
"Tidak! Aku akan membawa masalah ini ke jalur polisi." kata salah satu ibu siswa sambil meraih tas dan berdiri lalu menarik anaknya keluar dadi ruangan kepala sekolah. Begitupun dengan para ibu yang lain, keluar dari ruangan dan bersikukuh untuk membawa jalur ini ke kepolisian.
"Tante. Apa kak Molki akan di penjara? Tapi kak Molki ngak salah tante."
Kartika lalu mengusap wajah Mora.
"Jangan takut, biar tante yang menyelesaikan semua ini."
Lalu Kartika berdiri dan mendekati ibu kepala sekolah.
"Perkenalkan saya Kartika Wijaya. Putri dari Wijaya yang pemilik dari sekolah ini. Saya harap ibu bisa bertindak adil dalam menghukum siswa yang benar-benar bersalah, atau aku akan..." Bisik Kartika karena tidak ingin Molki dan Mora tahu siapa sebenarnya dirinya.
Seketika wajah ibu kepalanya sekolah memucat, saat mendengar perkataan dari bibir Kartika.
"Bi Ratih, bawa anak-anak ke dalam mobil. Ada hal yang harus aku urus lebih dahulu."
"Baik nyonya." Jawab Ratih lalu membawa Molki dan Mora.
Kartika langsung meraih ponsel yang sejak lama ia simpan.
"Cari tahu, data tetang mereka. Saya tunggu 10 menit dari sekarang." Ucap Kartika saat sambungan terhubung.
Dan benar saja. Selang beberapa saat kemudian, ponsel Kartika pun berdering. Kartika tersenyum devil saat membaca isi pesan dari orang suruhannya.
Kartika berjalan dengan cepat menyusul ibu-ibu yang sudah berjalan jauh membawa anak-anak mereka.
"Suami mu terlibat dengan kasus penggelapan dana di perusahaan tempat dia bekerja. Dan suami mu saat ini usahanya sudah bangkrut. Dan kau, saat ini hubungan rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja. Dan kau! Saat ini suami mu sedang perjalanan dinas diluar kota dengan seorang wanita cantik." Kata Kartika, hingga mampu membuat para ibu-ibu itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kartika.
"Aku tahu siapa kalian, dan tentang suami kalian, urusan dan semua yang ingin kalian lakukan, aku tahu."
"Siapa kau!" Tanya salah satu ibu yang kaget karna Kartika tahu tentang masalah keluarganya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku tahu kalian. Dan yah, jika kalian inginmembawa kasus ini ke kepolisian. Silahkan saja. Karna aku yakin aku yang akan menang di sini."
"Jangan dengarkan perkataannya. Dia hanya ingin mencoba menakut-nakuti kita."
"Ingat, aku bisa menghancurkan kalian hanya dengan menyentikkan jariku saja. Jadi jangan coba macam-macam denganku, atau dengan anak-anakku." Ancam Kartika lalu memakai kacamatanya.
"Oh yah, satu lagi. Aku tunggu kalian di kepolisian. Aku berharap anak-anak kalian akan mendekap di sel anak." Ucap Kartika lalu tertawa sinis. Dan kemudia mendekati teman sekolah Molki.
"Jika kalian tidak minta maaf pada putra dan putriku. Maka siap-siap kalian akan aku keluarkan dari sekolah ini, dan bahkan, aku pastikan sekolah lain pun tidak akan sudi menerima kalian." Ancam Kartika.
Lalu, Kartika menghubungi seseorang agar meyelesaikan masalah dengan ibu-ibu yang sangat tidak tahu diri itu.
"Tante, hiiikkksss, hikkkssss." Panggil Mora dan langsung memeluk tubuh Kartika saat Kartika berada di hadapannya.
"Sayang diamlah."
"Tante, apa yang terjadi kalau kak Molki di penjara? Bagaimana jika Daddy tahu ini. Aku takut tante." kata Mora di sela tangisnya.
"Tenang saja. Tante sudah menyelesaikan semuanya. Jadi berhentilah menangis sayang." Ucap Kartika sambil mengusap pundak belakang Mora.
Sedangakn Molki hanya diam saja. Tapi Kartika tahu, kalau saat ini Molki sengan khawatir dan takut.
Lalu Kartika merentangkan tangannya.
"Hey boy, kau tidak ingin memeluk tante dan juga Mora?"
Molki tersenyum kecut. Lalu Kartika melerai pelukannya dari Mora, dan langsung mendekati Molki.
"Jangan takut. Tante sudah menyelesaikan semuanya. Tidak ada kata penjara. Jadi tidak usah khawatir."
Molki langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap mata Kartika. Mencari kebenaran dari setiap perkataan yang keluar dari bibir Kartika.
"Percayalah pada tante." Ucap Kartika, dan Molki langsung memeluk Kartika, begitupun dengan Mora ia langsung meneluk Kartika.
"Jangan katakan ini pada daddy kalian. Cukup inu menjadi rahasia kita bertiga." Ucap Kartika.
"Ber empat nyonya, dengan saya." Timpal Ratih yang sejak tadi berdiam diri memperhatikan Kartika yang dengan tulus memberikan kenyamanan pada Molki dan juga Mora.