Ainhra Online

Ainhra Online
Sword Mastery



Apartemen W, Garuda Right Wings, Garuda City, Jakarta Pusat, 02 Januari 20XY pukul 05.00


Ryn bangun dari tidurnya. Ia sudah terbiasa bangun jam 5. Dia duduk di tempat tidur sebentar lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka.


Ryn melakukan aktivitas paginya seperti biasa. Berolahraga, mandi, lalu sarapan sambil menonton TV.


Hari ini adalah hari Minggu, ia masih bisa bermain selama seharian lagi. Tapi pagi ini Ryn akan membeli banyak bahan makanan sebelum mulai bermain.


Acara kartun di TV sudah selesai. Selanjutnya adalah berita tentang Ainhra Online.


"*Selamat pagi pemirsa. Saya Kurnia Sari akan membawakan berita utama pagi ini.


Game VRMMORPG terbaru, Ainhra Online terlah diluncurkan secara global pada tahun baru kemarin. Sebanyak 25 juta unit game ini sudah terjual habis dan sebanyak 24 juta unit Avera Gear juga terjual karenanya*."


Ryn yang melihat berita itu tidak terlalu terkejut, "benar-benar luar biasa. Beberapa perusahaan pastinya akan melakukan pergerakan karena game ini. QRYZ memang hebat."


"Game ini tidak memiliki Quest utama. Benar-benar di luar dugaan. Para pemain juga agak kesusahan karena tidak adanya Quest utama. Nyonya Mary, sebagai salah satu petinggi perusahaan QRYZ, bagaimana tanggapan anda dengan hal ini?" Ucap pembawa berita itu dan menoleh ke sampingnya. Duduklah seorang wanita paruh baya berambut putih di sana.


Ryn yang melihat wanita itu hampir menyemburkan teh yang ia minum, "Aunty Mary? What the- what is she doing here?! Isn't she in America?!" Sampai Ryn mengucapkan bahasa ibu nya.


"Ryn, tenang... tenang... Oke. Kenapa Bibi Mary ada di sini? Dan petinggi perusahaan QRYZ? Apa-apaan… Bibi memang kaya, namun apakah itu benar?" Ucapnya sambil menggaruk kepalanya sedikit.


"Bibi Mary… apa dia mendapat kabar tentangku? Bibi sudah kerepotan semenjak merawatku dulu. Harusnya dia tidak perlu datang ke sini. Bukankah aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan kembali setelah 7 tahun?”


Ryn kembali menenangkan dirinya. Ia lalu mengingat-ingat siapa yang sudah melihat latar belakangnya selama ini.


"Hanya ada dokter, Paman Alden, dan Jendra. Dokter seharusnya tidak membocorkan privasi pasien. Jendra hanyalah seorang anak kecil. Paman Alden? Dia adalah kemungkinan terbesar... Tapi dia tidak pernah menyinggung latar belakangku sama sekali." Ia bergumam sendiri.


"Hm, bisa jadi Bibi Mary ke Indonesia bukan karenaku. Tapi karena hal lain. Ya. Positive Thinking saja." Ryn lalu lanjut mendengarkan berita.


"*The main quest will still be there, it's just not yet begun. All players don't need to worry. Guilds, arenas, and dungeons will also be added soon."


(Quest utama akan tetap ada, hanya saja belum dimulai. Pemain tidak perlu khawatir. Guild, Arena, dan Dungeon juga akan segera ditambahkan.)


"Aah, kalau begitu.... Bagaimana dengan fitur penukaran uang game ke uang asli?"


"Aah, that one. That will be added tomorrow. With that feature, you can exchange 1 gold in game to 50$ in real life. With minimum transaction as low as that."


(Aah, yang satu itu. Fitur itu akan ditambahkan besok. Dengan fitur itu, pemain dapat menukar 1 gold di dalam game ke 50$ di dunia nyata. Dengan transaksi minimal 1 gold*.)


"1 gold 50 dolar? Artinya sekitar 50.000 Rupiah? Cukup mahal... Jika seorang pemain bisa menghasilkan 1 gold saja setiap hari... Wah, bagaimana dengan pro player?"


Kurs mata uang rupiah dan dollar pada zaman Ryn hidup cukup rendah. 1 dollar hanya 1000 rupiah.


Berita itu masih berlanjut. Kebanyakan pembahasannya tentang Ainhra Online. Karena Ryn sudah membacanya di website resmi, ia tak menonton lebih jauh.


Ryn memakai jaket dan topinya. Ia segera pergi ke luar untuk membeli bahan makanan. Tak jauh, ada supermarket di depan gedung apartemen. Jadi dia tak perlu lama ke sana dan kembali lagi ke apartemennya.


Selesai membeli bahan makanan dan sampai di apartemen, Ryn menaruh belanjaannya di tempat yang seharusnya (kulkas atau lemari). Lalu menuju kamarnya. Ia berbaring dan menggunakan Avera Gear miliknya untuk log-in.


.


.


.


Lantai 40, ruang kerja Alden Aditya Pradhipta.


"Tuan besar. Nyonya Mary sudah menerima tawaranmu dan datang ke Indonesia." Ucap seseorang berpakaian formal dan kacamata hitam


"Benarkah? Hm, sudah ku duga Mary akan menerimanya. Kabar tentang keponakannya pasti akan membuatnya melakukan apa saja." Pak Alden tersenyum.


"Tapi pak, apakah tidak apa kita tidak memberi tahu tuan muda Avaryn tentang hal ini?"


"Tenang saja, Avaryn anak yang pintar. Dia pasti tau Mary sedang di Indonesia."


Pria berpakaian formal dan kacamata hitam itu menghela nafas, "Baik pak. Kalau begitu saya akan membacakan jadwal bapak hari ini."


Pak Alden menganggukkan kepala, 'Ryn, maafkan aku. Tapi demi keselamatanmu aku melakukan ini.'


.


.


.


<*Selamat datang kembali!>



"Belum? Kalau begitu harus aku alokasikan sekarang." Rein langsung mengalokasikan SP nya hingga statusnya menjadi seperti ini :


Nama : Rein


Ras : Elf


Level : 5


Title : Reader, Rabbit Hunter


HP: 8500/8500


MP : 2500/2500


STR : 25


AGI : 25 + 5


VIT : 11


LUC : 11


SP : 0


"Begini sudah cukup. Sekarang saatnya ke gedung pelatihan pedang."


Rein berjalan menuju gedung pelatihan pedang. Sesampainya di sana, Ryn langsung menyapa Pak Lorence yang sedang bermain pedang.


"Selamat pagi, pak."


Pak Lorence menghentikan permainan pedangnya dan berbalik melihat Rein, "oh, Rein. Aku kira siapa. Lanjut berlatih?"


Rein mengangguk. Pak Lorence lalu memberikan pedang kayu yang kemarin kepada Rein. Kemudian Rein berjalan ke boneka jerami dan menyerangnya lagi.


Rein terus menyerang boneka jerami itu sampai over limitnya terpicu. Ia masih ingin berlatih, tapi seperti kemarin Pak Lorence menghentikannya.


Pak Lorence menepuk pundaknya, "Rein, apakah kau pernah berlatih pedang sebelumnya? Dari gerakanmu selama ini kau tidak terlihat seperti seorang amatir."


Rein menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ehm, ya, saya pernah berlatih pedang sebelumnya." Ucapnya.


"Hm, kalau begitu kau bisa terus ke latihan selanjutnya. Untuk mendapatkan skill sword mastery, Kau harus bisa menyerangku sekali. Bagaimana?"


Rein memang membutuhkan sword mastery untuk mengalahkan Elemental Snake. Jadi dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, ikuti aku ke halaman belakang." Pak Lorence berjalan ke pintu belakang gedung pelatihan pedang. Rein mengikutinya dengan pedang kayu di tangannya. Setelah keluar dari gedung, terdalat sebuah lahan luas untuk bertarung.


"Oke, kau bisa istirahat terlebih dahulu sampai HP ku terisi penuh." Ucap Pak Lorence, ia beejalan


Rein duduk di tanah. Ia beristirahat sambil mengatur nafasnya. Dia juga ingin merasakan angin segar di desa ini.


"Andai Jakarta masih memiliki angin segar seperti ini. Aku pasti akan betah tinggal di sana selamanya. Sayang, polusi udara membuatnya tidak terlalu enak dihuni." Gumam Rein saat beristirahat.


Jakarta yang sekarang memang sudah lebih baik. Tapi tetap saja belum pulih sepenuhnya. Sebagai kota Industri dan distribusi, tentu saja polusi akan tetap ada walau sedikit.


Rein duduk diam di sana menikmati angin sambil menunggu bar HP nya pulih. Ia sangat menikmati suasana di Ainhra Online. Tak banyak polusi, terutama di dekat hutan seperti desa Gres.


Setelah beberapa menit beristirahat, bar HP Rein kembali penuh. Rein berdiri lalu berjalan menghampiri Pak Lorence yang ada di gudang.


"Pak, bar HP saya sudah penuh. Mari lakukan latih tanding nya." Ucap Rein pada Pak Lorence.


"Sudah penuh? Kalau begitu ayo." Pak Lorence mengambil sebilah pedang kayu yang agak lebih tebal dari yang Rein pakai.


Rein dan Pak Lorence berdiri berhadapan. "Mulai kapanpun kau suka." Ucap Pak Lorence.


"Kalau begitu saya tak akan sungkan." Rein melaju ke arah Pak Lorence dan menebas pedangnya.


Rein bergerak dengan cepat. Tapi kecepatan itu masih belum menyamai Pak Lorence. Tentu saja, level Pak Lorence salah satu yang tertinggi di desa, tak heran ia memilki kecepatan luar biasa.


"Lemaskan tubuhmu, jangan terlalu tegang."


.


"Peganganmu harus erat namun jangan terlalu kuat. Kalau tidak musuh bisa menjadikannya sebagai kelemahanmu."


.


"Kecepatan penting, jangan lupa kau ku harus memiliki kekuatan di setiap serangan."


.


"Kau pintar, menyerang bagian-bagian tubuh yang lemah. Tapi lawanmu juga pintar, mereka akan lebih mementingkan untuk melindungi bagian itu."


.


"Jangan lupa jaga keseimbanganmu saat menyerang."


.


Pak Lorence memberikan saran seiring berjalannya latih tanding. Rein mendengarkannya dengan seksama. Walau Pak Lorence hanyalah NPC, tapi kecerdasan buatannya menyamai kecerdasan pendekar pedang asli.


Rein mulai kelelahan. Ia tak mungkin memakai skill nya di saat latih tanding untuk mendapatkan skill lain.


"Sangat bagus. Untuk seorang yang bukan swordman resmi kau sangat bagus. Hanya saja kekuatanmu kurang. Kita akan mulai lagi nanti." Pak Lorence kembali masuk ke gedung pelatihan pedang.


"Baiklah." Rein kembali duduk dan menyandarkan diri di dinding luar gedung pelatihan pedang.


"Haah, sulit sekali. Untuk memeriksa statusnya aku juga perlu menyentuhnya. Ugh, rasanya aku kembai ke masa pertama kali belajar berpedang."


Rein menghela nafas panjang. Ia tak menyangka sesusah ini mendapatkan skill sword mastery.


Di dalam gedung, Pak Lorence sedang melihat-lihat pedang. Sampai seekor kucing muncul dari bayangan. Kucing yang sama dengan yang bersama Pak Hynra pada Chapter sebelumnya.


"Arvias? Kau datang lagi. Hei, kali ini apa alasanmu menghentikanku menyamakan diri dengannya? Dia masih level 5, aku sudah berlevel ratusan. Kekuatanku saat melawannya adalah level 30-an." Tanya Pak Lorence pada kucing itu.


"Ayolah, kita butuh sedikit bumbu tantangan. Kemampuan berpedangnya sangat tinggi, kau tak perlu menyamakan diri dengan kemampuannya. Sedikit lebih, buat ia melebihi kekuatannya yang sekarang."


Pak Lorence menghela nafasnya, "kau dan dia sangat mirip. Dulu saat kau belajar berpedang juga seperti itu. Hanya saja kakakmu yang mengatakannya, bukan kau."


Kucing itu tertawa, "haha."


Di luar, Rein merenungkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia memikirkan cara untuk memberikan satu serangan ke Pak Lorence.


"Hmm, levelnya jelas jauh, sangat jauh lebih tinggi dariku. Aku harus mencari momen yang tepat untuk melakukannya."


Dia berpikir sebentar. Terlintas dalam kepalanya sebuah ide. 'Astaga, aku lupa akan cara itu. Harusnya aku mengingatnya sebelum melakukan latih tanding.'


Rein kemudian melihat bar HP nya. 'Sudah hampir penuh, aku akan menunggu sampai penuh dulu.' ucapnya dalam hati. Rein lalu bersantai kembali. Ia tak sabar merealisasikan idenya.