
Bar HP Rein sudah terisi penuh. Ia akan melakukan latih tanding lagi dengan Pak Lorence. Rein mengetuk pintu gedung pelatihan pedang.
Tok! Tok! Tok!
Pak Lorence di dalam sedang mengobrol dengan Arvias. Ia terkejut mendengar ketukan pintu.
"Arv, cepat kembali ke bayangan. Sepertinya Rein sudah selesai memulihkan HP nya." Ucap Pak Lorence pada Arvias.
Arvias mengangguk dan berubah menjadi bayangan dengan cepat. Tepat saat itu, Rein membuka pintu belakang gedung pelatihan pedang.
Ketika Rein masuk, Pak Lorence tersenyum canggung, "O-oh, Rein. Bar HP mu sudah penuh kembali?"
Rein memiringkan kepalanya dan menatap Pak Lorence dengan heran, "? Sudah pak." Jawabnya. Walau perilaku Pak Lorence agak aneh, tapi Rein merasa kalau itu bukan urusannya.
"Kalau begitu ayo latih tanding lagi."
Rein dan Pak Lorence pergi keluar lagi. Mereka kembali ke posisi dan bersiap latih tanding.
"Ayo, seranglah."
Rein menarik nafas dalam-dalam. Ia mengambil ancang-ancang dan maju menyerang Pak Lorence.
Ia menggenggam pedang kayunya dengan erat. Bertumpu pada kaki kanan dan melompat menyerang Pak Lorence.
Tentu saja Pak Lorence menyadarinya. Pak Lorence memegang pedangnya secara horizontal. Namun Rein tidak menyerang dengan pedangnya. Melainkan menarik pedangnya dan menginjak pedang kayu Pak Lorence, lalu melompat.
Pak Lorence terkejut dengan pergerakan Rein. Ia tak menyangka sama sekali Rein akan menginjak pedang kayunya. Di saat itu, Rein melompat ke belakang Pak Lorence, memutar badannya saat mendarat, bertumpu pada kakinya, langsung menggenggam pedangnya dengan erat dan menyerang Pak Lorence di punggungnya. Untungnya, Rein berhasil mengenai punggung Pak Lorence.
HP NPC 'Lorence' -1
'The Fu...? Hanya 1 poin???'
Walaupun ia berhasil menyerang Pak Lorence, Rein tidak merasakan kesenangan. Angka "-1" itu membuatnya menjadi terkejut sekaligus merasa lemah.
'-1... -1... -1... Hanya -1...'
Rein membeku. Seakan terkena 'stun' selama beberapa detik.
Pak Lorence yang sempat terkejut karena serangan Rein yang cukup aneh, sekarang sudah tersadar. 'Melakukan serangan seperti itu... Anak ini memang agak aneh.' pikirnya sambil tersenyum miring.
Pak Lorence lalu membalikkan badannya dan membetulkan posisinya. Ia tersadar kalau Rein hanya diam, tak bergerak, menatapnya.
"Re... Rein... Rein!! Rein, kau kenapa?" Ucapnya sambil mengguncangkan tubuh Rein, namun hal itu tidak berhasil membuat Rein bergerak kembali.
"Eh? Ah, tidak apa-apa, pak." Rein tersenyum canggung, tak mungkin dia bilang kalau dia terkejut karena HP Pak Lorence hanya -1 kan?
Pak Lorence bernapas lega, Rein tidak mati atau kena-stun. "Baguslah kalau kau benar-benar tidak apa-apa."
Rein masih tersenyum canggung, "ha..ha..."
"Yah, yang penting, kau lulus ujian."
<*Sword Mastery (B-1)> {NEW}
Jenis : Skill Pasif
Ket : ATK +5% setiap serangan menggunakan pedang dan ATK+1% setiap serangan menggunakan senjata tajam*.
Kini Rein tersenyum senang. "Yes!"
'Aah, syukurlah. Kalau begini setidaknya aku memiliki lebih tinggi kemungkinan menang dari Elemental Snake.' pikirnya.
Pak Lorence tersenyum tipis, "sekarang sudah jam 12. Kau bisa pergi makan siang sekarang. Oh ya, kalau ku mau datang untuk berlatih pedang lagi boleh."
Rein mengangguk, lalu memberi salam dan berjalan ke luar geudng pelatihan pedang (masuk dulu ke gedungnya, baru keluar). Ia berjalan ke sang kecil dan log-out di sana.
---
(Warning! Bagian ini isinya Ryn masak dan makan. Bila tidak terlalu suka bisa di skip hingga dia log-in lagi)
Ryn log-out dari game. Dia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Untuk mengambil beberapa bahan makanan.
Ryn mengambil 7 potong ayam, 3 bungkus tepung ayam goreng, dan 2 butir telur. Yap, kali ini Ryn ingin membuat ayam goreng.
Ryn mencuci tangannya dan langsung mulai memasak.
Pertama-tama, Ryn membersihkan potongan-potongan ayam itu. Lalu ia menaruhnya ke dalam wadah dan menyiapkan adonan tepung. Ryn membuka 2 bungkus tepung ayam goreng itu ke wadah dan menambahkan garam, lada hitam, dan penyedap rasa ayam (3 hal ini ia letakkan di atas meja dapur, sehingga tidak ia ambil di dalam kulkas). Lalu dia menyiapkan adonan basah (1 bungkus tepung+bumbu+air). Ia mengaduk kedua adonan ith hingga tercampur rata. Setelah itu Ryn mengambil sebuah mangkok dan memasukkan kedua telur ayam yang tadi. Ia mengocoknya dengan cepat.
Ryn mengambil sepotong ayam lalu memasukkannya ke adonan basah dengan tangan kiri. Kemudian melumuri potongan ayam itu dengan tepung. Lalu ia mencelupkannya ke mangkuk berisi telur dengan tangan kiri lagi. Kemudian memasukkannya lagi ke adonan tepung. Terakhir dia menaruhnya ke piring yang datar. Ia melakukan hal yang sama ke 6 potong ayam yang lainnya. Setelah selesai, ia mencuci tangannya.
Selagi menunggu tepung cukup basah dan tidak bertekstur 'tepung', Ryn mengambil panci berdiameter 17 cm dengan tinggi 5 cm. Ia menaruh panci itu ke atas kompor. Lalu mengambil minyak makan dan menuangkannya ke dalam panci hingga setinggi ±3-4cm. Ryn menghidupkan kompor dan menunggu minyak panas.
Setelah minyaknya panas, Ryn mengambil potongan ayam yang sudah dilumuri tepung. Ia menaruh 4 potong ayam dan menggorengnya. Setelah 4 potong ayam itu masak, dia menggoreng 3 potong lainnya. Akhirnya, jadilah 7 potong ayam goreng ala Ryn!
Sisa adonan tepung yang tadi, ia masukkan ke dalam kulkas. Sisa telurnya juga ia masukkan ke dalam kulkas. Ryn akan menggunakannya untuk memasak ayam goreng lagi nanti malam.
Ryn tersenyum senang dengan ayam goreng yang ia buat. Menurutnya ini lebih baik daripada membeli di restoran cepat saji. Ia tau komposisi tepatnya dan kebersihannya juga terjamin (setidaknya untuknya). Ryn memakan ayam goreng itu dengan sangat puas. Tanpa nasi? Ehm, ya... dia memakannya tanpa nasi, haha.
Setelah makan, Ryn langsung kembali ke perangkat Full Dive nya dan log-in lagi. Mengingat ia masih harus melawan Elemental snake Untuk menjadi seorang penyihir.
---
Cring! Lonceng yang ada di depan pintu berbunyi.
Rein masuk dengan santai. Pak Hynra saat itu sedang melihat lemari potion sambil memegang sebuah papan kayu yang ada kertas di atasnya. 'Mungkin dia sedang memeriksa stok.' pikir Rein saat melihat Pak Hynra.
Rein menunggu di dekat pintu sambil berdiri. Ia tak mau mengganggu Pak Hynra dengan pekerjaannya. Walaupun, ia juga pelanggan di toko Pak Hynra.
Setelah beberapa saat, barulah Pak Hynra selesai dengan pejerjaannya dan melihat Rein. "Hm? Kau sudah datang? Sejak kapan?" Tanyanya pada Rein.
"Belum lama." Jawab Rein singkat.
Pak Hynra meletakkan papan kayu yang ia pegang ke atas meja lalu lanjut berbicara dengan Rein. "Apakah kau sudah siap? Mengalahkan ular itu dan menjadi penyihir?"
Rein menjawab dengan mantap, "tentu saja!"
"Baiklah. Kalau begitu aku beritahu ciri-ciri monster itu.
Sebelum itu, aku harus jelaskan terlebih dahulu apa itu Elemental Rune. Elemental Rune adalah sebuah tanda sihir yang membuat seseorang dapat menggunakan kekuatan elemen. Elemen utama hanya ada 6, Api, Air, Udara, Tanah, Cahaya, dan Kegelapan. Dan hanya Elemen Utama yang bisa didapatkan dari Elemental Rune. Elemen lainnya (Elemen Campuran) hanya bisa didapatkan dari campuran elemen-elemen utama. Untuk elemen khusus seperti racun, didapatkan dari Elemental Rune juga sebenarnya, namun kemungkinannya hanya 1 : 10.000.
Elemental Snake, monter Yang menjatuhkan Elemental Rune, memiliki lanjang tubuh sekitar 5-10 meter dan kulit berwarna-warni. Semakin besar, semakin tua dan kuat Elemental Snake itu. Namun juga semakin tinggi pula persentase mendapat Elemental Rune.
Kau bisa menemukan Elemental Snake itu di daerah utara hutan Agresia. Sekitar 100-500 meter dari pinggir hutan. Di dalam Dungeon Snake." Ucap Pak Hynra panjang kali lebar kali tinggi.
Rein mendengarkannya dengan seksama. Dia tidak ingin ketinggalan satu informasipun. "Terimakasih atas informasinya Pak, saja akan segera pergi ke sana." Rein berjalan ke pintu toko, berniat keluar dan segera memburu ular-ular itu.
"Oh ya, sebenarnya, Elemental Rune barang yang mahal. Mengingat hanya 1 dari 30-50 Elemental Snake yang men-drop Elemental Rune. Semoga beruntung." Ucap Pak Hynra sebelum Rein pergi sepenuhnya dari tokonya.
"Baiklah! Terimakasih!" Jawab Rein.
"Hmm, dungeon. Baru kali ini aku mendengarnya di Ainhra. Sepertinya dungeon bukan fitur terbuka ya... Harus ditemukan atau diberi tahu." Gumamnya.
Tipe dungeon seperti ini sangat banyak di novel atau anime. Namun di dunia nyata, tipe dungeon seperti ini cukup jarang, bahkan di game MMORPG.
Memikirkan hal itu, Rein jadi agak heran. Kenapa MMORPG yang ada di novel berbeda dengan yang ada di dunia nyata? Aneh juga... Game MMORPG yang ada di dunia nyata hanya ada satu jalan cerita.
"Yah, mau bagaimana si author membuat novel atau developer membuat game, bukan urusanku juga."
Rein berjalan keluar dari desa. Ia menyapa para penjaga terlebih dahulu. Lalu berjalan memutar desa menuju arah Utara. Untungnya, Ainhra Online memiliki fitur kompas untuk memudahkan para pemain.
'Hanya fitur satu ini yang membuat game ini tidak sesusah mencari jarum di tumpukan jerami.' pikir Rein. Sungguh, game ini tingkat kesusahannya akan menjadi sangat-sangat tinggi kalau tidak ada kompas. Map Dungeon saja harus dibuat sendiri atau dibeli.
Rein berjalan ke arah Utara. Ia berjalan dengan santai, tidak terlalu terburu-buru. Dungeon itu tidak akan kemana-mana.
Sambil berjalan, Rein berjaga-jaga juga. Hutan Agresia tidak se'ramah' itu ke pemain. Benar saja, belum lama ia berjalan ke dalam hutan, ia sudah bertemu seekor Lone Wolf.
Nama Monster : Lone Wolf
Level : 5
HP : 600
ATK : 400
Monster itu hanya sendiri, sesuai namanya. Lone Wolf adalah sejenis Wolf yang tidak memiliki 'Pack' atau kumpulan. Mereka berburu sendiri, makan sendiri, berjalan sendiri, singkatnya, hidup sendiri. Monster yang malang sebenarnya.
Tapi seketika ia menyadari keberadaan Rein, ia langsung menyerangnya. Sayang sekali, Rein sudah lumayan sering membunuh serigala. Gerakan Lone Wolf itu tidak terasa cepat bagi Rein. Dengan satu tebasan pedangnya, Rein membunuh Lone Wolf itu.
"Maaf, tapi kau menyerangku lebih dulu."
Setelah mengatakan itu, Rein melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia menjumpai Lone Wolf dan beberapa monster kecil lainnya. Kalau monster itu tak menyerangnya, ia tak akan menyerangnya balik.
Rein masih terus berjalan. Rasanya, ia sudah berjalan sejauh 100 meter dari desa. Namun dia tak juga menemukan dungeon "Snake" itu.
Rein tetap berjalan lurus. Karena hutan itu cukup rindang, Rein tidak kepanasan. Namun semakin dalam ia berjalan, semakin rapat pepohonan di sana. Jika di dekat desa pepohonan itu berjarak 2 meter satu sama lain, maka di sini hanya ada setengah darinya, 1 meter. Sampai-sampai telinga Rein yang panjang terkena ranting-ranting pohon di sekitarnya.
"Pepohonan di sini cukup rapat, seharusnya tidak berbahaya melompat dari ranting ke ranting pohon. Saatnya bergerak seperti Elf pada umumnya." Ucapnya melihat pepohonan di sekitar, seingatnya, Elf hidup di hutan karena dapat melompat dari ranting ke ranting dengan mudah.
Ryn memanjat pohon yang ada di sebelahnya dan berdiri di rantingnya. Ia melompat dengan hati-hati ke pohon lainnya. Namun ia hampir terjatuh.
"Tidak mudah... Aku harus berusaha."
Rein masih melompat dari ranting itu ke ranting lainnya. Mengingat Dungeon itu sepetinya masih setengah kilometer lagi, ia melanjutkan perjalanannya dengan melompat walau belum lancar.
Setelah beberapa saat, Rein baru teringat kalau game yang menggunakan perangkat Full Dive terhubung ke pikiran. 'Apakah aku bisa membayangkan kalau tubuhku sangat ringan?'
Rein membayangkan kalau tubuhnya lebih ringan, setidaknya sama ringannya dengan tubuhnya di dunia nyata. Dan dia berhasil. Karena tubuhnya yang ada di Ainhra Online cukup berat entah kenapa. Namun untuk membuatnya lebih ringan dari beratnya di dunia nyata... Rein tidak bisa.
Yah, setidaknya berat tubuhnya berkurang. Kali ini dia dapat melompat dengan lebih mulus. Rein mencoba berkali-kali sampai lompatannya menjadi cukup mulus. Dia belum pernah terjatuh untuk sementara. Seakan-akan pohon-pohon itu membantunya agar kakinya tidak salah langkah.
"Pohon-pohon ini seperti membantuku... Terimakasih." Ucapnya. Karena game itu sangat realistis, Rein memperlakukan pohon itu selayaknya makhluk hidup, walau hanya AI.
Rein lanjut melompat dari ranting ke ranting. Walau belum lancar melompat, dia sampai di rawa-rawa. Di rawa-rawa itu terdapat sebuah lubang. Ya, lubang. Sarang ular biasanya di rawa bukan? Bedanya, lubang itu memiliki diameter lebih dari 2 meter. Selain itu, terdapat panel hologram tepat di atas lubang itu.
<*Dungeon Snake>
Kesulitan : D*
Rein sampai di Dungeon Snake itu.
P.S : Hai. Saya di sini hanya ingin memberi tahu kalau resep ayam goreng itu bukan buatan Ryn. Tapi bisa dibuat di dunia nyata. Dan rasanya cukup enak menurutku.
Tapi jangan sekali-kali memakannya tanpa nasi! Rasanya sangat asin kalau mengikuti resep yang ada di sini. Lebih baik tambahkan sedikit tepung terigu. Rasanya akan lebih enak dan tidak se-asin itu. Oh, dan takaran itu sebenarnya cukup untuk satu ekor ayam berukuran sedang, sepertinya.