
Di meja makan, Alex mencari sosok yang selama beberapa bulan ini selalu menemani dirinya sarapan pagi. Ya, walaupun Alex merasa tidak suka, namun Alex kini merasa seperti kehilangan sosok itu, siapa lagi jika bukan Kartika. Wanita yang begitu hangat yang selalu saja tersenyum walau pun Alex selalu dingin padanya. Wanita yang selalu memberikan cinta pada kedua anaknya walaupun dia bukan ibu kandungnya.
"Bi, dimana bunda?" Tanya Mora yang sejak tadi memperhatikan jika Kartika tidak ada.
"Nyonya ada di kamar non, lagi istirahat karena sakit perut." Mendengar jawaban bibi, Mora langsung berdiri dan berlari menuju kamar Kartika, begitupun dengan Molki, dia juga langsung bediri dan menyusul Mora. Dan Alex ia juga ingin berdiri namun ada bi Ratih, jadi Alex memutuskan untuk tetap duduk tenang di tempatnya sambil menunggu kedua anaknya.
"Bunda apa yang terjadi. Kata bibi Bunda sakit? Ayo kita kerumah sakit biar bunda bisa di tangani oleh dokter." Ucap Mora yang terus saja memeluk Kartika yang saat ini duduk di atas tempat tidur.
"Sayang, bunda baik-baik saja. Jadi jangan khawatir."
"Pokoknya hari ini Mora tidak ingin ke sekolah. Mora ingin menjaga bunda." Ucap Mora dengan keras namun suaranya terdengar bergetar, seperti sedang menahan kesedihannya. Kartika yang mengerti langsung mengusap pucuk kepala Mora.
"Bunda baik-baik saja. Hanya perut bunda yang mules. Bunda hanya butuh toilet bukan dokter." Kartika menjelaskan kepada Mora secara perlahan agar Mora dapat menerima penjelasannya dan mau berangkat ke sekolah. Setelah cukup mengerti, akhrinya Mora memutuskan untuk keluar dari kamar Kartika. Berbeda dengan Molki yang sejak tadi diam memperhatikan Kartika menjelaskan kepada Mora.
"Bunda, aku pergi ke sekolah dulu. Semoga ini awal yang baik untuk bunda." Ucap Molki lalu keluar dari dalam kamar. Kartika kaget mendengar ucapan Molki. Molki seakan tahu apa yang terjadi antara dirinya dan juga Alex. Lagi-lagi Kartika terus berusaha mengingat kejadian semalan, namun tetap gagal karena tertidur lelap, Kartika lalu melihat tempar tidurnya.
"Ahhhhhhh." Teriak Kartika yang menyadari jika tidak ada guling sama sekali di atas tempat tidur.
"Ayolah, berpikirlah lebih keras." Gumam Kartika.
Namun Kartika di kagetkan saat pintu terbuka dan Alex tiba-tiba masuk dan berkata.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?"
"A-aku..." Kartika berjalan mundur saat Alex berjalan mendekatinya. Namun langkah Kartika terhenti kala tubuhnya menabrak dinding kamar. Spontan Kartika menutup matanya, mengepalkan kedua tanganya, karena merasa Alex akan memberikan pelajaran karena telah berani tidur di kamarnya. Tapi apa yang Kartika pikirkan bereda dengan kenyataan saat tangan Alex mendarat di keningnya.
"Tidak panas." Ucap Alex membuat Kartika membuka matanya. Kini mata keduanya saling memandang satu sama lainya. Dan kali ini jantung Kartika kembali berdentak tidak karuan, seakan ingin keluar dari tempat semestinya ia terletak.
Setelah beberapa detik mereka saling pandang, Kartika langsung mencoba berjalan, namun Alex menarik lengannya.
"Istirahatlah, biar anak-anak aku yang mengurusnya." Kata Alex lalu melepas tangan Kartika dan keluar dari dalam kamar.