
Kartika yang sudah selesai mengantar Molki dan Mora ke sekolah, memutuskan untuk singgah ke rumah kos Juli. Dan saat Kartika masuk ke dalam kos, Juli langsung menarik lengan Kartika.
"Kar, kamu udah tahu berita baru?" Tanya Juli.
"Berita apa?" Tanya ulang Kartika sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Juli.
"Tentang perusahaan suami dingin mu. Katanya, perusahaan itu sebentar lagi akag gulung tikar." Jelas Juli, tapi Kartika hanya diam saja. Toh tanpa Juli cerita, Kartika sudah tahu semuanya tentang apa yang terjadi.
"Kar, aku ngak enak nih. Apa semua barang yang kamu kasih ke aku, aku kembalikan saja yah. Lumaya Kar, jika di jual kembali." Ucap Juli, dan Kartika masih diam. Juli langsung menatap sahabatnya dengan tatapan senduh.
"Aku tahu kamu pasti lagi mikirin Alex kan? Kamu harus kuat yah."
Kartika lalu tersenyum dan bangun dari duduknya.
"Kenapa harus di kembalikan? Kalau kamu mau, aku bisa beli yang lebih banyak lagi." Ucap Kartika membuat Juli menjitak kepala Kartika.
"Auhhh, sakit Jul."
"Kamu sih, suami di ambang kebangkrutan kamu justru mau belanja. Kamu simpan di mana sih otakmu? Harusnya sekarang kamu itu pikir, gimana biar suami dinginmu tidak bangkrut."
Kartika tidak menjawab ucapan Juli, karena ponselnya berdering. Dengan cepat Kartika menjawab panggilan. Dan sang asisten yang menelpon memberitahukan kabar jika Alex dan juga asistenya terus menelpon tapi tidak di jawab dan saat ini mereka sedang berada di depan perusahaan menunggu kehadiran pemilik perusahaan.
"Temui saja mereka, tapi ingat jangan beritahu mereka siapa pemilik perusahaan. Dan satu lagi, ingat apa yang telah ku perintahkan tadi malam."
"Baik nyonya."
Dan tanpa sadar ternyata Juli sudah sejak tadi berdiri tepat di belakang Kartika dan mendengar semua perbincangan Kartika dengan seorang laki-laki melalui sambungan telepon. Saat Kartika membalikkan tubuhnya, betapa kagetnya Kartika saat Juli sudah berada di hadapannya dan menatapnya penuh dengan selidik.
Kartika tertawa lalu berjalan menuju kursi.
"Hahahah, aku Kartika sahabatmu."
Juli terus mengikuti Kartika dan duduk tepat di samping Kartika.
"Kau pikir aku tuli, ha?? Aku dengar semuanya jadi katakan semuanya padaku. Sebelum aku memberhentikan mu menjadi sahabatku."
"Emang aku kerja? Pakai di berhentikan segala. Kamu ini."
"Aku serius Tik. Aku ini sahabatmu, dan tolong katakan yang sebenarnya siapa kamu, dan kenapa ada sekretaris suamimu yang mau menawarkan aku uang untuk mengatakan siapa kamu."
"Jul, aku bisa jelasin."
"Jelasin semuanya, aku tidak ingin ada yang terlewatkan sedikitpun."
Lalu Kartika mulai menceritakan semuanya tentang siapa dirinya sebenarnya, Kartika seorang yatim piatu yang memiliki kakek yang mempunyai banyak sekali aset kekayaan dam dari sini lah Kartima mendapatkan semua kekayaan yang ia miliki saat ini. Dan untuk menjaga keselamatannya selama ini Kartika menjaga identitasnya, dan berteman dengan Juli dan juga Sahara.
"Tunggu, jadi pas kau hilang saat itu sebenarnya kamu ngak hilang beneran kan?" Tanya Juli, karena saar Kartika pergi, di situlah Sahara mengambil kesempatan dan menikah dengan Alex.
"Itu karena aku harus belajar tentang menjalankan perusahaan kakekku. Dan saat semuanya sudah aku kuasai, aku kembali dan menelan pil pahit tentang pernikahan Sahara."
Kini Juli sudah tahu tentang Kartika, dan Juli juga bisa tebak ternyata uang yang Kartika gunakan adalah uang pribadi bukan uang milik Alex. Dan pantas saja, selama ini setiap Juli memiliki masalah, Kartika selalu ada dan selalu memberikan bantuan pada Juli. Hanya saja Juli tidak pernah curiga tentang itu.
Lalu Kartika kembali menceritakan tentang pernyataan cintanya yang di tolak mentah-mentah dengan selembaran kertas perceraian.