
Kartika yang baru saja pulang, langsung bergegas membersihkan dirinya, dan segerah menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Dan sama seperti biasanya, bi Ratih selalu saja di buat takjub dengan Kartika karena kelihaiannya dalam mengerjakan apapun. Apapun yang di masak oleh Kartika, pasti rasanya selalu saja enak. Entah terbuat dari apa tangan Kartika, yang jelas Ratih selalu mengagumi sosok Kartika yang sudah beberapa bulan ini menjadi majikannya.
Tapi, meskipun Kartika menjadi majikan, Kartika selalu saja baik, dan menganggap Ratih seperti keluarga sendiri. Dan itu membuat Ratih lagi lagi takjub dengan Kartika, sudah memiliki paras yang cantik, pintar, rajin masak dan juga memiliki suami yang kaya raya. Hanya saja Ratih merasa sedikit kasihan kepada Kartika, karena walau seberapa berusahanya Kartika berbuat baik selalu saja di tidak di anggap oleh Alex. Segala sesuatu yang di buat oleh Kartika tidak pernah sama sekali mendapatkan pujian dari Alex.
Andai saja! Andai saja Alex mau sedikit membuka hati pada Kartika, mungkin Kartika adalah wanita yang paling sempura yang pernah bi Ratih kenal.
"Nyonya hari ini mau masak apa?" tanya Ratih sambil memberikan bawang bombai kepada Kartika.
"Aku akan masak ayam neraka." Kata Kartika sambil tersenyum.
"Ha? Neraka?" heran Ratih dengan omongan majikannya yang selalu membuatnya keheranan.
"Ya, neraka."
"Nyonya. Apa saya tidak salah dengar? Apa nyonya serius?" Tanya Ratih.
"Hahahaha." Kartika tertawa melihat ekspresi Ratih yang sudah kebingungan dengan judul masakannya.
"Aku bilang ini ayam neraka karena masakan ini akan pedas. Kau tahu sendiri kan kalau tuanmu itu suka makanan yang pedas."
"Oh iya nyonya."
"Nah itu dia. Tapi aku bakalan bikin dua jenis, satu yang pedas dan satu yang tidak. Karena Mora dan Molki tidak suka dengan pedas."
Ratih tersenyum mendengar penjelasan Kartika.
Biasanya, majikan selalu saja memerintahkan semuanya pada asisten rumah tangga. Namun, Kartika, tidak seperti itu. Segala sesuatu tentang Alex, Molki dan Mora selalu saja Kartika yang mengurusnya, dan tidak membiarkan siapapun yang mengurus. Itulah lagi'-lagi Ratih sangat takjub.
"Bunda...." Teriak Mora sambil berlari ke arah dapur, dimana Kartika masih sibuk memasang.
"Bunda, aku punya tugas sekolah, tapi aku ngak ngerti bunda. Tolong di bantuin." Kata Mora sambil memeluk tubuh Kartika dari belakang.
"Baiklah." Kartika langsung melepas celemek apronnya.
"Bi Ratih, ayamnya sudah aku masak. Kalau mendidih tolong dimatikan yah. Aku mau bantuin Mora dulu."
"Siap nyonya." Kata Ratih.
•••••
Di perusahaan Alex terus menatap layar ponselnya. Ia terus menatap wajah Kartika, dan mengingat apakah sebelumnya pernah bertemu Kartika sebelum kejadian dimana mereka tidur bersama. Namun, sejauh Alex berfikir, Alex tidak mengingat apapun.
"Siapa kau sebenarnya?" Gumam Alex.
"Tuan." Sapa Aris yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alex.
"Nona Kartika sudah berada di rumah. Dan menurut laporan, kalau saat ini nona Kartika sedang berada di dalam kamar Mora."
"Baiklah."
"Apa kita pulang sekarang tuan?" tanya Aris.
"Tidak."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Ucap Aris dan keluar dari ruangan Alex.
"Kali ini, aku akan memberikan mu pelajaran, agar kau sadar tempat mu bukan dengan ku." Batin Alex sambil menatap tajam pada foto Kartika.