
Pria manusia itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Nyonya, saya harap anda tidak akan menyesal."
"SSSSssss!"
Seekor ular kecil muncul dari saku itu. Dengan cepat ia menyerang Wanita bertudung merah.
"Bahaya!"
Tya dengan segera berlari menengahi kedua orang itu. Ular yang dilepaskan oleh pria manusia mengenai Tya. Menggigitnya dan membuat tubuh Tya terkena racun.
Panel hologram itu muncul di depan Tya. Dan dalam waktu 1 detik, ia kehilangan kesadaran. HP miliknya hanyalah 6000. Hanya 5 detik tersisa sebelum dia mati.
"Kau! Apa yang kau lakukan!" Nyonya itu langsung berteriak ke pria tadi.
" " Ucap wanita bertudung merah. Lalu dia mengekuarkan sebotol cairan dari jubahnya.
Tanaman merambat tumbuh di dekat pria manusia itu. Melilitnya dengan erat. Dan dalam waktu singkat, tubuh pria itu tertusuk-tusuk duri dari tanaman itu.
Wanita itu segera meminumkan cairan yang ada di dalam botol ke Tya. Dan menggunakan High Heal beberapa kali.
Panel itu muncul di depan Tya. Wanita itu segera berkata dengan marah. "Kau! Kalian orang Kerajaan Dexil memang tidak waras! Mau membunuhku dengan racun kecil ini? Hmph!" Wanita itu menyumpal mulut pria itu dengan bunga mawar yang mekar.
adalah salah satu Magic dari Magic Art Flora. Artinya dia adalah skill tingkat tinggi. MP yang terpakai dari skill ini maksimal 20k minimal 5k. Tanaman bunga mawar yang berduri akan tumbuh di sekitar target. Melilitnya dengan erat dan memasukkan racun dari duri-duri tajam yang ia miliki. Selain itu, akar dari tanaman ini dapat masuk dalam tubuh target melalui sela-sela kukunya dan menghisap daya hidup (HP) target. Lalu tumbuh sebagai parasit.
HP yang menurun setiap detik dari racun ini hanyalah 0.5/detik. Membuat sang target akan merasakan kematian yang cukup menyakitkan.
Wanita itu menggendong Tya. Walau HP nya sudah baik-baik saja, kesadaran Tya belum kembali. " " ucapnya. Membuat dua lapis Barrier Di sekitar pria yang tadi. Membuatnya tidak dapat ditolong lagi.
Wanita itu lalu melepas tutup tudungnya. Memperlihatkan wajah seorang wanita cantik berumur 20-an tahun. Berambut kuning keemasan dan telinga panjang. Dia masih menggendong Tya di belakang tubuhnya dan membawanya ke suatu tempat.
Orang-orang di desa yang melihat wanita itu menggendong seseorang langsung mengira kalau mereka adalah kakak-adik. Karena rambut mereka berwarna sama. Jadi mereka tak terlalu mempedulikan wanita bertudung merah itu.
Wanita itu menggendong Tya hingga sampai di suatu rumah sederhana. Dia langsung membuka kunci rumah itu dan masuk ke dalamnya. Dia menaruh tubuh Tya yang masih belum sadar di sofa rumah itu, lalu pergi mengambil air.
Tak lama setelah ia menaruh Tya di sofa, Tya dengan perlahan membuka matanya. Mengubah posisinya yang sedang berbaring menjadi duduk.
"Ehmh... Di mana ini? Apa yang terjadi?" Tya melihat sekelilingnya. Tempat itu sangat asing baginya.
Wanita bertudung merah itu datang membawa segelas air hangat. Terlihat bahwa air itu memiliki sedikit asap. "Oh? Kau sudah sadar."
Tya melihatnya. Dia langaung mengenali tudung merah yang wanita itu gunakan. "Anda... Nyonya yang di gang tadi?"
"Ya, benar. Minumlah dulu." Wanjta itu menyodorkan segelas air yang dia bawa.
"Ehm, apakah nyonya tidak apa-apa? Pria tadi menyerang nyonya dengan ular." Tanya Tya sedikit khawatir.
Wanita itu duduk di kursi yang ada di sebelah sofa. "Aku tidak apa-apa. Tapi, apa kau mendengar pembicaraanku tadi?"
Tya langsung terkejut dan sedikit ketakutan. Dia takut nyonya di depannya akan marah karena dia menguping. "... Iya... Saya minta maaf... Sungguh, saya minta maaf.. T-tolong ampuni saya. Saya tak sengaja mendengar suara, lalu langsung mengikuti arah asal suara itu tanpa sadar. Maafkan saya. Sekali lagi, maafkan saya. Saya tak beriniat menguping." Jawabnya agak gemetar.
Wanita itu tak nengucapkan apapun selama sedetik. Lalu dia tertawa kecil. "Hahaha, tidak apa-apa. Kau tak perlu ketakutan seperti itu. Aku tak akan melukaimu. Lagipula, kau sudah menyelamatkanku. Tapi, lain kali kau jangan dengan sembarangan menguping, ya?"
"Ehm, terimakasih sudah memaafkan saya. Saya tak akan mengulanginya lagi."
"Bagus! Kau anak yang baik. Kalau aku yang terkena racun itu, pastinya aku akan mati." Ucap wanita itu.
"Ah, ya. Terimakasih banyak sudah menolongku juga, nyonya." Ucap Tya.
"Tidak masalah! Kalau aku yang terkena racun, malah berbahaya karena racun itu membunuh dengan cepat dan membuat target kehilangan kemampuan bergerak saat racun masih di dalam tubuh. Untunglah aku membawa penawar racun itu tadi." Ucapnya dengan santai.
"Aah, jadi seperti itu..." Ucap Tya mengerti.
'Racun tadi mematikan sekali... Aku beruntung karena nyonya ini mau menolongku. Kalau tidak...' Tya menggigil memikirkan apa yang terjadi.
"Oh ya, siapa namamu? Namaku Asih Lestari. Panggil saja Kak Asih."
'Ai? Nama orang Indonesia? Mungkin namanya random.' pikir Tya saat mendengar nama Asih.
“Nama saya Tasya, nyo- kak.”
Yap, nama Tya dalam game adalah Tasya. Diambil dari kata pertama namanya, Anas-tasya.
“Oh, Tasya. Kau salah satu orang dari dunia lain itu, kan? Levelmu masih 0. Dan bajumu terlalu polos.” tanya Asih.
Tasya mengangguk. ‘Orang dari dunia lain’ yang Asih maksud pastinya para pemain.
“Heeh, kudengar orang-orang di dunia lain kaya. Sampai-sampai mereka bisa membeli Full Set Armour untuk belasan orang dari kota. Tapi sepertinya Tasya tidak seperti mereka, ya?”
Tasya tersenyum canggung. “Ha. Ha. Ha. Saya tak sekaya itu.” ucapnya. Lalu dia mengalihkan percakapannya. “Oh iya, Kak Asih, tadi orang itu menyebutkan Dungeon Darkness Dragon. Maaf kalau tidak sopan kak, tapi tempat seperti apa itu?"
"Dungeon Darkness Dragon ya... Dungeon besar yang 'Boss' nya Darkness Dragon. Salah satu dungeon yang dikabarkan memiliki Drop Item sangat tinggi. Seperti segunung diamond atau bahkan beberapa potong tulang naga." Jelas Asih.
Tasya yang mendengar hal itu menjadi bersemangat dan tertarik. "Wow! Dungeon yang luar biasa! Kenapa kakak tidak mau ikut dengan orang itu ke sana?"
Asih langsung saja berwajah tidak senang. "Hmph! Mereka terlalu pelit. Biasanya bayaran ke dungeon sebesar Dungeon Darkness Dragon mencapai 10.000 gold. Bukan seribu."
'10.000?! Kalau begitu... 10.000 × 50 dolar × 1.000 rupiah... 500.000 × 1000 \= 500.000.000 rupiah. Setengah milyar!' begitulah isi pikiran Tasya.
Tasya pun menanyakan beberapa hal lagi tentang dunia ini. Asih sama sekali tak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan Tasya. Dia menjelaskan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan pelan agar Tasya paham semuanya. Asih mengerti kalau orang dari dunia lain memiliki sangat sedikit pengetahuan tentang dunia mereka.
Setelah beberapa lama, Tasya melihat ke arah jendela rumah Asih. Langit yang tadinya biru muda telah menjadi biru gelap. Asih menyadarinya dan menyuruh Tasya untuk menginap di rumahnya. Katanya, rumahnya memiliki beberapa kamar kosong.
Tasya masuk ke salah satu kamar, lalu mengucapkan selamat malam kepada Asih. Kemudian dia log-out dari game.
---
Tya melepaskan Avera Gear-nya. Hari sudah menunjukkan gelap. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Perut Tya sudah sangat lapar.
"Ugh. Aku main lama juga. Haih, Kak Asih sangat baik dan sesuai namanya, dia memiliki aura kasih sayang yang lembut. Dia bahkan memberikanku makanan dalam game. Namun di dunia nyata aku tetap lapar."
Tya memesan makanan melalui Go-Robo. Lalu makan malam dan tertidur pulas. Esok harinya dia akan melanjutkan game Ainhra Online.
.
.
.
Padang rumput dimensi khusus Dungeon Snake.
Ryn disudutkan oleh ular besar yang mengejarnya. Perlahan dia berjalan mundur ke arah bebatuan.
"SSSSssss."
Ular besar dan itu juga secara perlahan mendekati Rein. Tidak menyerang Rein dengan membabi buta.
Rein bergumam sesuatu. "10 baru berwarna merah muncul di tangan Rein. Ia menyembunyikan tangannya di punggung.Jarak ular itu dengan Rein menipis. Rein diam bersandar di batu-batu yang ada. Bersiap melempar batu-batu tadi.Saat jarak diantara keduanya sudah menipis hingga 2 m. Ular itu menganga dan melata dengan cepat ke arah Rein."SSSSHHHAAAA!!"'Sekarang!' Rein melemparkan 3 Fire Stone(s) ke mulut ular itu." !!" Dia meneriakkan kata itu untuk mebgaktifkan Fire Stone yang ia lempar.3 batu itu mengeluarkan api. Ular besar yang tak siaga mengerang kesakitan."SSSSSSSSS!!!!"Rein mengambil kesempatan itu untuk lari dari ular itu. Dia lalu melempar lagi sisa Fire Stone yang ada ke tubuh ular yang masih kesakitan jarena mulutnya terbakar." " Dua batu itu mengenai bagian kanan ular.Rein berlalu memutar hingga ular itu membelakanginya. Dia melemparkan 3 batu lagi ke ular itu." "Ekor ular itu terbakar. Ular itu kembali mengerang kesakitan dan bergerak kesana-kemari untuk melepaskan hawa panas itu.Rein dengan segera berlalu ke sisi kiri ular. Dua ingin menggunakan 2 sisa Fire Stone lagi untuk sisi kirinya, lalu melakukan serabgab terakhir dengan pedang.Ular itu masih menggeliat dengan kuat. Rein yang masih tak jauh dari ekornya terhempas."Agh!"Dia terhempas hingga punggungnya mengenai batu. Membuat HPnya tersisa setengah."Hish. Rasakan sisa batu ini!"Dengan sisa HP dan Staminanya, Rein melempar 2 Fire Stone(s) Yang tersisa ke bagian kiri ular itu." " Ucapnya.Ular itu semakin menggeliat dengan kuat. Dia kesakitan karena batu-batu api yang dilemparkan ke semua sisi tubuhnya. Tak lama, ular itu kehilangan tenaganya.Rein mengambil kesempatan itu untuk menyerangnya dengan pedang. Dia membunuh ular itu dengan sekali tebasan di 'leher' ular itu.<*Critical! -789!>Panel hologram itu muncul di depan Rein. Rein sendiri napasnya masih memburu. Dia lalu berjalan ke arah bebatuan dan duduk di sana. Menstabilkan napasnya dan memulihkan staminanya.Rein menghela napas panjang. "Haah. Memang. Setidaknya aku mendapatkan racun dan seluruh tubuh ular ini. Cukup setimpal. Tapi kekuatannya tak masuk akal." Ucapnya. Dia telah selamat dari maut karena batu.
10 baru berwarna merah muncul di tangan Rein. Ia menyembunyikan tangannya di punggung.
Jarak ular itu dengan Rein menipis. Rein diam bersandar di batu-batu yang ada. Bersiap melempar batu-batu tadi.
Saat jarak diantara keduanya sudah menipis hingga 2 m. Ular itu menganga dan melata dengan cepat ke arah Rein.
"SSSSHHHAAAA!!"
'Sekarang!' Rein melemparkan 3 Fire Stone(s) ke mulut ular itu.
" !!" Dia meneriakkan kata itu untuk mebgaktifkan Fire Stone yang ia lempar.
3 batu itu mengeluarkan api. Ular besar yang tak siaga mengerang kesakitan.
"SSSSSSSSS!!!!"
Rein mengambil kesempatan itu untuk lari dari ular itu. Dia lalu melempar lagi sisa Fire Stone yang ada ke tubuh ular yang masih kesakitan jarena mulutnya terbakar.
" " Dua batu itu mengenai bagian kanan ular.
Rein berlalu memutar hingga ular itu membelakanginya. Dia melemparkan 3 batu lagi ke ular itu.
" "
Ekor ular itu terbakar. Ular itu kembali mengerang kesakitan dan bergerak kesana-kemari untuk melepaskan hawa panas itu.
Rein dengan segera berlalu ke sisi kiri ular. Dua ingin menggunakan 2 sisa Fire Stone lagi untuk sisi kirinya, lalu melakukan serabgab terakhir dengan pedang.
Ular itu masih menggeliat dengan kuat. Rein yang masih tak jauh dari ekornya terhempas.
"Agh!"
Dia terhempas hingga punggungnya mengenai batu. Membuat HPnya tersisa setengah.
"Hish. Rasakan sisa batu ini!"
Dengan sisa HP dan Staminanya, Rein melempar 2 Fire Stone(s) Yang tersisa ke bagian kiri ular itu.
" " Ucapnya.
Ular itu semakin menggeliat dengan kuat. Dia kesakitan karena batu-batu api yang dilemparkan ke semua sisi tubuhnya. Tak lama, ular itu kehilangan tenaganya.
Rein mengambil kesempatan itu untuk menyerangnya dengan pedang. Dia membunuh ular itu dengan sekali tebasan di 'leher' ular itu.
<*Critical! -789!>
Panel hologram itu muncul di depan Rein. Rein sendiri napasnya masih memburu. Dia lalu berjalan ke arah bebatuan dan duduk di sana. Menstabilkan napasnya dan memulihkan staminanya.
Rein menghela napas panjang. "Haah. Memang. Setidaknya aku mendapatkan racun dan seluruh tubuh ular ini. Cukup setimpal. Tapi kekuatannya tak masuk akal." Ucapnya. Dia telah selamat dari maut karena batu.