggkkkkk....


"Bagaimana bisa? Pekerjaan sekecil ini saja kau tidak becus Aris!" Kata Alex dengan nada yang sangat keras, sehingga menggema mengisi seisi ruangan kerja miliknya.


Aris menunduk, ia hafal betul dengan pria yang saat ini sedang ada di hadapannya. Pria yang saat ini sedang marah karena tugas yang ia berikan tidak dapat di selesaikannya dengan baik.


"Maaf tuan. Tapi memang tidak ada data terkait tentang nyonya Kartika."


Branggggkkkk. Kali ini Alex kembali menggebrak meja.


"Ingat! Dia bukan nyonya, tapi wanita gi*la yang ingin sekali mengambil posisi istriku. Jadi jangan sebut wanita itu sebagai nyonya di hadapanku."


"Baik tuan." Ucap Aris dengan kepala yang menunduk.


"Jelaskan! Kenapa seroang Aris tidak bisa mengerjakan tugas sekecil ini?"


"Maaf tuan. Selama dua hari ini, saya sudah berusaha, tapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada data tentang satupun keluarga Kartika."


"Siapa dia sebenarnya?" Gumam Alex sembari duduk sambil memijat keningnya yang mendadak pusing memikirkan siapa Kartika, wanita yang berani menjebaknya untuk menikah dengannya.


"Saya hanya dapat informasi tentang sahabat Kartika yang bernama Juli."


"Dimana dia? Berikan alamatnya padaku"


"Baik tuan." Ucap Aris.


Alex menganggkat tanganya memberikam kode pada Aris agar keluar dari ruangan kerjanya.


"Tunggu" ucap Alex saat Aris hendak berjalan keluar.


"Berikan apa pun pada teman wanita itu, dan gali informasi padanya."


"Baik tuan."


"Jangan kecewakan aku Aris. Aku tunggu kabar baik darimu."


"Baik tuan."


"Lihat saja. Aku akan membongkar kebusukanmu." Kata Alex dengan sudut ujung bibir yang menyuntai naik ke atas, membuat seutas senyum tipis yang sangat sulit untuk di lihat..


••••••


"Bagaimana kabarmu Sahara? Kau baik-baik saja kan di atas saja. Yah' kau pasti baik-baik saja. Tapi aku? Huffff, kau pasti tertawa melihat ku dari atas. Kau tahu Sahara, aku pusing, harus menghadapi pria dingin itu. Dia sangat menjunjung tinggi egonya. Aku sepertinya akan lelah dengannya." Ucap Kartika saat sedang duduk di samping pusaran Sahara.


"Kau meninggalkan banyak beban untukku Sahara.. Sekarang kau sudah tidur dalam damai. Lalu aku? Tiap hari harus beperang dengan perasaanku. Entah aku harus maju, atau mundur di tengah jalan. Aku pusing Sahara. Tapi untungnya, kau memiliki malaikat yang bisa membuatku kuat. Molki dan Mora. Ya, mereka berdua menjadi sumber kekuatanku."


"Aku janji akan menjaga Molki dan Mora dengan baik. Tapi aku tidak bisa janji padamu, jika aku akan bertahan sampai akhir." Gumam Kartika.


Lalu beberapa saat kemudian ponsel Kartika berdering. Ponsel yang hanya Kartika hidupkan kala dirinya hanya sendiri.


"Ada apa?" Tanya Kartika saat panggilan sudah terhubung.


"Tuan Alex mencari tahu semua data tentang anda nyonya, dan saat ini asistennya yang bernama Aris sedang menuju kosan teman anda, Juli."


"Apa dia tahu siapa aku? Dan aku dari mana?"


"Tidak nyonya. Semua data tentang anda aman. Hanya tinggal nona Juli saja."


"Biarkah lah. Juli temanku yang baik, dia tidak tahu apa apa tentangku."


"Baik nyonya."


"Ingat, terus awasi anak-anakku dari kejahuan. Jika ada yang berani membully mereka, maka jangan segan-segan berikan mereka pelajaran."


"Baik nyonya."


Kartika memutuskan sambungannya. Lalu tersenyum dan berkata


"Kau lihat Sahara, pria dingin itu sedang berusaha mencari tahu siapa aku." Kartika menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Dia mengira aku wanita matre. Padahal tidak semua wanita itu sama. Ahhh, sudahlah aku harus pulang. Ingat jangan tertawa melihat ku dari atas. Tapi masuklah dalam mimpi pria dingin itu dan cekik lehernya." Ucap Kartika sambil tertawa.