
Kartika menatap haru pada Molki yang saat ini duduk di hadapannya dan membersihkan luka di sudut bibirnya, luka akibat tamparan yang di berikan oleh Alex, pria yang dingin dan tidak pernah mengnggapnya sama sekali.
"Bunda, tolong maafkan daddy." Kata Molki sambil terus mengolesi salep di luka Kartika.
"Jangan dengarkan perkataan daddy, tolong bunda jangan pergi. Jangan tinggalkan aku dan Mora, kalau tidak ada bunda, siapa lagi yang akan menjaga kami. Sudah cukup aku dan Mora kehilangan ibu kandung, aku tidak ingin bunda pergi." Kata Molki membuat Kartika menitihkan air matanya.
Sungguh sangat dewasa anak ini, anak yang masih duduk di bangku SMP sudah bisa berkata dengan sangat dewasa. Dari mana didikan yang ia dapat? Apakah dari Sahara? Kartika sungguh terharu akan ucapan dari Molki yang sangat membutuhkan dirinya. Tapi, apakah dirinya dirinya bisa bertahan di rumah yang ada satu orang tidak membutuhkannya.
Haruskan Kartika memberikan harapan pada Molki dan juga Mora? Tanpa perduli dengan dirinya sama sekali.
"Bunda, untuk malam ini tidurlah di kamarku. Biar aku tidur di kamar tamu saja." Kata Molki sambil beridiri dan menyimpan kotak p3k di atas mejanya.
"Molki." Panggil Kartika setelah cukup lama terdiam.
"Apa kau sungguh menyayangi bunda?" Tanya Kartika membuat Molki menghentikan langkahnya,
"Tentu bunda." Jawab Molki, "Aku ingin bunda beristirahat." Ucap Molki lalu keluar dari dalam kamarnya dan menutup pintu, membiarkan Kartika untuk beristirahat di dalam kamar pribadinya.
Kartika risau, apa yang harus ia lakukan kedepannya, agar kedua anak sambungnya ini bisa mengerti dengan keadaannya. Ya, walaupun Kartika mencintai Alex, tapi tidak mungkin bagi Kartikan untuk bisa bertahan jika dirinya sama sekali tidak di anggap.
"Aku harus bagaimana?" Gumam Kartika.
•••••
Alex mengatur nafasnya, mengatur emosi. Tidak menyangkah jika datangnya Kartika ke rumah ini, mampu membuat Molki sang anak lebih memilih Kartika di banding dirinya.
"Daddy." Panggil Molki saat membuka pintu ruangan kerja Alex. Alex menoleh mendengar Molki memanggil dirinya.
"Apapun yang terjadi jangan pernah lukai bunda."
"Jika daddy mengusir bunda, maka Molki pun juga akan pergi bersama dengan bunda." Ancam Molki.
"Hahahahhahah" Alex tertawa mendengar ancaman sang anak. Anak yang telah ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kini telah berani mengamcam dirinya dan lebih memilih pergi dengan wanita yang baru saja masuk di dalam kehidupannya.
"Molki!" Bentak Alex yang tidak menyangkah dengan apa yang barusan saja ia dengar.
"Kau tahu siapa wanita itu? Kau tahu?" Tanya Alex sambil berjalan mendekati Molki.
"Ya, aku tahu dad. Dia bunda, dia sangat mencintaimu dan dia cinta pertamamu." Kata Molki, dan kini Alex tertawa semakin kencang.
Sungguh sangat lihat seorang yang bernama Kartika memainkan perannya, membacakan dongeng cerita yang sungguh luar biasa, dan! Begitu sangat polosnya ketidak kedua anaknya percaya dengan apa yang Kartika dongengkan padanya.
"Dan kau percaya? Kau percaya orang yang baru kau kenal dari pada daddy?"
Kali ini Molki terdiam.
"Ingat Molki, ketika seseorang ingin mengambil apa yang ada di dalam dirimu, maka orang itu pun akan melakukan hal apapun agar bisa mendapatkannya, dan orang itu akan menghalalkan segala cara agar dia bisa menemukan apa yang ada pada dirimu. Kau mengerti?" Jelas Alex.
"Molki hanya tahu, jika bunda tulus, bunda baik dan bunda sayang kepada daddy, Molki dan juga Mora."
Alex lalu duduk di sofa sambil menyilang kedua kakinya.
"Hanya ibumu yang bisa memberikan kasih sayang yang tulus, selain almarhum ibumu tidak ada lagi wanita yang bisa tulus menyayangimu."
Kali ini Alex memberikan masukan pada Molki bahwa sebenarnya hanya orang tua kandung mu yang tulus menyayangimu, tidak ada orang lain yang bisa setulus itu, dan apalagi yang di namakan dengan ibu sambung? Tidak! Alex yakin tidak ada ketulusan sama sekali.
"Bukalah hati daddy, lihatlah bunda." Ucap Molki lalu keluar dari ruang kerja Alex.