Alexander

Alexander
Bab 38



Alex memandang Kartika dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu kemudian pandangan Alex tertuju pada perut Kartika yang masih sangat datar. Lalu Alex menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis yang tidak dapat di lihat oleh Kartika. Tentu ini hal yang baik bagi Alex dimana dugaannya selama ini benar adanya. Bahwa, Kartika hanya ingin mengambil keuntungan dengan menjadi seorang istri dari Alexander.


Kartika merem*as ujung bajunya karena merasa gugup. Pertama kali dalam hidupnya, Kartika menyatakan sendiri perasaannya pada pria yang memang sejak dulu namanya selalu bertahta di dalam hati Kartika. Padahal banyak sekali pria di luar sana yang pastinya akan rela mengantri jika Kartika membuka indentitas dirinya, namun sejauh ini Kartika masih menutup diri karena masih tetap setia pada cintanya, walau sebenarnya cinta yang telah ia jaga selama ini sudah berhasil membuatnya patah hati yang teramat mendalam.


"Sudah cukup dongengnya?" Kata Alex membuat Kartika menatap penuh tanda tanya pada Alex.


Dongeng apakah yang di maksud. Bukahkan Kartika memang tulus, dan tidak sedang membaca dongeng, lalu kenapa Alex mengatakan dongeng.


Kartika maju melangkah dua langkah lebih dekat dengan Alex.


"Aku serius." Kata Kartika dengan memantapkan dirinya.


Toh, bagi Kartika selagi kita maju, jangan pernah mundur, kecuali sudah ada jalan buntu di depan, maka jangan ragu untuk memutar haluan.


Alex melempar selembaran kertas di atas meja.


"Bacalah, dan aku pun juga serius." Kata Alex sambil tetap menatap tajam pada Kartika.


Jujur, Alex pun di buat bingung oleh Kartika, yang memang seingat Alex, Kartika sangat baik, tapi sampai sekarang Alex juga belum percaya sepenuhnya pada Kartika, apalagi Alex sudah yakin, jika malam itu Kartika lah yang menjebak dirinya agar bisa tidur bersama dan akhirnya meminta pertanggung jawaban untuk di nikahi.


"Kau sudah tinggal di rumah ini, kurang lebih empat bulan lamanya. Dan aku tahu, kejadian malam itu asli rekayasa darimu. Dan juga, sampai sekarang kau tidak hamil. Jadi sudah cukup pertanggung jawabanku." Jelas Alex sambil berdiri dari duduknya.


"Aku sudah menulis nilai konpensasi yang luar biasa, jadi cepat tanda tangan."


Kartika menarik nafas, mengatur udara yang sudah terasa sesak. Jantungnya seakan ingin berhenti berdetak. Kartika tidak menyangkah sama sekali jika Alex benar-benar akan meminta cerai padanya.


"Apa kau benar-benar tidak ingat siapa aku?" Tanya Kartika sambil menatap wajah Alex.


Yah, kali ini Kartika ingin mengatakan semuanya, kepada pria yang begitu sangat ia cintai. Kartika ingin meluruskan semua kesalapahaman yang terjadi di antara keduanya.


"Aku.." Kartika menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.


"Aku key dan kau door. Kau ingat, dulu kau memanggilku key, dan aku sering memanggilmu door. Kau pintuku dan aku kuncimu." Perkataan Kartika mampu membuat Alex seketika kaget, hingga Alex mundur beberapa langkah.


Mungkinkah benar, wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang memang sudah menjadi kunci yang telah membuka pintu hatinya.? Tapi, siapa Sahara? Tidak mungkin, tidak mungkin dia wanita itu. Karena wanita yang sudah menjadi kunci baginya selama ini adalah Sahara ibu dari kedua anaknya.