
Ketukan suara pintu, membuat Juli yang kini tengah asik berbaring langsung bangun.
"Siapa?" Tanya Juli dari dalam, dengan raut wajah yang masih berantakan.
Tidak ada jawaban dari luar. Tapi suara ketukan pintu terus terdengar.
"Siapa sih?" Tanya Juli sambil mengusap wajahnya.
"Juli." Ucap Aris saat pintu kamar kosan Juli terbuka.
"Siapa?" Tanya Juli sambil memperhatikan pria yang kini tepat berdapan dengannya.
"Sempurna" Batin Juli, melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan mata Juli tertuju pada wajah tampan Aris.
Namun, berbeda dengan Aris. Ia justru memasang wajah datar. Terlebih lagi saat melihat penampilan Juli yang sangat tidak baik menurut Aris. Dimana rambit Juli berantakan dan raut wajah yang seperti orang baru bangun.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Juli. Aris pun langsung masuk ke dalam dan duduk di tempat duduk.
"Hey, kau siapa? Seenak jidatnya kau masuk." Tanya Juli dengan nada tinggi.
Juli bingung dengan pria yang kini sedang duduk santai.
"Keluar! Sana cepat keluar. Kau mengganggu waktu istirahatku. Dan juga aku tidak mengenal dirimu."
Tanpa basa basi. Aris langsung meletakkan tas hitam yang sejak tadi ia bawa.. Lalu Aris, membuka tas yang berisikan uang seratus ribu dengan jumlah lima puluh juta. Mata Juli, seketika membulat sempura, melihat lembaran uang yang begitu banyak di hadapannya. Dan ini, adalah pertama kalinya Juli melihat uang nyata sebanyak itu.
"Katakan, siapa Kartika dan kau akan mendapatkan semua uang yang ada di atas meja ini." Ucap Aris.
Namun bukanya menjawab, Juli hanya diam, sesekali ia mengucek matanya. Benarkah yang di hadapannya ini uang nyata? Dan apa kah dirinya masih sedang tidur dan bermimpi? Kenapa ada seorang pria gagah yang datang mengetuk pintu dan menawarkan uang dengan jumlah lima puluh juta hanya untuk ingin tahu siapa Kartika.
Seketika kesadaran Juli kembali. Saat teringat akan sahabatnya, Kartika Wijaya
"Kau bilang apa?" Tanya Juli, masih dengan posisi berdiri di hadapan Aris.
"Katakan, siapa Kartika dan dari mana asal usulnya. Jika kau memberitahuku, maka semua uang ini akam menjadi milikmu."
Juli tertawa sinis mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal bagi pria yang ada di hadapannya ini.
"Kau ingin tahu siapa Kartika?" Tanya ulang Juli, saat setelah tertawa.
"Ya."
"Kau yakin, akan memberikan uang ini jika aku memberi tahu, siapa Kartika?"
"Ya."
"Oke baiklah. Perbincangan mu sudah aku rekam. Jadi uang ini sudah resmi menjadi milikku" kata Juli sambil memperlihatkan ponselnya.
"Tidak! Uang ini bukan milikmu, sebelum kau menceritakan siapa Kartika."
"Baiklah."
"Kartika, yah Kartika. Dia seorang manusia. Jenis kelamin perempuan, dan saat ini sedang menikah dengan pria dingin yang kaya raya, namun pelit." Jelas Juli, membuat Aris menautkan alisnya. Sambil menatap tajam pada Juli.
Lalu dengan secepat kilat, Juli meraih tas di atas meja.
"Uangku." Kata Juli, namun dengan cepat Aris menahan tas hitam yang berisi uang itu hingga keduanya terlibat saling tarik.
"Kau belum cerita apa apa."
"Tidak! Aku sudah cerita tentang Kartika, jadi uang ini sekarang menjadi milikku." Bantah Juli.
"Lepaskan tanganmu."
"Kau yang lepaskan."
Keduanya saling tarik menarik tidak ada yang mau mengalah. Hingga beberapa saat kemudian, Aris langsung berteriak,
"Tikus...."
Membuat Juli, yang tadi sangat kuat menarik, langsung melepaskan tarikannya dan naik ke atas kursi.
"Tikus, tikus, dimana tikusnya. Tolong usir tikus itu."
Bukannya mengusir tikus. Aris justru langsung menutup rapat tas yang berisikan uang.