
Saat Mora sudah bangun, ia langsung di kejutkan dengan berbagai peper bag yang kini berada di dalam kamarnya. Bukannya bahagia, Mora justru semakin sedih karena setiap kali ada masalah dengan daddy nya, pasti jalan keluarga selalu saja seperti ini. Alex memberikan apapun pada sang anak agar mereka mau memaafkan daddnya.
"Nona, sekarang mandilah aku akan...." Ucapan Ratih terpotong kala Mora langsung kembali berbaring.
"Tidak bi, tidak usah." Ucap Mora yang sudah tahu arah tujuan Ratih.
Ya, tiap Mora marah. Maka Ratih akan di tugaskan membawa Mora untuk jalan-jalan. Hal yang dulunya Mora sangat sukai, namun kini Mora sadar, bahwa bukan hal itu yang ia sukai. Mora lebih suka jika bersama keluarga itulah sebenarnya kebahagiaan yang tidak ternilai sama sekali.
"Tapi nona, ini perintah dari tuan." Kata Ratih dengan sangat hati-hati.
"Kembalikan semua barang ini ke kamad Daddy." Pinta Mora lalu bangun dari tidurnya, dan berjalan menuju meja belajarnya dan duduk di kursi.
"Tapi nona."
"Bereskan semuanya Bi, aku ingin belajar." Kata Mora.
Lalu Ratih mengambil peperbag tersebut.
"Bi, apa daddy ada?" tanya Mora.
"Tuan sudah pergi, tadi pak Aris datang menjemput." Jelas bibi, lalu keluar dari kamar Mora.
"Selalu saja." Gumam Mora.
Selalu saja Alex seperti itu. Tidak pernah peka terhadap apa yang anak-anaknya inginkan. Alex hanya memaksakan kehendaknya pada sang anak, dan tidak ingin tahu apa yang anaknya mau.
Mora berjalan menuju kamar Molki dan saat sampai di depan pintu, Mora langsung duduk dan bersandar di pintu kamar Molki.
"Kak Molki, kau sedang apa?"
"Kak Molki kau dengan aku?" Tanya Mora.
"Kak. Aku rindu ibu," Kata Mora lalu mengusap air matanya.
Molki yang memang sudah mendengar Mora sejak tadi, langsung duduk di lantai dan bersandar di pintu kamar. Kini kedua posisi mereka sama sama bersandar dengan pintu yang menjadi penghalang mereka.
"Kak, sebentar lagi daddy akan menikah. Bagaimana kita nantinya kak?" Tanya Mora yang sangat mengkhawatirnya dirinya dan juga sang kakak ke depannya.
Karena Mora sering menonton jika ibu tiri itu jahat. Dan hanya mencintai uang dan pasangan, namun tidak memberikan kasih sayang kepada anak. Itulah kenapa Mora sangat takut jika Alex kembali menikah. Karena walau Alex tidak menikah, Alex pun jarang memberikan mereka perhatian. Kalaupun ada, perhatian Alex hanya berupa uang dan uang saja.
"Mora hapus air matamu." Kata Molki yang sejak tadi diam, kini membuka suara. "Kau tahu Mora? wajahmu sangat jelek jika menangis, jadi hapus air matamu."
"Kak.."
"Jangan menagis, itu bisa membuat ibu kita bersedih. Jadi bahagialah dengan caramu sendiri. Nikmati saja apa yang daddy berikan."
"Tapi kak."
"Aku janji padamu. Sebagai kakak, aku akan selalu menjagamu."
••••••
Alex melangkah dengan sangat cepat, masuk ke dalam rumah Ayuning.
"Dimana wanita itu." Tanya Alex saat masuk ke dalam rumah.
"Tuan." Sapa asisten rumah tangga.
Alex tidak menjawab, ia langsung berjalan kala mendengar suara tawa yang berasal dari taman belakang rumah Ayuning.
"Karika." Teriak Alex dengan sangat keras dan dengan raut wajah yang sangat marah, tatapan mata tajam, dan seakan siap untuk menerjang Kartika.
Kartika dan Ayuing langsung sama-sama terdiam saat mendengar Alex berteriak menyebut nama Kartika.
Alex semakin mendekat, lalu..
Plaakkkk.
Alex menampar pipi Kartika dengan sangat keras.