
Pagi harinya, saat Mora dan Molki sudah berangkat ke sekolah. Kartika datang ke rumah Ayuning setelah terlebih dahulu memberi kabar kepada Ayuning. Saat Kartika telah sampai, ia langsung masuk ke dalam kamar Alex. Kartika dapat melihat jika saat ini Alex sedang duduk.
"Apa kau sibuk?" Tanya Kartika yang perlahan masuk ke dalam kamar.
"Untuk apa kau datang?" Jawab Alex dengan sebuah pertayaan.
"Hubungan kita, apa harus seperti ini? Bukan kah sudah aku katakan kita sama-sama sudah dewasa Alex. Apa harus kita seperti ini?"
"Dewasa kau bilang? Jika memang kau dewasa kenapa kau menghancurkan perusahaanku? Kenapa kau melarang semua investor untuk menanam saham di perusahaan milikku? Apa itu bisa di sebut dewasa?"
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu di katakan saat ini oleh Kartika.
Keduanya saling terdiam cukup lama. Baik Kartika dan Alex, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga Kartika menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. "Jadi apa mau mu Alex?"
Alex terdiam tidak menjawab pertanyaan Kartika.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu Alex, aku hanya bisa berpasrah saja." Ucap Kartika sambil mengambil selembar amplop coklat dari dalam tasnya, yang sejak tadi ia bawa. "Aku menyerah Alexander." Kata Kartika sambil memberikan amplop tersebut ke hadapan Alex. "Tapi satu yang aku minta padamu, jangan pernah melarangku atau melarang anak-anak bertemu dengan ku." Ucap Kartika lalu keluar dari dalam kamar dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Mendengar kata menyerah membuat Alex kaget setengah mati. Wanita yang sudah mengukur hatinya itu kini telah pergi dengan air mata yang membasahi pipinya. Apa yang di maksud Kartika dengan menyerah. Alex yang begitu penasaran langsung membuka selembar amplop yang di berikan oleh Kartika. Dan betapa kagetnya Alex saat membaca isi dari dari amplop tersebut.
"Kartika." Lirih Alex saat membaca permintaan gugatan cerai yang di berikan oleh Kartika.
•••••
Dua bulan berlalu, hingga sampai saat ini proses perceraian antara Kartika dan juga Alex belum terlaksana sama sekali. Kartika yanh sibuk mengurus perusahaan tidak lagi menghiraukan tentang urusan itu, semua masalah ia percayakan pada Rafqi. Karena Kartika tidak ingin lagi melihat Alex yang mungkin akan bisa membuat dirinya kembali merasakan sakit. Dan juga selama dua bulan ini, Kartika sama sekali tidak pernah tahu apa pun yang terjadi pada Alex. Kartika tetap menutup diri dengan menyibukkan dirinya mengurus perusahaan miliknya. Dan untuk Mora dan Molki, Kartika memilih hanya mengirim pesan atau mengirimkan anak-anaknya hal yang mereka sukai. Kartika juga memilih belum ingin bertemu mereka berdua karena alasan yang sama. Tidak ingin jika dirinya berurusan dengan Alex lagi.
Saat Kartika sibuk bekerja, tiba-tiba ponsel Kartika berdering, terlihat jelas di layar ponselnya jika Molki yang sedang menghubunginya.
"Bunda, aku ada di depan perusahaan, boleh aku bertemu dengan bunda?" Kata Molki saat sambungan terhubung.
Karena merasa sangat bahagia, Kartika langsung berlari kecil keluar dari ruangannya menuju lantai satu, di mana Molki saat ini sedang menunggu dirinya.
"Molki." Panggil Kartika sambil membuka lebar tangannya. Molki yang melihat Kartika langsung tersenyum bahagia.
"Bunda." Ucap Molki memeluk tubuh Kartika. "Bagaimana kabar bunda? Kenala bunda tidak pernah mengunjungiku? Kenapa bunda hanya sesekali mengirimi aku pesan?" Dan masih banyak sekali pertanyaan yang terlontar dari bibir Molki. Pria yang terkenal dingin dan sangat jarang berbicara kepada siapa pun, tapi tidak pada Kartika.
Kartika membawa Molki ke dalam ruanganya.
"Mora baik-baik saja. Dia semakin pintar mengerjakan tugas seorang diri, dan juga Daddy baik-baik saja." Kata Molki membuat Kartika bisa bernafas dengan sangat lega.
Ya, walaupun Kartika menahan untuk tidak mencari tahu tentang Alex. Tapi jujur dari dalam lubuk hati yang paling dalam Kartika masih menyimpan rasa. Namun rasa itu ia pendam karena telah resmi bercerai dengan Alex. Itulah mengapa Kartika menyibukkan diri dengan bekerja.
"Oh ya dimana Mora? Kenapa tidak ikut ke sini juga. Dan tadi kamu naik apa?"
"Apa daddy..." Kalimat Kartika menggantung.
"Daddy tidak tahu, aku hanya bilang ingin ke ultah teman ku dan bermalam di sana."
"Tapi Molki.."
"Hanya untuk hari ini bunda."
Kartika menghembuskan nafasnya, karena jika menolak yang ada Molki akan marah dan tidak akan lagi menghubunginya. "Baiklah hanya untuk malam ini. Tapi jika ingin kembali bermalam pintu bunda akan tetap selalu terbuka dengan satu syarat, harus ada izin dari daddy mu."
"Baik bunda."
Kartika mengajak Molki pergi ke mall berbelanja baju untuk kebutuhan Molki sebentar malam. Saat semua telah selesai kini Kartika mengajak Molki untuk ke rumahnya, rumah utama Kartika.
"Tuan muda." Sapa Ratih yang semenjak keluar dari rumah Alex kini menetap kerja di rumah Kartika. "Bagaimana kabar tuan? Ya Allah, bibi sangat rindu sama tuan muda."
"Baik bi."
••••
Malam harinya. Kartika menyetir mobil sendiri mengantar Molki ke rumah temannya untuk acara ulang tahun. Namun saat mereka sampai ke salah satu rumah, Kartika melihat sekeliling. Rumah yang begitu besar tapi tidak ada tanda jila ada pesta ulang tahun di dalam sana.
"Molki apa benar ini rumah temanmu?" Tanya Kartika.
"Bunda masuklah, temani aku." Kata Molki turun lebih dahulu dari mobil dan menunggu Kartika. Tangan Molki menggenggam tangan Kartika dan menuntun Kartika masuk ke dalam rumah.
Listrik padam saat Kartika masuk ke dalam.
"Molki kenapa sangat gelap? Apa tema dari ulang tahun teman mu ini?"
"Happy birthday bunda.. Happy birthday bunda.."
Suara Mora terdengar jelas di telinga Kartika, dan saat bersamaan lampu menyala. Kini Alex Mora dan juga Molki sudah berada di hadapan Kartika dengan kue tart.
"Selamat ulang tahun bunda." Mora maju memberikan kue pada Kartika agar lilinya segerah di tiup.
"Selamat ulang tahun sayang." Kata Alex dan maju memberikan kecupan di kening Kartika.
..."Tamat"...