Alexander

Alexander
Bab 31



Tiga bulan berlalu. Dan hingga sampai saat ini, masih saja belum ada data mengenai Kartika. Aris sama sekali belum tahu, dan tidak mendapatkan petunjuk.


Dan Alex, yang memang awalnya sangat dingin, kini tambah dingin lagi. Terlebih saat kedua anaknya yang begitu semakin akrab dengan kehadiran Kartika, dan keduanya sudah memanggil Kartika dengan sebutan bunda.


Sudah beberapa kali Alex menegur kedua anaknya, namun tetap saja, kedua anaknya tidak dapat mendengar perkataan Alex, dan kedua anaknya kini lebih akrab dengan Kartika di bandingkan dengan dirinya.


Namun, ada satu malam. Alex sempat tercengang melihat perhatian Kartika pada anaknya. Dimana saat Mora demam, Kartika dengan sigap merawat Mora dengan sangat baik, bahkan Kartika tidak tidur hanya karena ingin memastikan jika Mora baik-baik saja. Es, yang ada di dalam diri Alex sempat sedikit mencair kala melihat Kartika yang dengan lembutnya mengusap rambut Mora, memperharikan Mora dengan penuh cinta kala Mora tertidur dengan sangat lelap.


Alex yang berada di depan pintu kamar, melihat dengan jelas dan dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Tidak! Tidak mungkin."


Alex menepis perasaan yang mulai saja muncul. Entah itu perasaan apa, yang jelas Alex ingin menyingkirkan sebelum perasaan itu semakin banyak dan sulit untuk di kendalikan.


Sahara. Yah, bagi Alex hanya ada Sahara di dalam hatinya. Hanya ada satu cinta yang akan bersemayam di dalam hatinya sampai jantungnya tak lagi berdetak..


••••


Di perusahaan.


"Dan aku yakin, sampai saat ini wanita itu masih menginginkan hal lain dariku." Gumam Alex sambil menatap layar ponsel, memperhatikan wajah Kartika yang sedang tersenyum.


"Buruk atau pun baik niatmu masuk di dalam keluargaku. Tetap aku tidak akan bisa menerimamu." Lanjut Alex.


"Tuan. Mobil sudah siap. Apa tuan jadi berangkat?" Tanya Aris yang baru saja masuk ke dalam ruangan Alex.


•••••


Saat ini Kartika sedang duduk di samping pusaran Sahara.


"Sahara, kau pasti bahagia di atas sana. Kau bahagia kan bisa melihat ku menderita?" Kata Kartika sambil menitihkan air matanya.


Entah kenapa, hari ini perasaan Kartika sedikit melow.


"Kau tahu Sahara, selama berada di rumah pria dingin itu. Aku baru menyadari, jika hatiku masih jatuh pada hatinya." Ucap Kartika dengan air mata yang mulai menetes.


"Aku sudah berusaha, tapi tetap saja dia tidak pernah melihat ku ada. Kau tahu rasanya tidak di anggap? Sakit! Sakit Sahara, sangat sakit. Kau tahu Sahara aku istri tapi seperti pembantu saja. Kenapa? Kenapa Sahara, kenapa kau tega memberiku beban yang sulit untuk aku pikul. Kenapa?" Teriak Kartika meluapkan emosinya.


"Aku sudah berhasil membuang semua pikiranku tentang pria dingin itu. Tapi kenapa? Kenapa justru kau kembali mendatangkan dia di dalam surat. Kau tega Sahara."


Setelah meluapkan semua isi hatinya di hadapan makam Sahara, kini Kartika pulang menuju rumah Juli sang sahabat. Dan seperginya Kartika, mobil yang di kendarai oleh Aris tiba di makam.


Alex turun dari mobil dan berlahan jalan menuju makam sang istri.


Lagi dan lagi. Alex di buat bertanya-tanya tentang siapa yang sangat begitu rajin mendatangi makam sang istri. Mungkin kah Molki? Tapi tidak mungkin, bukan kah ini jam sekolah, dan tidak mungkin Molki berkunjung seorang diri tanpa di dampingi oleh supir yang selalu mengantarnya kemanapun.


Alex menepis semua pikirannya, dan duduk di samping makam sang istri.