Alexander

Alexander
Bab 18



"Jangan grogi Tik. Ingat dia hanya pria masa lalumu." Batin Kartika menyemangati diri sendiri.


"Tunggu. Aku keluar dari dalam kamar. Lalu aku mau tidur dimana?" Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ponselku." Gumam Kartika karena ponselnya tertinggal di dalam kamar.


"Ah tidak masalah, toh kulkas juga tidak tahu pinnya."


Lalu Kartika melangkah kan kakinya menuju kamar Mora.. Saat sudah sampai Kartika lalu membuka pintu dengan sangat hati-hati. Kartika dapat melihat kini Mora sudah tertidur dengan sangat pulas di atas tempat tidur. Lalu Kartika mendekati Mora dan duduk tepat di tepi tempat tidur.


"Anak baik. Tidur yang nyenyak yah." Ucap Kartika sambil mengusap wajah Mora secara lembut, penuh dengan cinta.


Entah kenapa bagi Kartika, Mora adalah putri nya. Padahal jelas sekali Mora bukanlah darah dagingnya, tapi Kartika tidak mempermasalahkan itu.


Kartika lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Mora. Dan setelah itu Kartika keluar dan berjalan menuju kamar Molki. Namun baru beberapa langkah Kartika berjalan, ia kaget karena melihat Molki yang membuka pintu kamarnya.


"Molki kau tidak tidur?" Tanya Kartika.


"Tidak." Jawab Molki lalu berjalan menuju dapur.


"Kenapa? Apa kau lapar?" Tebak Kartika.


"Ya, aku lapar."


"Biar tante yang buatkan." Ucap Kartika dan langsung bergegas membuatkan makanan untuk Molki.


Setelah beberapa saat kemudian, kini Molki sudah menyantap makanan yang di hidangkan oleh Kartika. Molki melahap makanan tersebut tanpa banyak kata. Kartika terus menatap Molki dengan tatapan hangat. Ia tidak percaya bahwa semeyenangkan ini bisa menjadi seorang ibu. Bukan menjadi seorang istri. Karena pada dasarnya Kartika belum merasa bahagia menjadi seorang istri dari Alexander, pria kulkas yang di juluki oleh Kartika.


"Enak?" Tanya Kartika dan Molki menanggukkan kepalanya.


"Kalau begitu habiskan lah, setelah ini kau pergi tidur, karena besok harus sekolah."


"Tapi aku masih di hukum."


"Tenang saja. Selama ada aku, semua hukuman aman." Ucap Kartika membuat Molki tersenyum


••••


Pagi harinya, Kartika sudah sibuk mengurus segala sesuatu di dapur. Kali ini, dia yang langsung terjun tangan untuk membuat sarapan bagi keluarga kecilnya.


"Nyonya biar saya bantu." Ucap Ratih yang sejak tadi berada di dekat Kartika.


"Tidak usah bi. Biar aku saja." Kata Kartika lalu mencicipi masakannya. Lalu kemudian Kartika pun memberika satu suapan untuk Ratih.


"Bagaimana rasanya bi?" Tanya Kartika


Bi Ratih membulatkan matanya saat mencoba masakan yang di suapkan ke dalam mulutnya oleh Kartika.


"Tidak enak yah." Lesu Kartika. "Kurang apa bi, biar aku tambahkan lagi bumbunya."


"Nyonya.. Ini sangat sempurna, masakan nyonya the best.." Kata Ratih sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Serius?"


"Ya nyonya. Pokoknya the best."


"Oke, baiklah. Kalau begitu tolong sajikan bi. Aku ingin ke kamar Mora dulu." Kata Kartika, dan langsung berjalan menuju kamar Mora.


"Semoga nyonya bisa membawa kehangatan di rumah ini." Gumam Ratih.


••••


"Sudah tante. Tinggal rambutku saja yang belum ku sisir."


"Sini, biar tante yang urus." Kata Kartika dan langsung mengambil sisir dan menyisir rambut Mora.


"Semalam tante menyiapkan buku pelajaran di dalam tasmu. Mora sayang, mulai sekarang jika ingin tidur kau harus wajib memasukkan buku pelajaran agar setiap pagi kau tidak repot mengurusnya."


"Kan ada bi Ratih yang mengurusnya."


"No sayang. Mulai sekarang Mora harus belajar mandiri. Bukankah Mora anak yang baik? Anak baik tidak harus merepotkan orang lain. Selagi masih bisa untuk di tangani. Mengerti?" Kata Kartika sambil menyisir rambut Mora.


"Iya tante."


"Anak yang pintar." Ucap Kartika, merasa bahagia karena Mora mau mendengar ucapanya.


"Sudah selesai. Sekarang pakai ini." Kartika langsung mengambilkan parfum dan di berikan kepada Mora.


"Terima kasih tente."


Mora langsung memeluk tubuh Kartika. Baru pertama kali Mora bahagia sepagi ini, karena ada yang mengurusnya dan memperhatikan dirinya secara langsung.


"Jadilah anak yang baik, yah sayang." Ucap Kartika dengan lembut. Sambil mengusap pundak belakang Mora.


Setelah Mora sudah rapi, kini Kartika menuju kamar Molki. Kartika tidak terlalu repot, karena Molki anak laki-laki yang sangat disiplin. Buku pelajaran untuk hari ini, Molki sudah masukkan ke dalam tas. Jadi Kartika tidak lagi mengurus hal itu.


"Sudah rapi?" Tanya Kartika saat membuka pintu.


"Sudah."


"Kalau begitu, sekarang pergilah ke meja makan. Mora sudah menunggumu." Kartika mengusap pucuk kepala Molki lalu keluar dari dalam kamar, dan berjalan menuju kamar Alex.


"Sisa kulkas lagi." Gumam Kartika, sambil berdiri di depan pintu kamar, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Ingat! Jangan berdetak sangat kencang jika berada di depannya." Batin Kartika sambil memegang da*da nya.


Kartika lalu membuka hendel pintu secara perlahan, dan memasukkan sedikit kepalanya mengintip ke dalam kamar.


"Sudah bangun rupanya." Kata Kartika saat melihat tempat tidur sudah kosong. Kartika langsung masuk kedalam.


Dan berjalan menuju lemari, mengambilkan setelan kerja untuk Alex. Setelah itu Kartika merapikan tempat tidur, dan saat Kartika merapikan tempat tidur, tiba-tiba Alex keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang terlilit sampai batas pinggangnya.


"Astaga. Kau mengagetkan ku." Kata Kartika sambil menutup matanya. Karena tidak ingin melihat tubuh Alex.


Kartika takut jika keimanannya goyah karena terpesona oleh tubuh indah Alex.


Tanpa banyak bicara Alex berjalan menuju Kartika. Kartika yang mengintip lewat sela jarinya, dapat melihat dengan jelas Alex berjalan mendekat. Spontan Kartika berjalan mundur dan membuatnya jatuh ke atas tempat tidur.


"Jangan. Jangan pernah berani menyentuhku." Ucap Kartika dengan tegas.


Alex langsung mengambil handuk kecil yang berada di sudut tempat tidur.


"Bahkan jika kau membayarku, aku pun tidak akan sudih menyentuh tubuhmu." Ucap Alex dengan nada yang sini.


Kartika langsung bangun dan berdiri.


"Terserah apa katamu. Aku sudah menyiapkan setelan kerjamu. Molki dan Mora sudah menunggumu di bawah"


Kartika menyentakkan kakinya dan berjalan keluar dari kamar Alex.


"Dia pikir dia siapa? Enak saja berbicara seperti itu. Dasar pria kulkas." Rutuk Kartika