Alexander

Alexander
Bab 13



Molki menatap tajam Kartika, dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Sedangkan Mora, ia terus saja memperhatikan Molki dan juga Kartika. Sesekali Mora melirik Ayuning, namun Ayuning sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.


"Biar aku yang potongkan." Kata Kartika memecah keheningan di antara dirinya dan juga Mora.


Mora hanya tersenyum, lalu Kartika memotong stik untuk Mora dan menyuapkan satu potongan. Molki yang melihat itu, langsung mengangkat sudut bibirnya membuat seutas senyum yang tidak dapat di lihat dari Kartika.


"Biar aku potongkan juga." Pinta Kartika ingin mengambil piring Molki, namun dengan cepat Molki menarik piringnya.


"Tidak usah."


"Molki." Tegur Ayuning yang merasa jika Molki tidak sopan dengan Kartika. Padahal niat Kartika begitu baik.


"Tidak apa." Ucap Kartika dengan senyum di wajahnya.


Kartika dapat paham apa yang Molki rasakan. Ya, walaupun Kartika tidak pernah memiliki anak, namun Kartika tahu karena selama ini Kartika selali menyukai anak-anak dan belakar bagaimana cara terbaik untuk mengasuh dan menjaga anak.


"Aku sudah kenyang." Kata Molki dan langsung berdiri.


"Kak." Tegur Mora, dengan menatap tajam pada piring kak Molki yang masih belumbdi sentuh sama sekali. Daging yang berada di atas piring Molki masih utuh. Lalu tiba-tiba saja Molki berkata kenyang.


"Kenyang dari mana? Kakak belum makan sedikitpun loh kak." Lanjut Mora sambil menatap Molki.


"Duduk." Tegur Ayuning. Namun Molki tetap saja berdiri.


"Oma bilang duduk."


Namun tetap saja Molki tidak menjawab dan tidak menggubris perkataan Ayuning. Justru Molki berjalan keluar dari resto tersebut.


"Biar aku yang susul." Kata Kartika sambil memengang tangan Ayuning.


"Oma, kak Molki kenapa?" Tanya Mora. Karena yang Mora tahu, tadi kakaknya baik-baik saja, tapi kenapa langsung beruba kembali setelah ada Kartika di hadapan mereka.


"Makanlah. Habiskan makananmu setelah itu kita akan pergi jalan-jalan." Jawab Ayuning dengan mengalihkan perbincangan..


Kartika terus berjalan mengikuti langkah Molki yang ada di hadapannya. Entah kemana Molki akan pergi yang jelas Kartika akan siap menjadi bayangan untuk Molki.


"Belum lelah?" Tanya Kartika


Molki tidak menjawab, ia terus saja berjalan.


"Biasanya anak orang kaya itu, tidak pernah jalan kaki. Tapi ini kok...." Kartika menghentikan ucapannya kala Molki menghentikan langkah kakinya.


Saat mendengar Kartika tidak berbicara lagi. Molki kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau yakin, akan berjalan kaki? Kemana? Apa kau tidak takut untuk tersesat?" Lagi-lagi Kartika berbicara namun tidak ada tanggapan sama sekali.


Hingga Kartika diam sesaat lalu menunduk. Dan kemudian berkata.


"Maaf."


Kata yang keluar dari mulut Kartika mampu membuat langkah kaki Molki terhenti. Dan Kartika pun mendekat hingga bersampingan dengan Molki.


"Maaf." Ulang Kartika.


Molki langsung menoleh ke arah Kartika.


Wanita yang belum lama ia kenal ini, begitu cepat meminta maaf padanya, padahal Molki saja tidak pernah berharap kata itu. Dan sedangkan Alex yang sudah menemaninya dari mulai lahir hingga saat ini, belum pernah Molki mendengarkan kata maaf keluar dari mulutnya.


"Untuk apa?" Tanya Alex dengan dingin.


"Pertama. Karena aku akan menikah dengan daddy mu yang dingin itu. Kedua karena aku akan menjadi ibu yang mungkin tidak akan baik untuk kau dan juga Mora dan ketiga, maaf karena persahabatan kita mungkin akan berlanjut hingga......."