
Setelah meluapkan semua isi hatinya di hadapan
"Dari mana? Habis nangis?" Tanya Juli saat Kartika masuk dan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Jul. Perasaan ku." Ucap Kartika sambil mengatur nafasnya.
"Kenapa? Ada apa dengan perasaan mu? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Juli yang baru kali ini melihat Kartika seperti sedang ada tekanan dan masalah.
"Ceritakanlah, aku siap menjadi penampung cerita dan juga masalahmu."
Hikkksssss,, hiiikkkssss,,
Seketika Kartika duduk dan meluapkan tangisnya di pundak Juli.
"Ada apa? Katakan?" Juli penasaran.
"Cinta Juli. Cinta. Ternyata aku masih jatuh cinta sama sih Alex itu." Kata Kartika sambil melanjutkan tangisannya.
Juli tersenyum sambil mengusap pundak belakang sang sahabat.
"Luapkan semuanya. Bersandarlah di pundakku selagi aku masih kuat menampung semua kegundaanmu." Kata Juli.
Dan benar saja Kartika meluapkan semuanya di Juli. Semua tangis dan semua unek-uneknya.
"Juli, kau tahu. Aku sudah membentengi diriku dengan cara melawannya, dengan cara tidak ingin mendegar perkataannya. Tapi kau tahu Jul, kenapa? Kenapa jantung ku terus berdetak tidak karuan, jika berhadapan dengannya. Kenapa Jul." Kata Kartika.
"Itulah dinamakan cinta Tik. Kita ngak bakalan tahu, kenapa dan kemana cinta kita akan berlabu. Kau tahu kan sampai sekarang cinta itu sangat misterius dan sangat sulit untuk di tebak. Hari ini, bisa jadi kita membenci, dan esok hari bisa jadi kita mencintai. Dan bisa jadi sebaliknya. Jadi lebih baik, kau mengatakan yang sejujurnya."
Mendengar perkataan itu, Kartika langsung menatap Juli, dan menghapus air matanya.
"Mengatakan cinta? Haa?? Mengatakan cinta pada Alex?" Tanya Kartika. Dan Juli menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
"Bukankah kita sudah dewasa? Bukan anak-anak yang jika mencintai harus memendam segalanya. Kita sudah dewasa, jadi jika cinta yah katakan. Jangan kau pendam karena yang ada kau akan sakit seorang diri." Jelas Juli.
"Cobalah katakan sekali saja. Kalau kau mencintainya. Jangan sampai kau kehilangan untuk yang kedua kalinya." Kata Juli membuat Kartika terdiam.
Kehilangan untuk yang kedua kalinya. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam benak Kartika.
"Ahh sudahlah, aku pusing." Ucap Kartika lalu berdiri.
"Jul, ayo ikut aku." Ajak Kartika.
"Kenama?"
"Ikut saja. Aku ingin membeli semua isi mall."
Juli tertawa mendengar gurauan Kartika yang tidak masuk di akal.
••••
"Cari tahu di mana wanita itu." Titah Alex saat dirinya kini sedang duduk di dalam mobil di kursi belakang.
"Baik tuan."
"Dan cari tahu juga, siapa yang selama ini sering berkunjung ke makam istriku."
"Baik tuan."
Di perjalanan Alex terus mengingat selama beberapa bulan ini menjalin hubungan suami istri dengan Kartika. Yang masih sampai saat ini Alex belum tahu siapa Kartika sebenarnya dan apa motifnya.
"Ingat Aris. Stengah jam dari sekarang, aku mau tahu di mana wanita itu berada dan apa yang ia lakukan." Kata Alex saat turun dari mobil.
"Baik tuan."
Lalu saat Alex telah berjalan masuk ke dalam ruangan. Aris langsung menelpon seseorang untuk mencari tahu di mana Kartika saat ini.