Alexander

Alexander
Bab 43



Saat semua sudah tertidur dengan sangat lelap, Alex justru masih bertahan dengan membuka mata, tubuh Alex lelah namun pikiranya terus berkelana. Alex memikirkan perusahaan dan juga memikirkan anak-anaknya dan juga, Alex memikirkan Kartika. Selama beberapa bulan berada di rumah ini, tak pernah sedikit pun Alex melihat Kartika memperlakukan buruk anak-anaknya. Mungkin kah apa yang Kartika katakan selama ini benar adanya. Dan mungkinkah saat ini waktu yang tepat baginya untuk membuka hati pada wanita lain?


Alex tidak bisa memejamkan matanya, hingga memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar Mora. Saat Alex masuk, Mora sudah tertidur dengan sangat lelap, Alex langsung duduk di tepi tempat tidur dan mengusap wajah Mora dengan sangat lembut, dan juga mencium kening Mora penuh dengan kasih sayang.


"Maafkan daddy" gumam Alex. Lalu Alex kembali mencium seluruh wajah Mora dan berkata "Sampai kapan pun kau tetap putri kecil daddy."


Alex keluar dari kamar Mora dan berjalan menuju kamar Molki, di kamae Molki sudah tertidur dengan sangat pulas dengan lampu yang masih menyala dengan sangat terangnya. Alex lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Molki.


"Jadilah pria yang memiliki bahu yang kuat, lindungi adikmu." Kata Alex lalu mata Alex tertutu pada meja belajar Molki yang terlihat berantakan. Baru kali ini Alex melihat kamar anaknya seperti itu. Padahal Molki terkenal sangat pembersih dan sangat suka merapikan mejanya.


"Apa dia sangat kecapean sampai lupa merapikan bukunya." Gumam Alex sambil merapikan buku-buku Molki. Hingga mata Alex tertuju pada satu amplop. Yang terlutiskan nama Kartika di depannya. Alex yang begitu penasaran langsung mengambil amplop tersebut.


•••••


Pagi harinya, saat Kartika bangun, Kartika begitu kaget saat menatap dinding kamar yang terlihat begitu sangat berbeda dengan kamar yang selalu ia tempati tidur. Tapi Kartika hafal betul dengan kamar yang saat ini ia tempati tidur. Ya, kamar suami dinginya Alexander. Karna begitu kaget Kartika langsung bangun dan duduk sambil mengucek matanya. Dalam benak Kartika berfikir mungkinkan ia salah lihat, atau masih sedang bermimpi. Hingga Kartika memutuskan untuk mencubit pipinya.


"Bukan mimpi." Ucap Kartika dan langsung turun dari tempat tidur lalu merapikan sebelum pemilik kamar datang dan memarahi dirinya. Dengan buru-buru Kartika langsung keluar dari dalam kamar.


Alex yang baru sudah keluar dari kamar mandi, langsung heran saat melihat tempat tidurnya yang sudah sangat rapi. Alex tersenyum tipis sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Di dapur, Karika terus merutuki kebodohan dan kecerobohannya karena bisa-bisanya dia tidak mengingat kejadian semalam sampai dia harus tidut di kamar Alex.


"Ayolah, ayolah. Berfikir lah lebih keras." Kata Kartika memaksakan dirinya agar bisa mengingat kejadian selama. Namun sejauh ini Kartika hanya bisa mengingat jika dirinya tidur di kamar tamu. Dan setelah itu tidak lagi.


"Nyonya ada apa? Kenapa nyonya terlihat begitu gelisah? Apa tuan marah lagi?" Tanya bi Ratih.


"Tidak bi. Oh yah, tolong bi siapakan semua ini dan jika anak-anak mencariku katakan padanya kalau perutku lagi sakit. Aku ingin istirahat dulu bi." Bohong Kartika karena tidak ingin berhadapan dengan Alex pagi ini. Lalu Kartika langsung masuk ke dalam kamarnya.