Ainhra Online

Ainhra Online
Detail Cerita Bibi Mary



Ryn keluar dari lift bersama sang pelayan. "Di mana ruangannya?" Tanyanya. Ia ingin segera berbicara dengan Bibinya.


"Tinggal belok di sana, Tuan." Jawab sang pelayan.


Ryn mengangguk. Ia berjalan sampai di belokan itu.


Di sana, ia berpas-pasan dengan seorang perempuan. Mereka bertatapan selama sedetik.


'Sepertinya dia seorang nona muda dari keluarga kaya. Baju dan perhiasannya terlihat memiliki kualitas tinggi.' pikir Ryn. Namun ia terus berjalan menuju ruangan yang sudah dipesan Bibi Mary.


Ia sampai di ujung koridor. Di sana terdapat sebuah ruangan bertuliskan VVIP.


"Nyonya Mary memesan kami untuk membawamu ke ruangan ini, Tuan." Ucap sang pelayan.


'VVIP? Ah, karena ada jaminan ruangan kedap suara dan tidak ada CCTV di ruangan ini.'


Ryn masuk ke ruangan itu. Sebuah ruangan bernuansa biru putih. Dengan karpet warna biru dongker. Terdapat sebuah meja besar di sana dan juga sofa panjang.


"Ruangan yang bagus." Komentar Ryn. Lalu ia duduk di sofa.


Pelayan itu diam saja di depan pintu. Memang, biasanya di setiap ruangan VIP atau VVIP akan ada seorang pekayan di depan pintu.


Pelayan itu akan mengizinkan orang masuk setelah mendapat pesan dari sang resepsionis. Tentu saja, ada pengecualian untuk beberapa orang. Mereka tidak lerlu izin untuk masuk ke ruangan VIP.


Pemilihan orang-orang itu berdasarkan kedudukan, uang, dan kepribadian. Tentu saja seorang Mafia atau koruptor tidak akan mendapatkan hal ini.


Ryn mengechat Bibinya. Mengatakan kalau ia sudah berada di dalam ruangan.


.


.


.


*Bzzz bzzz


Ponsel Bibi Mary bergetar. Itu adalah pesan dari Ryn. Ia susah berada di ruangan VVIP.


Di saat yang bersamaan, hidangan utama sudah datang. Macam-macam seafood yang dimasak menggunakan bumbu pedas.


"Aku permisi dulu untuk 15 menit. Kalian makanlah terlebih dahulu." Ucap Bibi Mary.


"Heeeh? Kenapa? Padahal hidangan utamanya baru saja datang." Ucap Selena cemberut.


'Ugh.... Makanan seafood Indonesia memang menggiurkan. Tapi aku ada sesuatu yang lebih penting.'


"Maaf Selena. Tapi aku ada urusan mendadak."


"Huuu, baiklah. Tapi jangan terlalu lama ya! Kalau bisa kurang dari 15 menit!"


"Ya, baiklah."


Mary keluar dari ruangan itu. Ia langsung menuju ke ruang VVIP.


Di saat yang sama, Tya baru saja ingin masuk ke ruangan VIP 1.


'Huh? Kenapa nyonya Mary keluar ruangan? Dan lagi, dia tidak ke toilet, melainkan ruangan lain?' pikir Tya heran. Namun segera menyadari kalau itu bukan urusannya, dan mengingat kalau Bibi Mary adalah wanita berkedudukan penting.


'Mungkin ia ada urusan penting dan mendadak.'


Akhirnya Tya masuk ke dalam ruangan VIP 1.


"Oh! Tya! Kau datang tepat waktu! Hidangan utamanya sudah datang!" Ucap Paman Albert.


"Benarkah? Untunglah aku datang tepat waktu."


.


.


.


Akhirnya, orang yang ditunggu Ryn datang. Ya, Bibi Mary sudah masuk ke dalam ruangan.


"Pelayan, aku pesan secangkir Black Java Tea. Kau mau pesan apa Ryn?" Ucap Mary setelah duduk di ruangan itu.


"Aku air putih hangat saja." Jawab Ryn.


"Baik, pesanan anda akan segera disiapkan." Ucap sang pelayan. Lalu ia pergi dari depan ruangan itu.


Kini hanya Ryn dan Bibi Mary yang ada di dalam ruangan.


"Oke, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Sampai-sampai kau terlambat 45 menit ke sini. Ini tidak sepertimu yang biasanya."


"Banyak. Selain kejadian di jalanan aku dihadang oleh seorang tuan muda di sini. Namun bukan itu yang penting. Bibi, apa penyihir itu benar-benar ada?"


Bibi Mary terkejut. Memang Ryn mengatakan kalau hal yang ingin ia sampaikan berkaitan dengan perkataannya beberapa hari yang lalu. Namun ia tak menyangka Ryn terlibat langsung dengan hal itu.


Flashback, hari dimana Bibi Mary datang ke apartemen Ryn.


Setelah meminum beberapa teguk air dari Ryn, Mary mulai bercerita tentang sesuatu. "Gheegkh, kau mungkin tak percaya ini Ryn. Tapi....


Pada saat itu, aku baru pertama kali melihatnya. Lingkaran sihir yang asli di dunia nyata.


Namun sepertinya aku beruntung pada saat itu. Aku menemukan sebuah gua.


Karena takut kehujanan, aku langsung masuk ke dalamnya tanpa berpikir panjang. Tanpa memeriksa terlebuh dahulu.


Di dalam sana, aku merasakan ada bara api. Karena gua itu hangat, padahal keadaan di luar sedang hujan. Dan anehnya, tidak ada asap dari dalamnya.


Aku masuk ke dalam sana perlahan dan hati-hati. Juga mematikan speaker yang digunakan Albert untuk menghubungiku. Aku menghubungkan kamera itu ke TWS yang aku gunakan, menggantikan speaker.


Rasa hangat dari dalam gua semakin dekat. Aku terus berjalan ke dalam gua. Berpikir kalau ada orang di dalamnya.


Benar saja, aku melihat bayangan manusia di dalam. Karena aku tidak yakin sepenuhnya itu orang baik, aku makin berhati-hati.


Aku makin masuk ke dalam gua. Sungguh, aku hampir pingsan di sana. Aku tak bisa berkata apa-apa.


Di sana terdapat 4 orang. Sebenarnya 5 orang, tapi orang kelima itu sudah tidak bernyawa lagi. Semua orang itu, tidak termasuk yang sudah tidak bernyawa, menggunakan jubah hitam panjang dan topeng putih.


Empat orang lainnya mengelilingnya. Orang yang sudah tidak bernyawa itu, diletakkan di atas tanah. Di tanah itu digambar lingkaran sihir yang rumit. Di sekeliling mereka terdapat beberapa api yang menyala.


Mereka sedang merapalkan suatu mantra. Sepertinya aku datang tidak seberapa lama setelah mereka memulai 'ritual' itu. Mungkin saja, hujan yang turun adalah karena mereka.


Aku tidak bisa mendengar jelas mantra apa yang mereka rapalkan. Namun yang pasti, mantra itu sangat panjang.


Aku tidak membawa ponselku saat itu. Namun kamera yang ada di pundakku merekam semuanya.


Api-api biru mulai muncul di atas pinggir lingkaran sihir itu. Total ada enam api biru. Entahlah artinya apa.


Lingkaran sihir yang tergambar menggunakan kapur putih itu mulai menyala. Dimulai dari bagian lingaran luarnya hingga ke tengah. Awalnya warnanya putih, namun beberapa saat kemudian lingkaran sihir itu berubah menjadi merah darah.


Lingkaran sihir itu naik dari atas tanah. Sehingga mayat di atasnya juga ikut terangkat. Mayat itu berubah posisi menjadi berdiri, dan kepalanya mendongak ke atas.


Api-api biru itu mendekat ke mayat itu. 4 darinya di depan orang-orang yang merapalkan mantra. Satu lainnya di atas wajahnya yang mendongak. Dan satu lainnya terletak tepat di depan jantungnya.


Empat api biru yang ada di depan manusia berjubah bergerak. Api-api itu mengelilingi mayat yang melayang.


Orang-orang berjubah hitam itu menggerakkan tangannya ke tengah lingkaran sihir. Lingkaran sihir yang awalnya melayang di bawah mayat, kini terbagi empat. Dan masing-masing dari mereka di depan para perapal mantra.


Karena dibagi empat, lingkaran sihir itu menjadi kecil. Namun perlahan ia membesar. Empat api biru yang bergerak tadipun berhenti di tengah-tengah masing-masing lingkaran sihir.


Ke empat lingkaran sihir itu mulai berubah menjadi biru. Lingkaran-lingkaran sihir itupun menjerat mayat yang melayang tadi. Mengelilinginya seperti kepompong.


Api yang ada di atas kepala mayat dan di depan jantung mayat tetap di tempat. 'Kepompong' itu berwarna putih. Namun tak lama ia bersinar. Api yang ada di atas masuk ke dalam kepompong.


Sinar kepompong itu berubah menjadi merah. Lalu barulah api yang terakhir masuk ke dalam kepompong.


Sinar yang sangat terang muncul dari kepompong. Kepompong itu ternyata akan terbuka. Saat itu aku hanya bisa menutup mata. Sinarnya benar-benar terang.


Selang beberapa detik, sinar itu meredup. Lingkaran sihir yang ada di tanah kembali. Melayang di atasnya seorang pria yang terlihat seperti bayi baru lahir.


Pria-pria berjubah hitam tadi menarik tangannya kembali. Salah seorang dari mereka pergi. Ia mengambil sebuah jubah hitam dan topeng putih, yang sepertinya telah disiapkan untuk pria yang melayang itu.


Pria itu jatuh ke tanah. Perlahan matanya terbuka. Matanya berwarna hitam legam. Tidak seperti mata manusia. Di kepalanya juga tumbuh tanduk, namun hampir tak terlihat. Tanduk itu cukup kecil.


Para perapal mantra tadi memakaikan jubah hitam itu kepada sang pria. Kemudian mereka bersorak sorai. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.


Dengan pikiran kalau mereka akan pergi dari gua, aku berjalan pelan keluar. Dengan harapan mereka tidak menhadariku.


Bodohnya aku, aku tak sengaja menginjak batu kerikil dan membuat suara. Karena panik, aku segera lari.


Mereka sepertinya menyadari keberadaanku. Jadi aku dikejar oleh mereka.


Aku berhasil keluar dari gua dan masuk kembali me area hutan gunung itu. Aku melihat ke belakang, memeriksa apakah mereka masih mengejarku.


Tampak lima orang itu masih mengejarku. Jadi aku memperlaju lariku.


Karena sudah lelah, aku belok ke bagian kananku. Tempat jalan pendaki. Namun aku tidak langsung ke jalan itu, melainkan bersembunyi terlibih dajulu di balik pohon.


Aku menahan napasku. Berharap agar tidak ketahuan. Setelah 1 menit tidak ada pergerakan, aku menghembuskan napas dan memeriksa apakah aku masih dikejar. Untungnya tidak. Begitulah ceritanya."


Ryn menjatuhkan gelas yang dipegangnya. "Itu berarti.... Mereka penyihir? Di dunia nyata...."


Flashback end.


"Ya, berdasarkan pengalamanku mereka benar adanya. Ceritakan saja apa yang terjadi." Ucap Bibi Mary.


"Ugh, jadi...."


*Tok! Tok! Tok!


"Permisi pelanggan yang terhormat, pesanan anda sudah datang." Ucap pelayan dari kuar ruangan. Memotong pembicaraan Ryn.


"Ya, masuklah."


Pelayan itu masuk dan menghidangkan makanan, lalu membungkuk dan pergi.


"Lanjutkan ceritamu." Ucap Bibi Mary, lalu ia meminum tehnya.


"Ekhem, baik. Ceritanya...." Ryn menceritakan apa yang terjadi padanga secara detail. Bibi Mary mendengarkan penjelasan Ryn dengan seksama.


Setelah cerita Ryn berakhir, Bibi Mary menambahkan komentar. "Ia mengenalimu? Bahkan ia tau nama ayahmu? Sepertinya mereka sudah memeriksa latar belakangku. Hingga memutuskan untuk menyerangmu. Maaf sudah membuatmu terlibat dalam hal ini, Ryn. Aku tak menyangka mereka menganggap serius hal ini. Sampai ingin membunuhmu."


"Tidak apa-apa, Bibi. Malah akan bahaya kalau Bibi tidak menceritakannya. Saat itu aku juga sedang beruntung. Ada toko yang menjual pedang di pinggir jalan raya."