
Kini Kartika dan juga Mora sedang duduk di taman belakang sambil menikmati coklat yang di bawah oleh Mora dari sekolah. Coklat pemberian dari para siswa untuk Molki.
Kartika terus tertaaa mendengar cerita Mora yang terus bercetita tetang banyak sekali siswi yang selalu mengirim atau menitip sesatu padanya agar bisa di berikan kepada Molki.
"Tante. Mereka pikir aku ini jasa titipan. Seenak saya menitip surat dan coklat kepadaku."
"hahahhaha." Tawa Kartika.
"Tante selalu tertawa. Aku itu lagi sebel. Capek tiap hari harus seperti ini."
"Abisnya kau sangat lucu. Kalau tidak ingin di titipin barang yah tolak saja. Katakan pada mereka kalau Molki sudah punya pacar."
"Sudah tante, tapi tetap saja mereka masih kepala batu, dan tidak pernah mau menyerah. Masih saja terus menitip surat dan coklat ke aku."
"Hahah, berati Molki sangat keren. Pesonanya luar biasa hingga mampu menghipnotis para siswi."
"Tante." Ucap Mora sambil melipat kedua tangannya di depan da*da, dan juga dengan bibir yang menggerucut.
"Maaf." Kata Kartika.
"Aku harus bagaimana? Aku capek tante."
Kartika terdiam sesaat memikirkan bagaimana caranya agar Mora tidak lagi mendapatkan pesan dari siswi yang mengidolakan Molki.
"Sini." Ucap Kartika menyuruh Mora agar mendekat padanya. Dan Kartika pun berbisik ke pada Mora.
Mora tertawa mendengar perkataan Kartika.
Namun beberapa saat kemudian tiba-tiba tubuh Mora kehilangan keseimbangan.
"Mora.." Panggil Kartika.
"Mora, sayang bangunlah." Ucap Kartika sambil menepuk-nepuk pelan pipi Mora.
"Sayang bangunlah, jangan membuat tante khawatir."
Namun tetap saja Mora masih memejamkan matanya.
"Tolong, siapa pun tolong." Teriak Kartika.
"Nyonya ada apa?" tanya Ratih yang langsung berlarih menghampiri Kartika kala mendengar Kartika memanggil dirinya.
"Bi Ratih. Tolong anggat Mora ke pundak belakangku." Ucap Kartika lalu berjongkok. Dan saat Mora sudah berada di pundak nya, Kartika langsung berlari menuju mobil.
"Baik nyonya."
"Tante aku ikut." Teriak Molki yang baru saja keluar dari dalam kamar dan melihat Kartika yang berlari sambil membawa Mora.
"Apa yang terjadi? Kenapa Mora bisa seperti ini?"
"Pa, Ardi tolong cepat kita ke rumah sakit terdekat." Pinta Kartika sambil duduk di kursi belakang dan Mora yang duduk dan bersandar di pundak Kartika.
"Tante. Apa yang terjadi?" tanya ulang Molki.
"Tante tidak tahu. Tadi kita hanya makan coklat sambil cerita tentang siswi yang meminta salam padamu. Tapi setelah itu, Mora langsung pinsan."
"Mora sadarlah." Kata Molki sambil mengusap lengan Mora.
•••••••
"Apa?!" Teriak Alex saat mendapat kabar dari Aris jika saat ini Mora sedang berada di rumah sakit.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai Mora pingsan?"
Lalu Aris menceritakan kejadian yang terjadi di rumah. Dan dengan langkah cepat Alex langsung meraih jas kerjanya.
"Sekarang juga kita ke rumah sakit." Pinta Alex.
Sedangkan di rumah sakit, Kartika sudah tahu tentang penyebab kenapa sampai Mora bisa jatuh pingsan.
"Bukan kah sudah aku katakan. Berikan info yang detai tentang Mora dan juga Molki? Lalu apa ini? Kenapa kau bekerja tidak becus."
"Maaf nyonya. Karena keteledoran saya."
"Sudahlah, sekarang cari tahu apapun lagi. Jangan sampai hal ini terjadi lagi."
"Baik nyonya."
Kartika langsung memutuskan sambungannya dan menyimpan kembali ponsel yang selalu ia pakai untuk menghubungi sang asisten.
Duaarrrr....
Bunyi suara pintu yang di dorong keras oleh Alex membuat Kartika yang berada di dalam sana spontak kaget dan menoleh ke arah pintu.