
Hay sayang.. Bagaimana kabarmu? Kau baik? Bagaimana kabar anak kita? Baik?
Mungkin saat kau baca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. Tapi kau harus tahu, kalau cintaku tetap ada untuk kalian. Sayang, maafkan aku karena selama ini aku telah berbohong padamu. Maaf karena telah merebutmu. Maaf karena telah memisahkan mu dari wanita yang kau cintai.
Aku tahu kau sedang menangis. Usap air matamu, jangan biarkan anak-anak kita melihatmu dalam keadaan yang rapuh. Kau daddy yang hebat kau suami yang luar biasa sempurna. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencitaimu.
Sayang, tolong maafkan aku. Maaf karena selama bertahun tahun aku telah berbohong padamu.
Aku mencintaimu hari ini esok dan hingga selamanya. Tapi tolong, jaga balas cintaku. Cukup cintamu sampai aku menghembuskan nafasku. Cintailah Kartika seperti semula, cintailah dia sama seperti kau mencintai dirimu. Tolong hapus aku dari dalam hatimu dan gantilah aku, hilangkan aku, untuk selama lamanya. Maafkan aku, maaf, maafkan aku sayang.
Saat Sahara menulis surat ini, air mata Sahara terus jatuh membasahi wajahnya dan bahkan membasahi kertas yang telah ia tulis untuk Alex. Sahara tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya penyesalan yang yang terus ia rasakan. Menyesal karena telah memisahkan dua hati yang begitu saling mencintai. Setelah menulis pesan ini, dan juga bercerita pada Molki yang sejujurnya, perasaan Sahara menjadi lebih tenang. Setidaknya beban kebohongan yang telah ia simpan selama ini telah ia buka, dengan bercerita kepada anaknya dan juga telah menulis surat pada sahabatnya. Kini Sahara bisa dengan tenang pulang ke pelukan Ilahi.
Molki tersenyum saat Alex masuk ke dalam kamar. Lalu Alex memeluk Molki sambil menangi di dalam pelukan anaknya. Rapuh? Tidak! karena pria yang menangis artinya memiliki sisi yang lembut. Hanya saja sisi itu kadang pria sembunyikan agar tidak terlihat lemah dan cengeng di hadapan wanita.
Lalu Molki pun langsung menceritakan pada Alex tentang cerita Sahara padanya. Lagi dan lagi Alex benar-benar merasa bersalah pada Kartika karena memperlakukan Kartika layakanya sebagai seorang pembantu, bukan seorang istri. Dan lebih parahnya lagi, Alex bahkan menuduh Kartika yang tidak tidak.
Alex tahu, pasti saat ini Kartika sangat marah dan juga sangat kecewa pada dirinya karena tidak mengenalinya saat pertama kali bertemu. Dan setelah mendengar semua cerita dari Molki, Alex langsung memutuskan untuk ke kamar tamu, dimana selama ini menjadi kamar tidur Kartika. Perlahan Alex membuka pintu, dan melihat Kartika yang saat ini sedang tertidur dengan sangat pulasnya. Perlahan Alex masuk dan duduk di tepi tempat tidur menatap wajah Kartika yang sedang tertidur. Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam diri Alex. Ya, Alex tahu jika selama ini Kartika berkerja sangat keras untuk mengurus dirinya dan juga kedua anaknya.
"Maaf.. Maaf, karena membuatmu menunggu lebih lama." Lirih Alex sambil mengecup kening Kartika, lalu menggendong tubuh kartika dan membawanya menuju kamar utama. Kamar yang akan menjadi tempat Kartika selamanya.