Alexander

Alexander
Bab 27



"Hey, kau membohongiku?" tanya Juli saat menyadari dan melihat Aris yang sudah menutup rapat tas yang berisikan uang tersebut.


"Anda tidak menjawab pertanyaan saya. Jadi uang ini bukan milik anda, nona." Ucap Aris dengan tegas.


"Hay kau!" Juli turun dari kursi dan berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kosannya.


"Keluar! Cepat! Sebelum aku meneriaki mu maling" Ucap Juli dengan keras.


Aris lalu berjalan dan keluar dari pintu.


"Jangan pernah datang ke sini lagi. Dan ingat! Uang mu itu tidak akan bisa merubah persahabatanku dengan Kartika." teriaknya dengan lantang.


"Pria aneh! Baru datang sok nawarin uang. Dia pikir aku ini matre apa?" Omel Juli sambil berjalan dan mencoba menghubungi Kartika


"Kamu di mana? Itu ada asisten suami dinginmu barusan datang dan menawarkan uang sejumlah lima puluh juta padaku. Dengan syarat aku harus menceritakan tentang dirimu." Ucap Juli panjang lebar saat sambungannya dengan Kartika terhubung.


"Terus? Kau cerita tentang diriku?"


"Ya, tentu." Jawab Juli, lalu Juli meceritakan kejadian tadi, dimana Aris bertanya dan Juli menjawab. Hal itu membuat Kartika tertawa terbahak-bahak.


"Kartika, memang kau ini siapa? Kenapa orang itu sampai nekat mencari tahu tentang dirimu? Bahkan rela memberika aku uang sebanyak itu?" Tanya Juli, yang juga mulai ikut penasaran. Karena kalau mau di pikir, semenjak Juli berteman dengan Kartika, belum pernah sekalipun Juli tahu siapa orang tua Kartika. Dan setiap ada masalah tentang kehidupan Juli mengenai materi, Kartika selalu ada memberika jalan keluar dengan memberikan bantuan pada Juli.


Kartika berhenti tertawa, dan terdiam saat mendengar pertanyaan Juli.


"Hey, kenapa diam? Ayo jawab. Sebenarnya kau ini siapa? Dan keluargamu berasal dari mana?"


"Jul, aku Kartika Wijaya. Kartika sahabatmu. Kau sudah mengenalku lama, masa kau langsung goyah dengan uang senilai itu."


"Bukan goyah Tik. Hanya saja, aku...."


"Ahh, sudahlah.. Sekarang aku menuju kosanmu." Ucap Kartika, dan memutuskan sambungannya.


••••••


Brangggkkkkkkk...


"Aku tidak mau tahu, Aris! Pokoknya kau harus mendapatkan informasi mengenai Kartika, dan motif apa yang dia sembunyikan.?" Ucap alex dengan tegas. Dan da*da yang naik turun menahan emosi.


"Baik tuan."


"Ingat Aris. Aku tidak ingin kau gagal kali ini. Karena jika sampai kau gagal, maka kau akan aku pecat!" Ancam Alex.


"Baik tuan."


••••••


Di sekolah, Molki bisa bernafas dengan lega, karena tidak ada satupun lagi siswa yang berani membully dirinya, begitu dengan adiknya..


"Kak, kau tidak ikut bermain?" tanya Mora, yang saat keluar main, langsung menghampiri kelas kakaknya.


"Tidak."


"Kak, temani aku ke kantin."


"Ya." Ucap Molki lalu berdiri dari duduknya.


Sepanjang perjalanan menuju kantin, banyak sekali siswi yang terus saja memberikan Mora surat, dan juga cokelat. Mereka semua meminta salam pada Molki, namun Mora hanya bisa tersenyum, sambil mengikuti langkah kaki Molki.


"Kak tunggu."


"Kau mau ke kantin atau tidak?"


"Tapi kak, lihat lah. Banyak sekali yang harus aku bawa." Ucap Mora memperlihatkan banyak surat dan juga cokelat yang tertempul di tangannya.


"Buang saja. Aku tidak butuh."


"Tapi kak, sayang kalau di buang."


Molki langsung menoleh ke arah Mora, dan membantu Mora memegang coklat.


"Kau bisa beli lebih banyak dari ini Mora. Jadi buang saja."


"Tidak, jangan di buang. Aku mau makan cokelat itu dengan tante Kartika."