
Bagaikan di beri kabar segar. Aris langsung menelpon Alex meminta untuk segera bertemu. Dan saat mereka bertemu di sebuah cafe. Aris langsung menceritakan semuanya. Tentang Rafqi sang asisten ceo perusahaan KJ group sudah memberikan kabar akan kembali bekerja sama dalam waktu satu bulan mendatang. Alex benar-benar merasa bahagia. Dia hanya perlu bertahan hingga sebulan lamanya dan bisa kembali seperti dulu lagi. Setelah mendapatkan kabar baik, Alex langsung pulang dengan wajah yang berseri. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kartika yang saat ini sedang menunggu di rumah.
"Alex." Bisik Juli.
Dan seperti tidak menghiraukan kehadiran Juli, Alex langsung memeluk tubuh Kartika. Juli yang berada di sana langsung membulatkan mata. Nasib seorang jomblo harus bisa menelan pahit keharmonisan pasangan.
"Ada apa? Lepaskan ada Juli di sini." Kata Kartika, Alex langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum malu di hadapan Juli.
"Tidak apa. Anggap saja aku tidak ada." Ucap Juli dengan tersenyum dan seperti katanya, yang di anggap tidak ada. Alex kembali memeluk tubuh Kartika, hingga membuat Juli salah tingkah sendiri.
"Aku dan Aris mendapat kabar dari Rafqi. Tetaplah sabar menemaniku." Ucap Alex lalu melerai pelukannya.
Kartika hanya bisa tersenyum mendengar kabar dari Alex.
"Oh yah, maaf sudah mengganggu waktu kalian. Aku masuk dulu." Alex memutuskan masuk ke dalam meninggalkan Kartika dan juga Juli.
Juli langsung menarik lengan Kartika membawa Kartika hingga ke teras rumah. Lalu Juli melirik masuk ke dalam rumah memastikan jika Alex tidak berada di dekat mereka.
"Kau kan yang sudah memerintahkan asisten mu untuk kembali membantu mereka." Kartika menganggukkan kepalanya mendengar pertayaan Juli.
"Tik. Gue takut kalau Alex tahu dia pasti akan marah. Gue takut hubungan yang mulai membaik kembali rekat karena kebohongan."
"Kau takut, aku pun lebih takut." Kartika menjawab dengan sangat santai, lalu Juli menepuk lengan Kartika
"Yang aku tahu, tidak ada dalam sejarah yang namanya Kartika takut.."
••••
"Iya bu."
"Terima kasih Kartika sudah mau mencintai anakku tanpa syarat." Kata Ayuning sambil mengusap rambut Kartika. Ayuning sudah menganggap Kartika sebagai anak perempuannya. Terlebih lagi karena kakek Kartika bersahabat dengan Ayuning.
"Aku yang berterima kasih karena ibu telah merestui ku. Bu, jika besok-besok terjadi sesuatu antara aku dan Alex. Tolong tetap anggap aku sebagai putrimu. Jangan membenciku bu."
"Tentu, tanpa ada hubungan kau sudah ibu anggap putri ibu sendiri."
"Bu,.." Lirih Kartika.
"Jangan di pendam, katakan saja. Ibu siap mendengar semuanya."
•••••
Kali ini Kartika berkunjung ke makam Sahara, tapi kali ini berbeda. Biasanya Kartika mengeluarkan seluruh unek-unek yang ada dalam benaknya. Tapi kali ini berbeda jauh. Kartika hanya diam memandang batu nisan yang bertulis nama Sahara, dan tanpa terasa air mata Kartika jatuh. Untuk pertama kalinya Kartika sudah bisa merelakan apa yang telah lama ia perjuangkan.
"Kau di sini rupanya." Kata Alex yang tiba-tiba saja duduk tepat di samping Kartika. "Aku dari rumah ibu, dan ibu bilang kau berkunjung di sini." Kartika hanya diam memantung. "Sudah sore, lebih baik kita pulang, Molki dan Mora sudah menunggu di rumah."
Kartika menoleh ke arah Alex.
"Maaf." Lirih Kartika