
Hutan sekitar desa Gres, Kerajaan Atheya, Benua Kryna, Ainhra Online, 01 Januari 20XY pukul 12.30 WIB
HP Rein telah terisi penuh. Ia sudah cukup siap untuk berburu beberapa Horn Rabbit.
Rein berjalan lurus menuju hutan. Namun ia tidak pergi terlalu jauh.
"Hm? Di sini monsternya hanya kelinci biasa, slime, tupai kecil, apakah tidak ada Horn Rabbit satupun?"
Rein tidak menyerang para monster di sana. Karena dia tidak menemukan buruannya yaitu Horn Rabbit, dia berjalan menuju bagian hutan yang lebih dalam.
Rein beruntung. Ia langsung menemukan seekor Horn Rabbit setelah berjalan sedikit.
Nama Monster : Double Horn Rabbit
Level : 3
HP : 500
ATK : 300
Mov.SPD : 2m/detik
"Bukan Horn Rabbit tapi Double Horn Rabbit? Dan juga... masihkah makhluk ini tergolong kelinci? Apa-apaan Mov.SPD yang tinggi itu?!"
Double Horn Rabbit itu memiliki panjang 1 meter dengan besar kepala seperti bola sepak. Matanya merah dan rambutnya seperti kelinci pada umumnya. Di kepala Double Horn Rabbit itu terdapat 2 tanduk sepanjang 15 cm yang terlihat cukup tajam.
Awalnya Rein ingin pergi dari tempat Double Horn Rabbit itu. Tapi, telinga panjang kelinci itu bukan pajangan, Double Horn Rabbit menyadari keberadaan Rein. Dia langsung menyerang Rein. Rein berhasil menahan serangan dari kelinci itu.
HP pemain -300
"Ugh! VIT ku tidak tinggi tapi INT ku iya!"
Rein mendorong kelinci itu dengan sisa staminanya. Ia berlari ke samping kelinci itu dan berusaha memotong lehernya. Untungnya badan kelinci itu besar sehingga ia tak dapat menolak serangan Rein tepat waktu.
"Slash! Slash! Slash!"
-*278!
-196!
-123!
*EXP yang dibutuhkan untuk naik level : 25%
"Ah, tidak buruk sama sekali, tapi Quest ku tidak berjalan... Aku harus mencari Horn Rabbit sesegera mungkin."
Rein kembali berjalan di hutan. Ia masih di area luar jadi tidak mungkin ada monster berlevel 10 keatas di sini.
Setelah beberapa saat berjalan, Rein menjumpai sekelompok monster kelinci bertanduk. Benar saja, itu adalah Horn Rabbit yang ia cari. Namun ada 6 Horn Rabbit sekaligus di tempat itu dan ada 1 Double Horn Rabbit di tempat yang sama.
Nama Monster : Horn Rabbit
Level : 1
HP : 200
Mov.SPD : 0.5m/1 detik (1 lompatan 1 m terjadi selama 2 detik)
----
Nama Monster : Double Horn Rabbit
Level : 2
HP : 400
Mov.SPD : 1m/detik
"Huh? Double Horn Rabbit Ini lebih lemah dan lebih kecil dari yang sebelumnya... Sepertinya yang sebelumnya itu lebih tua. Walau jumlah mereka banyak, demi Skillbook sihir akan kulakukan."
Rein langsung menyerang 7 ekor kelinci itu dengan Slash dan serangan biasa. Ia menyerang dari samping kelinci itu sambil menghindari serangan kelinci lainnya.
-*298
-120
HP pemain -189
-176
-168
HP pemain -174
-389!
-132
HP pemain -145
-167
-178
.
.
.
.
"Masih ada syarat lagi? Game ini jauh lebih realistis dari yang aku kira... Selain dari EXP yang cukup kita harus meningkatkan pengalaman menyelesaikan Quest juga serta harus memiliki Skill yang cukup. Seharusnya itu yang dibutuhkan... Jadi aku harus melanjutkan membunuh beberapa Horn Rabbit lagi."
Rein berkeliling hutan sekali lagi. Setiap kali ia bertemu dengan Horn Rabbit Dan Double Horn Rabbit, dia pasti akan membunuhnya.
<*Horn Rabbit Terbunuh!>
.
.
.
MP -500
.
.
.
.
.
.
.
.
Efek : ATK +60 ke monster tipe kelinci. AGI +4 secara permanen*.
"Woah, berapa banyak yang sudah aku bunuh?" Gumam Rein melihat panel didepannya.
Ia lalu mengecek Dur pedang yang diberikan oleh Pak Hynra. Pedang itu sudah memiliki beberapa retakan di mata pedangnya.
Nama Benda : Iron Sword
DUR : 27
Ket : Pedang yang terbuat dari besi biasa dan ditempa dengan cara biasa.
Efek : ATK +5
Rein tersenyum kecut, 'apa yang akan aku bilang ke Pak Hynra tentang hal ini?'
Rein menyudahi perburuannya. Ia telah memburu lebih dari 10 Horn Rabbit. Ia harus melaporkan Quest nya.
Itu baru jumlah Tanduk Horn Rabbit. Belum jumlah Tanduk Double Horn Rabbit yang juga ia bunuh.
Rein ingin langsung menyerahkan quest nya. Untungnya Rein tidak buta arah sama sekali. Ia langsung menemukan gerbang desa Gres dengan mudah.
Penjaga desa yang melihatnya menyapanya, "oh? Kau sudah selesai?"
"Tentu, jika belum aku tak kan kembali dulu."
"Ahaha, kalau begitu masuklah. Orang itu pasti sudah menunggu."
Rein masuk ke desa Gres untuk kedua kalinya. Ia berjalan lurus menuju toko Potion dan Skill Book Pak Hynra.
Hanya saja ada sebuah keanehan di desa Gres. Tidak terlihat lagi para pemain di desa ini.
'Apa mereka sudah selesai bermain?' pikir Rein Saat melihat keadaan desa.
Namun Rein tidak terlalu memikirkannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju toko Potion Dan Skill Book Pak Hynra.
Tring! Bunyi lonceng yang ada di pintu toko.
Pak Hynra sedang menyusun potion, mendengar bunyi lonceng ia langsung menoleh ke arah pintu, "kau sudah kembali? Apakah kau menyerah dengan Quest... itu?"
Sebelum Pak Hynra menyelesaikan perkataannya, Rein mengeluarkan 10 tanduk Horn Rabbit.
"Kau... Haha! Untunglah aku memberimu quest itu."
Rein menyerahkan 10 Tanduk Horn Rabbit itu ke Pak Hynra.
"Ehm, pak, saya memburu terlalu banyak, alakah bapak tidak keberatan mengambil beberapa lagi?"
"Kau masih ada lagi? Tentu saja."
Rein menyerahkan 92 tanduk lagi kepada Pak Hynra. Ia masih menyimpan 10 tanduk di storage nya.
Pak Hynra agak terkejut, lalu ia melihat jam dan wajahnya kembali normal, "ah, kau berburu sampai 4 jam. Sekarang sudah jam 5 sore."
Kini Rein terkejut, 'aku berburu selama itu? Astaga... Sebarusnya aku berhenti setelah mendapatkan 10 tanduk saja.' Rein menepuk dahinya.
"Yah, karena kau sudah menyelesaikan Quest ku. Maka aku akan memberikanmu apa yang kau mau."
<*Quest Selesai!>
'Sudah kuduga, aku harus menyelesaikan quest terlebih dahulu.' pikir Rein.
Dia senang karena naik level, tapi ia tak lupa dengan pedang yang ia rusak, "Ehm, pak. Maaf kan aku... Tapi pedang yang bapak beri tadi... Sudah retak dan hampir patah.." ucap Rein, takutnya Pak Hynra marah kepadanya.
"Oh? Benarkah? Biar aku lihat pedang itu."
Rein, dengan gugup, menyerahkan pedang besi tadi kepada Pak Hynra.
Pak Hynra melihat pedang itu, dia tidak marah. Ia mengambilnya lalu mengatakan, "Anak muda, kau pastinya sangat berbakat dalam menggunakan pedang. Apakah kau tidak tertarik menjadi Swordman saja?" Tanya Pak Hynra, dia bisa tau hal itu dari gagang pedang yang sudah aus dan mata pedang yang sudah agak retak.
Rein menggelengkan kepalanya, "sudah lama aku ingin belajar sihir. Aku juga suka dengan pedang. Namun aku tetap ingin belajar sihir."
Tentu saja, ia tidak memilih Ras Elf tanpa alasan. Yah, dia bersyukur Pak Hynra tidak marah pedang itu ia rusak.
"Hmmm, baiklah, aku mengerti. Kau bisa mendapatkan Skill Book itu. Namun kau harus mendapatkan Elemental Rune untuk menjadi seorang penyihir." Ucap Pak Hynra.
"Kalau begitu, apakah di sini juga menjual Elemental Rune? Aku bersedia melakukan Quest lainnya kanlau aku bisa mendapatkannya.
"Sayang sekali nak, Elemental Rune yang terakhir sudah terjual habis beberapa waktu yang lalu." Ucap Pak Hynra sedikit menyesal.
Rein menghela nafasnya. 'Sepertinya memang sulit menjadi penyihir di sini...'
"Namun, nak. Kau tetap bisa mendapatkan Elemental Rune itu." Ucap Pak Hynra, hal itu memberi Rein secercah harapan.
"Bagaimana caranya, Pak?"
"Di hutan Agresia, hutan yang ada di sekitar desa ini, terdapat makhluk yang bernama Elemental Snake. Dari namanya saja, kau pastinya tau apa yang di-drop monster ini kan?"
"Elemental Rune!" Mata Rein berbinar.
"Benar, jika kau ingin mendapatkan Elemental Rune, kau harus mengalahkan makhluk ini. Namun..." Pak Hynra menghentikan penjelasannya.
"Namun.. kenapa Pak?"
"Makhluk itu memiliki level setidaknya 10. Kemampuanmu jauh dari cukup untuk menghadapi monster itu."
Rein berpikir sejenak, 'Jadi ini yang membuat para pemain meninggalkan desa... Mereka berpikir pasti tidak bisa mengalahkan monster itu dan memilih pergi ke kota atau desa lain untuk mendapatkan job. Orang-orang yang mampu membeli game ini hanyalah orang kaya dan orang yang beruntung.
Sepertinya mereka membeli uang dalam game dan pergi keluar desa. Mungkin saja Elemental Rune yang terakhir juga dibeli mereka.'
"Apa kau tetap mau menjadi penyihir?"
Rein, tanpa ragu-ragu, menjawab, "ya, tentu saja."
'Selain karena ras Elf ini tidak terlalu mainstream, aku suka dengan race skill khususnya dan mananya yang tinggi. Walaupun race skill khusus itu terbuka saat sudah level 20... Tetap saja mananya akan sia-sia kalau aku tak menjadi penyihir!'
Pak Hynra menghela nafas, namun setelah itu ia tersenyum, "kalau begitu, aku akan memberikanmu petunjuk-petunjuk untuk ke sana. Tapi hari sudah mulai gelap, lebih baik kau ke sini lagi besok."
Rein melihat jam di toko Pak Hynra. "Ternyata sudah jam 6 saja..." gumamnya. Ia lalu menoleh ke arah Pak Hryna lagi.
"Baiklah, saya akan datang ke sini lagi besok." Ucapnya, lalu berjalan menuju pintu dan langsung keluar.
Rein tak menyadari, saat ia keluar, suatu bayangan muncul di sisi Pak Hynra.
Bayangan itu lalu berubah menjadi seekor kucing putih bermata biru.
Hynra terkejut dengan keberadaan kucing itu, "Arvias? Bukankah kau seharusnya masih memulihkan kekuatanmu? Tolong jangan gegabah. Kekuatanmu masih belum pulih sepenuhnya."
"Tenang saja, Paman Hynra. Aku hanya ingin menghirup udara segar saja. Lagipula, anak itu, dia sangat mirip denganku."
"Dia? Aku kira Lorence bercanda saat mengatakan ia mirip denganmu. Bahkan dirimu sendiri mengatakan hal itu? Aku akui, kalian memang mirip. Tapi tak kusangka sampai dirimu sendiri mengatakannya."
"Kita lihat saja. Bagaimana ia mengatasi Elemental Snake itu."
Pak Hynra menghela nafas, "baiklah jika itu yang kau mau. Tapi kenapa kau memintaku berbohong tentang Elemental Rune itu?"
"Sshh, aku yakin dia bisa mengatasinya."
Pak Hynra hanya bisa pasrah mendengar jawaban Arvias.
Arvias lalu menghilang kembali menjadi bayangan. Pak Hynra pun menutup tokonya.