
"Sayang, cucu oma." Ucap Ayuning saat membuka pintu kamar Molki.
Molki yang sejak tadi duduk di kursi langsung menoleh ke arah Ayuning.
"Maaf, karena oma datang terlambat." Kata Ayuning dan mendekat pada Molki, lalu memeluk tubuh Molki.
Ini yang Ayuning tidak suka dari Alex putranya. Alex selalu saja tegas dalam menghukum anak-anaknya tanpa ada rasa kasihan sama sekali.
"Sudah makan?" Tanya oma, sambil mengatupkan kedua tangannya di pipi Molki. Molki pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Lihat saja, setelah daddy mu pulang, maka oma akan memarahinya." Kata Ayuning dengan penuh semangat.
"Tidak usah oma. Ini memang salahku." Kata Molki.
Ayunung langsung tersenyum melihat wajah Molki. Ayuning bangga memiliki cucu yang begitu sangat baik dan pengertian dan tentunya begiti sangat menyayangi daddy dan juga adiknya.
"Kau tahu, kalau daddy mu akan menikah?"
"Iya oma."
"Kau sudah siap?" Tanya Ayuning.
"Iya oma." Jawab Molki sambil tersenyum.
Siap tidak siap, tentu Molki harus siap, karena ini sudah menjadi keputusan orang tua, dan tidak akan mungkin di ganggu gugat. Lagian Molki pun juga berfikir, tidak akan mungkin baginya untuk terus berada di sisi Alex. Dan Alex pun memang butuh pendamping. Namun Molki berharap, semoga siapa pun wanita yang kelak akan menjadi ibu sambungnya, bisa mencintai Alex dengan sepenuh hati dan juga mau menerima dirinya dan juga sang adik. Dan wanita yang tulus tanpa ada unsur apapun.
"Kak Molki..." Teriak Mora dengan sangat kerasnya dan berlari masuk ke dalam kamar Molki.
"Kakak. Aku rindu padamu." Timpalnya kemudian sambil memeluk tubuh Molki.
Lagi dan lagi Ayuning merasa bahagia karena bisa memiliki cucu yang saling menyayangi dan saling merindukan satu sama lainnya.
"Kak. Kau baik-baik saja kan? Tidak ada luka kan di tubuhmu? Daddy tidak mukulmu kan? Apa kau makan dengan lahap di lamar ini?" Berbagai pertanyaan muncul dari bibir Mora, yang sangat mengkhawatirnya Molki.
"Mora. Aku baik-baik saja. Aku cuman berada di kamar bukan dari hutan. Jadi stop khawatir yang berlebihan." Kata Molki sambil mengusap pucuk kepala Mora dengan penuh cinta.
"Oma, tolong katakan pada daddy agar tidak menghukum kak Molki lagi."
"Iya."
"Oma janji?" Ucap Mora sambil menaikkan jari kelingkingnya.
"Ya janji." Ayuning menautkan jarinya ke jari kelingking Mora.
"Bersiaplah. Oma akan membawa kalian keluar untuk menghirup udara segar." kata Ayuning lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar, namun Ayuning berhenti tepat di depan pintu.
"Mora, jangan pakai pakaian yang terlalu minim. Oma tidak suka."
"Oma, serius kita akan pergi? Kemana oma? Apa daddy sudah tahu? Apa daddy marah?"
"Bersiaplah."
•••••••
Ayuning kini membawa kedua cucunya ke salah satu resto. Ayuning sengaja membawa kedua cucunya karena tahu, jika Alex tidak pernah sekalipun membawa anak-anak mereka keluar bersama. Jika memang mereka keluar, Mora dan Molki hanya di temani oleh Ratih atau pengawal yang memang selalu ada untuk mendampingi Mora dan juga Molki.
"Oma kita menunggu siapa?" Tanya Mora saat menu yang di pesan Ayuning ada empat.
"Maaf karena terlambat." Kata Kartika sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa. Ayo duduklah." Pintah Ayuning.
"Tante.." Ucap Molki, saat melihat Kartika yang kini duduk di depannya.
"Hey anak baik." Sapa Kartika.
"Kak, kau mengenalnya? Dia siapa kak? Apa dia akan menjadi pengawal baru kita lagi?" Bisik Mora namun dapat di dengar oleh Kartika, dan Kartika hanya tersenyum menanggapi.
"Mereka berdua cucuku. Anak dari Alex dan juga Sahara." Kata Ayuning memperkenalkan Mora dan juga Molki.