Alexander

Alexander
Bab 37



Pagi hari.


Molki kini sudah duduk di tepi tempat tidur memperhatikan wajah Kartika yang sudah sedikit membaik.


"Molki..." Kata Kartika saat membuka mata.


"Jangan bergerak bun, biar bunda istirahat saja."


"Hey sayang, bunda hanya luka sedikit itupun di bagian wajah. Kenapa harus istirahat? Siapa yang akan mengurusmu dan juga mengurus Mora? Siapa yang akan membuat bekal untuk kalian? Siapa yang akan menyisir rambut Mora?"


Tanpa menjawab Molki langsung memeluk tubuh Kartika. Kartika yang belum siap langsung kaget.


Molki anak yang kini mau beranjak dewasa, yang di kenal sebagai anak pendiam dan dingin kini sedang menangis di dalam pelukan Kartika. Anak yang biasanya terlihat begitu kuat, ternyata memiliki hati yang begitu rapuh. Dan benar kata orang, casing belum tentu sama dengan isinya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" Ucap Kartika dengan lembut sambil mengusap pundak belakang Molki.


"Berjanjilah bun, berjanjilah akan tetap bertahan."


Kartika melerai pelukannya lalu mengusap air mata di pipi Molki.


Pipi anak lelakinya ini yang begitu cakep kini telah basah karena air mata yang jatuh.


"Hey, bunda ada di sini."


"Berjanjilah."


Kartika lalu tersenyum. Sungguh ia tidak tahu harus melakukan apa, harusnya ia berjanji, padahal jelas sendiri jika mencintai secara sepihak itu sakitnya sungguh luar biasa. Jadi jika tidak pernah di anggap maka pergi adalah jalan keluar, jalan terbaik ealau tetap sakit.. Lalu apa ini? Kenapa di saat seperti ini sang anak justru memintanya untuk berjanji bertahan. Bertahan pada pria yang tidak pernah menganggapnya ada.


"Berjanjilah." Ulang Molki.


"Hari ini aku dan Mora tidak membawa bekal, aku mau mencoba jajan di kantin sekolah. Jadi bunda istirahatlah, biar aku yang menyisir rambut Mora."


Molki berkata seperti itu karena sudah memikirkan matang-matang. Ia tidak ingin memberikan beban pada Kartika. Molki ingin memberikan Kartika kenyamanan agar bisa terus bertahan. Dan semalam Molki begadang hanya untuk menonton tutorial mengikat rambut. Ya, Molki belajar agar bisa mengikat rambut Mora dan mengurangi beban kerja Kartika.


"Tapi sayang..."


"Bunda istirahatlah, aku mau ke kamar Mora dulu."


••••••


Kartika dengan cepat melangkah kan kakinya menuju kamar Alex saat Molki dan Mora sudah berangkat ke sekolah. Dengan nafas yang memburu Kartika berdiri di depan pintu sambil memegang da*danya.


"Aku mencintai mu Alex." Ucap Kartika sambil menutup matanya saat membuka pintu kamar Alex.


Ya, Kartika menuruti perkataan Juli, yang mengatakan jika kau mencintai seseorang maja katakan lah cintamu, jangan di pendam. Dan juga, Kartika sudah memikirkan matang-matang sebelum mengatakan isi hatinya. Ya, Kartika sudah berjanji pada Molki, dan Kartika tidak akan mungkin untuk mengingkari janji yang telah ia buat.


Perlahan Kartika membuka mata, karena tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


"Alex.." Panggil Kartika, sambil berjalan mendekati Alex yang saat ini sedang berdiri di balkon kamar sambil menggenggam ponselnya.


"Alexander." Teriak Kartika membuat Alex menoleh, dan menautkan satu alisnya saat melihat Kartika yang kini berada di hadapannya.


Wanita yang sudah ia berikan tamparan kini berdiri di hadapannya dan menyatakan cinta, namun Alex hanya diam.


"Kau ingin tahu alasannya kenapa aku menikah dengan mu, dan bertahan dengan mu?" Tanya Kartika dan Alex tetap cuek sambil berjalan menuju sofa dan duduk dengan santai.


"Aku mencintai mu Alex."