Ainhra Online

Ainhra Online
Break Up



Rumah Sakit XXX, Jakarta Pusat, 02 November 20XX


'Ugh, di mana ini?' pikirnya.


Pemuda itu bangun dari posisinya yang sedang terbaring.


'Agh! Kenapa kepalaku sakit sekali? Eh, tunggu, di mana ini? Apakah ini di rumah sakit? Masuk akal, mengingat kejadian kemarin. Dan baju ini... Bukankah ini baju pasien? Selang infus? Sepertinya benar-benar di rumah sakit.' pikirnya, lalu menghela nafas.


Dia lalu menggaruk kepalanya, 'eh? Kupluk ku hilang? Artinya rambutku terlihat?!'


'Gawat, ini benar-benar gawat. Kalau orang tau rambutku putih seperti ini... Aku akan dibuang lagi.' gumamnya, badannya sedikit bergetar mengingat kejadian yang sangat lama.


Tok tok tok!


"Harusnya hari ini dia telah bangun-"


Terdapat 3 orang di situ, 2 orang dewasa dengan 1 anak kecil. Salah satu orang dewasa yang menggunakan seragam dokter berhenti bicara setelah melihat si pemuda.


"Lihat, dia sudah sadar." Si dokter bicara lagi.


'Apa ini? Siapa orang-orang ini? Anak kecil itu, ah, dia yang aku tolong kemarin. Sepertinya dia aman, syukurlah.' pikir pemuda itu saat melihat mereka.


"Ya, terimakasih atas bantuannya." Ucap orang dewasa yang satu lagi. Ia menggunakan sebuah kemeja hitam dengan celana putih. Anak kecil, laki-laki, yang ada di sebelahnya menggunakan seragam sekolah SD.


"Baiklah, ehm, nak Avaryn Jhonesson, benar?"


"... Benar."


'Seorang dokter, biasanya tak akan peduli dengan rupa sang pasien.'


Dokter itu melanjutkan perkataannya, "Kau adalah seorang berusia 21 tahun, seorang mahasiswa jurusan bisnis Di universitas X, tinggal di perumahan Y, blok F no. 1. Golongan Darah A, Apa kamu masih ingat?"


"Ya, saya masih ingat."


"Oke, kau sudah bisa bicara. Dan sepertinya ingatanmu baik-baik saja. Wah, tubuhmu sangat kuat untuk orang berusia 21 tahun."


"..."


"Nah, apakah kau bingung sekarang? Kau ada di mana atau kenapa kau ada di sini?"


"Tidak. Saya cukup yakin, saya sedang di rumah sakit, benar? Dan alasannya adalah truk kemarin."


"Hm, baguslah kau tidak panik. Aku akan menjelaskan kejadian saat itu dahulu. Oh, dan kau sudah dua pekan dirawat di sini. Saat kejadian itu kepalamu terbentur. Bagian belakang truk membuat kaki kirimu patah. Tapi tenang saja, kakimu akan sembuh dalam waktu sebulan lagi. Selain itu kau memiliki beberapa luka gores parah di lutut kanan dan kiri, siku kanan, kepala bagian belakang, tangan kiri, dan perut bagian kanan bawah. Jangan panik, semuanya akan sembuh total tanpa bekas dalam beberapa pekan dengan teknologi zaman sekarang."


Avaryn hanya diam saja menanggapi perkataan dokter itu. Sedangkan orang dewasa dengan kemeja hitam tadi agak gugup, karena ia takut kalau pemuda di depannya akan marah.


"Baiklah, bagaimana saya membayar tagihannya? Dilihat dari analisis anda, seharusnya anda tahu kondisi ekonomi saya." Ucap Avaryn.


Dia hanyalah seorang mahasiswa biasa yang sering kekurangan. Tentu saja ia tak mungkin sanggup membayar tagihan rumah sakit.


Orang dewasa berkemeja hitam itu terkejut mendengar jawaban pemuda itu, dan dia dengan segera berkata dengan menundukkan kepala, "tenang saja! Semua tagihan sudah dibayar! Kau tidak perlu membayar apapun! Dan daripada itu, aku sangat berterimakasih kepadamu. Kalau tak ada kau, pastinya anakku akan terluka. Aku benar-benar minta maaf."


Avaryn diam sejenak, lalu mengucapkan, "tuan, apakah tuan ayah dari anak ini? Kalau iya, harusnya tuan minta maaf kepadanya. Dia yang dalam bahaya pada saat itu." Dia mengelus kepala anak yang sedari tadi diam memperhatikannya.


Orang itu tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam, lalu tersenyum kepada pemuda di depannya. Dia sudah minta maaf kepada anaknya dari beberapa waktu yang lalu, dan hal itu berlangsung selama berhari-hari. Masalahnya anaknya mendesaknya untuk bertemu dengan pemuda yang menyelamatkannya.


"Nak, kau orang yang sangat baik. Bahkan mementingkan keselamatan anakku dibanding dengan keselamatan dirimu sendiri." Ucapnya.


"Saya sudah pernah kehilangan sebelumnya. Jadi saya harap orang lain tidak merasakan hal yang sama." Katanya sambil tersenyum.


Orang itu sedikit tersentak, ia tak menyangka pemuda di depannya seperti itu. Lalu ia tersenyum, "Avaryn, kan? Apakah tidak apa-apa kalau aku memanggilmu dengan Nak Ryn?"


Avaryn tersenyum, "tentu saja tuan. Lagipula, saya yang harusnya berterimakasih. Tanpa tuan, mungkin saya akan mati karena tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit."


"Oh iya, Ryn, saya lupa memperkenalkan diri saya. Nama saya Alden Aditya Pradhipta. Dan ini adalah anak ke-2 saya, Aljendra Fredelic Pradhipta."


Ryn yang mendengar hal itu terkejut. Siapapun yang mendengarnya pasti akan terkejut. Pasalnya "Pradhipta" adalah salah satu keluarga terpandang di Indonesia. Keluarga ini adalah keluarga Pemilik perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan bernama "Garuda Jaya". Dari pada perusahaan biasa, sepertinya lebih tepat disebut sebuah label. Mereka memiliki sangat banyak properti. Apartemen, Gedung Mall, Taman Bermain besar, Furniture, bahkan perangkat elektronik juga.


Ryn segera menundukkan kepalanya, "maafkan saya karena telah bertindak tidak sopan kepada tuan."


"Nak Ryn santai saja. Tidak perlu sungkan. Nak Ryn telah menyelamatkan anak saya, ini hanyalah hal kecil." Pak Alden berusaha membuat Ryn kembali duduk seperti biasa.


"Tapi pak, bukannya tagihan rumah sakit ini akan sangat mahal?"


"Tenang saja, ini sekali lagi hanyalah hal kecil jika dibandingkan dengan nyawa anakku."


"Kak Ryn! Terimakasih telah menyelamatkanku! Kak Ryn sangat keren saat itu." Jandra mebgatakan hal itu kepada Ryn.


Ryn yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa pasrah. 'Kenapa orang-orang kaya sedikit eksentrik?'


"Oh ya, nak Ryn mulai sekarang tidak tinggal di perumahan itu lagi. Mengingat perumahan itu akan segera digusur untuk menanam sebuah hutan hijau baru." Ucap pak Alden.


Ryn yang mendengar hal itu terkejut, lebih terkejut dibandingkan dengan saat ia mendengar keadaan tubuhnya pasca kecelakaan. Kulitnya menjadi pucat pasi.


Pak Alden yang melihat itu hanya terkekeh sedikit, sebelum mengatakan, "nak Ryn tidak usah khawatir. Nak Ryn akan tinggal di tempat baru. Sebuah apartemen milik perusahaan Garuda Jaya."


Ryn yang sudah merasa tak enak dengan tagihan rumah sakit kini malah merasa bebannya bertambah.


"Haha! Nak Ryn tidak usah mengatakan hal itu. Properti kecil seperti apartemen tidak ada artinya dengan nyawa anak saya. Apakah kau lupa kalau anak kedua saya adalah penerus perusahaan Garuda Jaya? Nyawanya lebih penting. Oh iya, tak perlu panggil saya "tuan" lagi, panggil saja saya Paman."


"Tapi tuan, apakah tuan tidak merasa aneh dengan rambut saya yang putih?"


Pak Alden tidak langsung menjawab, dia melihat Ryn dengan tatapan keheranan. "Aneh? Kenapa? Apakah rambutmu bermasalah?"


"Ehm, tidak, tuan-"


"Paman."


"Tidak, paman Alden."


Ryn hanya pasrah dengan kelakuan Pak Alden. 'Orang kaya biasanya sombong. Tapi Paman Alden tidak.'


Ryn melihat dokter yang tadi.


"Pak dokter, apakah saya masih perlu dirawat di sini?"


"Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, ya. Anda masih akan dirawat di sini sampai anda sembuh total."


"Haah, baiklah."


"Nak Ryn, sudah waktunya saya pulang. Kita akan segera bertemu lagi."


"Bye bye kakak!"


Ryn tersenyum, lalu melambaikan tangan kepada kedua orang itu. Ia juga tersenyum dan berterimakasih kepada dokter setelahnya, lalu dokter itu pergi.


Rumah Sakit XXX, Jakarta Pusat, 04 November 20XX


Sudah 2 hari setelah Avaryn sadar dari komanya. Jandra, anak pak Alden, selalu mengunjunginya selama dua hari ini. Sekedar bermain di kamar tempatnya dirawat atau bercerita tentang kesehariannya.


Hari ini, Jandra tak dapat datang. Katanya kakaknya sudah kembali dari Singapura, jadi dia tak dapat datang.


"Haah, membosankan sekali di sini."


Ryn melamun dan melihat ke luar jendela. Namun saat ia sedang melamun, pintu kamar rumah sakitnya di ketuk. Ia langsung menyembunyikan rambutnya dengan topi yang ia minta dari Paman Alden beberapa waktu yang lalu.


Tok tok tok!


"Ya, masuklah." Ucap Ryn.


Masuklah seorang wanita ke dalam ruangan. Ia mengenakan pakaian yang agak terbuka terutama di bagian dadanya. Ia juga menggunakan beberapa perhiasan mahal di tubuhnya.


"Salsa? Apakah itu kau?"


Ryn terkejut melihat perempuan itu. Dia adalah Salsa, pacarnya Avaryn, tapi semenjak beberapa waktu sebelum kecelakaan itu terjadi, Salsa tidak ada kabarnya. Mereka memang LDR, namun biasanya mereka selalu kontakan, baru sekali itulah Salsa tak ada kabar.


Lebih terkejutnya lagi penampilan Salsa yang berubah 180° dengan yang ia tau. Walaupun ia masih bisa mengenali wajahnya.


"Ya, ini aku, Jhon. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Avaryn langsung membeku, lalu memaksakan senyumnya. Ia tau akan ada hal seperti ini setelah Salsa tak bisa di kontak beberapa waktu lalu.


"Aku ingin kita putus."


"Baiklah, lakukan apa yang kau mau, Salsa." Ucapnya sambil tersenyum.


"Ck- kuharap kau tidak menyesal, Jhon." Lalu Salsa pergi begitu saja.


Ryn yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecut. Padahal, ia telah tulus mencintai Salsa, namun hal itu dibuang begitu saja.


"Pada akhirnya memang akan seperti ini ya..." Ucap Ryn melepaskan topinya.


Mereka awalnya bertemu dalam sebuah game. Ryn menolongnya saat ia disudutkan oleh beberapa monster. Lalu mereka berteman dan saling membantu dalam game. Hm, tidak juga, Ryn yang selalu membantunya.


Kemudian mereka saling mengenalkan diri masing-masing yang ada di Dunia nyata. Setelah mereka mengetahui kalau ternyata mereka satu dom (satu daerah tempat tinggal). Mereka berdua janjian untuk bertemu satu sama lain.


Mereka bertemu di suatu cafe. Betapa terkejutnya Salsa waktu itu dengan wajah Ryn. Ia jatuh cinta dengannya. Ryn, awalnya tidak mencintainya, namun ia tetap berpacaran dengan Salsa.


Kisah mereka berlanjut. Saat berpacaran memang rasanya dunia milik berdua. Ryn mulai nyaman dengan Salsa dan menyayanginya.


Awalnya, hubungan mereka baik-baik saja. Dan itu berlanjut sampai 2 bulan. Salsa harus pindah kota karena pekerjaan orang tuanya. Merekapun mulai LDR-an.


Saat LDR, mereka masih baik-baik saja. Vidcal hampir setiap hari. Tertawa. Sekali-kali Ryn juga mengunjungi Salsa.


Hubungan mereka yang sedang LDR berlanjut hingga 4 bulan. Dan pada akhirnya, Salsa menghilang kabarnya.


Sisanya seperti yang kalian tau. Mereka putus.


"Haah, harusnya aku tak menolongnya waktu itu." Gumam Ryn.


Dia melamun sesaat, melihat ke jendela, lalu berbaring dan tertidur dengan pulas.