Ainhra Online

Ainhra Online
Snake Exterminator.... II? #2



Kekuatan Rein bertambah pesat. Dengan semua efek buff dari skill, title, senjata, serta pakaiannya, ia langsung melompat ke kepala ular-ular itu dan membunuhnya di tempat.





.


.


.





.


.


Sudah banyak Elemental Snake ia bunuh. Lebih dari 150 ekor. Namun ia tak kunjung mendapatkan Elemental Rune lagi.


Ryn turun dari kepala ular-ular itu. Ia berherak cepat dan tak terlihat sehingga ular-ular itu tak dapat mengikutinya.


Ia segera berlari ke dekat gua yang mengarah ke Rest Area. Di sana ia tak akan diserang oleh para ular. Rein mengatur napasnya sebentar.


Rein memeriksa statusnya. 'Bar HP ku 15%.... Tak masalah.' ucapnya dalam hari saat melihat bar HPnya.


Ia juga memeriksa status dari baju dan senjatanya.


'Durability Herlyn Sword sudah tinggal 200 saja. Sedangkan untuk Bunny Onesie masih aman-aman saja. Untunglah gigi Elemental Snake itu tumpul dan tidak memiliki taring.'


Ya, gigi Elemental Snake tumpul. Ia juga tak memiliki taring. Namun Elemental Snake dapat menyerang pemain dengan mengatur ketajaman udara di sekitar.


Rein mengambil Horn Rabbit's Meat dari Inventorynya dan langsung memakamnya tanpa memasak. Stamina dan HP nya langsung naik, walau tak terlalu drastis.


"Oke, aku akan melawanmu kembali! Ular warna-warni!" Ucapnya sambil berlari ke arah ular-ular itu lagi.


Elemental Snake yang tadinya tenang karena Rein pergi menjadi rusuh kembali. Mereka langsung 'berlari' ke arah Rein.


Rein menggunakan Skill Run and Jump nya kembali dan nenyerang Elemental Snake(s) itu.


---



Ini adalah Elemental Snake ke-198 yang Rein bunuh. Hanya tersisa 2 Elemental Snake lagi sebelum semuanya habis dibantai.


Efek Buff dari skillnya sangat membantu. Selain itu selagi bertarung ia juga memakan Horn Rabbit's Meat. Staminanya tetap terjaga dan HP nya berada di garis hijau


-1719



"Yang ke-200! !"




Elemental Snake yang terbunuh itu berubah kenjadi pacahan cahaya. Rein jatuh dan menadarat di tanah.



Pintu menuju Boss Area terbuka tiba-tiba.


"Apa?!"


Di depan pintu itu, sebuah siluet muncul. Perlahan, siluet itu mulai menunjukkan rupa aslinya.


Nama Monster : Giant Elemental Snake (18 m) (Boss Dungeon)


Level : 25


HP : 12500


ATK : 1250


Special Skill : Mastery of Elements (I-2)


"Mastery of Elements....? Sihir tingkat tinggi?!"


'Dungeon ini tak memberikan para pemain beristirahat ya?!'


Walau di dalam Dungeon terdapat Rest Area, tetap saja apa yang harus dihadapi sangat banyak.


"SSSSSsssss."


Ukar besar itu mendesis ke arah Rein. Secara perlahan ia mendekati Rein.


"SSss, masih level 10? Kau sangat percaya diri, Elf kecil." Telepati ular itu.


*Gulp* Rein meneguk ludahnya sendiri. Ukuran ular ini tidak main-main sama sekali. Bahkan lebih panjang dari Giant Anaconda yang pernah ia lawan.


Ular itu memiliki sisik berwarna putih dengan belang berwarna-warni. Matanya berwarna hitam. Dan di atas kepalanya terdapat tanduk kecil. Di antara tanduk itu terdapat sebuah batu berwarna-warni tertanam di atas kepalanya.


"Ssss, Elf kecil.... Kenapa kau datang ke sini semdirian?" Tanya sang ular.


"Eem, saya tidak memiliki party, Tuan Ular Raksasa."


"Begitu yassss, tapi bagaimana kau mengalahkan para bawahanku? Jumlah mereka 200 dan memiliki level yang sana denganmu sssss."


"Aku memiliki pedang ini dan beberapa skill pasif...."


"Sssss, bagitu ya sss, lalu pakaianmu itu?" Ucap sang Ular menahan tawa.


Rein baru teringat dengan pakaiannya. 'Memang pakaian ini.... Bahkan Ular itu menhan tawanya.'


"Ini adalah hadiah."


"Khssss, sssss, baiklah kalau begitu. Ayo kita mulai pertarungannya."


Ular itu memperbaiki posisinya. Batu berwarna-warni yang ada di atas kepalanya bersinar.


'?! Dia tidak main-main dengan serangan itu!'


Rein memeriksa bar HP nya yang masih 25%. Efek dari Over Limit miliknya masih ada. Sehingga ia masih memiliki kemungkinan menang.


"Baiklah kalau begitu, Tuan Ular Raksasa!"


Rein mengambil sebuah batu besar di tangan kirinya. Itu adalah Giant Flame Stone yang ia dapatkan setelah bertarung melawan Fire Snake.


Iapun melemparkan batu itu tepat di atas kepala sang ular.


"SSSSSSSS!!!!" Ular itu mendesis kesakitan.


Rein berlari ke belakang sang ular. "Tubuhmu besar dan tidak terlalu licin! Hal itu malah menuntungkanku!"


Ia berlari melalui tubuh ular itu dari ekornya sambil membawa pedangnya. Setelah itu ia langsung berdiri di atas kepalanya.


Ular itu sudah tidak mendesis kesakitan lagi. Iapun menggoyangkan kepalanya.


"Wo- woa!" Rein memegang erat tanduk sang ular raksasa.


Setelah ular itu diam sedikit, Rein mengarahkan pedangnya tepat di atas batu warna-warni yang menghiasi kepala sang ular.


*Zrash!


Ia langsung menusukkan pedangnya itu ke batu.


-5799


"KHIAAAAAAA." Teriakan melengking langsung terdengar.


"DASAR ELF KECIL SIALAN!"


"Maafkan aku Tuan Ular Raksasa, namun aku harus melakukannya! Atau kau akan membunuhku!"


"KHAA! THUNDER RAIN!"


Petir-pertir bermunculan dari atas area itu.


HP Pemain -1000


"Cih!"


-100


-100


-100


-100


-100


HP Sang Ular terus berkurang. Teriakan melengking dari sang Ular masih belum berhenti dan malah makin kuat.


Rein sampai kembali di dekat ekor dang ular. Sekarang di bagian belakang tubuh ular itu terdapat luka sayat yang panjangnya sama dengan panjang tubuhnya.


"SAND STORM!"


Ular itu menggerakkan ekornya. Sebuah lingkaran sihir muncul dan pasir yang ada di sana berterbangan kemana-mana.


Rein berusaha menutup matanya, namun pasir-pasir itu masih bisa masuk ke matanya. Ia memasukkan kembali pedangnya ke dalam Inventory/Storage nya.


Ia langsung pergi dari area ekor agar pasir-pasir itu tak mengenainya. Tanpa sepengetahuannya, Ular itu telah membentuk melingkar, mengelilingi Rein.


"?!"


Ular itu melilit Rein. Setelah pasir-pasir yang beterbangan itu mereda, Rein dapat melihat sang Ular tersenyum miring.


"Khhsssss, kau hebat juga Elf kecil!"


Rein berusaha melepaskan diri dari lilitan ular itu. Namun hanya tangan kanannya yang agak longgar.


"Hssss, percuma! Kau tidak akan bisa lepas! Hissss, aku mendapatkan santapan yang lezat hari ini."


Ular itu membuka mulutnya. 'Kesempatan!' Rein langsung mengekuarkan tangan kanannya dan mengeluarkan Giant Flame Stone dari storagenya, melemparnya tepat ke arah mulut ular itu.


"!"


Batu itu terbakar di dalam mulut sang Ular. Segera saja ular itu melonggarkan lilitannya. Mulutnya terbuka dengan asap karena Giant Flame Stone.


Hal ini memberi kesempatan untuk Rein. Ia langsung melompat keluar dari lilitan itu. Lalu langsung berlari menyerang kepala Sang Ular.


"! ..... !"


Selesai menggunakan Triple Slash dua kali, Ular Raksasa itu langsung berubah menjadi partikel cahaya.


Rein terjatuh dari tinggi 4 meter karena hal itu.












Ket : ATK +70% ke monster bertipe ular. STR +7 dan VIT +5 secara permanen. Monster bertipe ular yang bukan rekan/peliharaan pemain akan menjauhi pemain.


Panel-panel hologram itu muncul bersamaan dengan Rein jatuh.


*Duk!


"Aduh duh duh duh!"


Rein mengusap bokongnya yang sakit karena jauh dari ketinggian. Kemudian ia melihat panel hologram yang ada di depannya.


"Huah, banyak juga yang aku dapat. Bahkan SP ditambah 51! Karena aku terjebak di level 10 terus ya.


Yah, yang penting aku medapatkan Elemental Rune yang terakhir!"


Rein berdiri dari tempatnya. "Aduh!" Bolongnya masih terasa sakit.


Ia melihat pakaian atau onesienya. Onesie itu terlihat kusam dan kotor, namun efeknya tidak berkurang. Selama ia tak disentuh sesuatu yang tajam Onesie itu akan baik-baik saja.


"Walau bentuknya tidak cocok untuk pertarungan.... Ini item yang bagus. Aku harus mencucinya nanti." Ia teringat ada laundry di Desa Gres.


Rein memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. Lalu melepaskan Onesie itu. Kini penampilannya menjadi seperti novice biasa.


Rein berjalan kekuar dari area itu, kembali ke Rest Area.


Ia sampai di tempat penitipan peliharaan, Ghorns Pet. Aksha masih ada di sana.


"Selamat datang kembali tuan. Apa anda ingin mengambil kembali peliharaan anda?" Tanya sang pegawai toko.


"Ya, berapa biayanya?"


"Tuan telah pergi selama 1 jam 40 menit, biaya totalnya adalah 10 koin perak."


Rein mengambil sebuah kantung dari dalam Storagenya, lalu dia mengambil 10 koin perak dari kantung itu.


Aksha langsung menghampiri tuannya itu. Ia langsung melilit tangan kiri Rein.


"Ssss!"


"Aku hanya meninggalkanmu sebentar, namun kau menyambutku seperti ini?" Rein terkekeh melihat Aksha.


Iapun pergi keluar dari Dungeon Snake.


---


Gerbang Dungeon Snake


Rein telah sampai di gerbang. Aksha melihat pepohonan dengan antusias. Ya, ada berbagai macam pohon dan tanaman di sana. Aksha yang merupakan hewan herbivora pastinya ia akan tergoda.


"Sssh, tidak perlu seperti itu. Tunggu sampai di Desa, kau akan melihat sesuatu yang menarik!"


"SSss!"


"Sebelum itu, aku akan meningkatkan Statusku terlebih dahulu. Agar kita sampai lebih cepat."


Rein ingat ia masih ada 51 SP. Ia harus mengalokasikannya ke status.


Walau Stat AGI, STR, VIT, dan INT dihapus dari panel utama, semua itu masih ada di panel Detail Status.


Ia melakukannya dengan cepat. Selesai melakukan itu, ia langsung melompat ke dahan salah satu pohon.



"Aksha, pegangan yang erat." Aksha mengeratkan lilitannya dan menutup matanya.


Ia langsung melompat dari dahan ke dahan. Setelah Skill Run and Jump nya naik tingkat, ia semakin terbiasa melompat ke sana kemari. Walau ia kadang masih tidak stabil dan kecepatannya tidak terlalu tinggi.


*Hop!


Rein dan Aksha sampai di pinggir Hutan Agresia.


"Kita sudah sampai, Aksha." Ucap Rein agar Aksha membuka matanya dan melonggarkan lilitannya.


Aksha perlahan-lahan membuka matanya. Mata merahnya langsung bersinar melihat sebuah desa dan orang-orang di dalamnya.


"SS! SSSS!" Desis Aksha senang. Ia langsung turun dari tangan Rein.


Rein tersenyum melihatnya. Ia teringat dengan salah satu kemampuan Aksha.


Ia mencari Little Light Flower di sekitar. Setelah itu, ia msmberikannya pada Aksha yang masih melihat Desa Gres.


"Aksha, kau bisa berubah warna sesuai Elemen bukan?" Tanya Rein memastikan.


Aksha mengangguk.


"Kalau begitu makan ini, agar kau ta terlihat terlalu mencolok." Ucap Rein menyodorkan Little Light Flower.


Aksha memakannya tanpa ragu. Seketika kulitnya berubah menjadi putih mengkilap.


"Nah, kalau sudah ayo kita ke desa."


"SSS Ssss sss!"